Penerjemah Sastra

Herie Purwanto
suaramerdeka.com

MUNGKIN sudah saatnya dibentuk lembaga penerjemah sastra. Ya, gagasan awal yang dilontarkan Sapadi Djoko Damono itu perlu ditindaklanjuti.

Mengapa? Dalam Jurnal Nasional (edisi 004/Februari 2007), Sapadi menyatakan prihatin karena banyak karya sastra Indonesia tak kalah bagus dari negara lain, khususnya Spanyol, Italia, Rusia, dan Swedia yang acap mendapat Nobel sastra. Pemerintah berbagai negara itu punya kemauan politik dan sangat peduli terhadap eksistensi sastra. Continue reading “Penerjemah Sastra”

Membidik Penghargaan Nobel

Priyo Suwarno
banjarmasinpost.co.id

BALI kembali menjadi ajang pertemuan internasional, sekelas Swiss, London, New York, Tokyo dan tempat-tempat penting yang paling disukai oleh tokoh internasional. Sejak Senin (4/8), sebuah ajang ilmiah bertajuk Asian Science Camp 2008 dilaksanakan di Sanur, menghadirkan lima peraih Nobel. Acara akbar ini diharapkan mampu menginspirasi 400 siswa berbagai negara yang hadir, sekaligus mendekatkan Asia dalam upaya meraih Nobel Dunia. Continue reading “Membidik Penghargaan Nobel”

Langkah Mbalelo Orhan Pamuk

Andi Dewanto
http://www.tempointeraktif.com/

Siapa menyangka jika keluarganya menginginkan ia menjadi seorang arsitek. Maka Orhan Pamuk pun terpaksa kuliah di Istanbul Technical University. Ternyata pria yang baru saja meraih Nobel Sastra 2006 ini hanya bertahan selama tiga tahun.

Selanjutnya ia malah bergelut dengan dunia tulis-menulis. Ia justru masuk Institute of Journalism di Universitas Istanbul pada 1976. Langkah mbalelo-nya ini yang kemudian menjadi awal sejarah dalam hidupnya. Continue reading “Langkah Mbalelo Orhan Pamuk”

Bahasa ยป