Geliat Penulisan Sastra dari Negeri Shohibul Kitab

Joni Lis Efendi
riaupos.com

Pembicaraan dalam esai ini tidak berniatkan semata untuk membuka nostalgia lama. Kembali ke masa 200 tahun silam, di saat-saat jayanya dinamika kesusastraan di ranah Melayu, terutama di pusat kerajaan Melayu, Pulau Penyengat.

Pulau Penyengat, yang hanya berupa pulau kecil yang kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang Barat Pulau Bintan, Kepulauan Riau, menyimpan tapak kegemilangan sastra Melayu. Continue reading “Geliat Penulisan Sastra dari Negeri Shohibul Kitab”

Tuhan yang Dijual

Danarto
http://majalah.tempointeraktif.com/

PARA jemaah haji atau umrah biasanya “balik bertanya” bila diminta menguraikan perihal situs yang terletak di tengah Masjidil Haram, tapi memang Ka’bah itulah yang paling didambakan. Jauh-jauh datang dari Tanah Air, bisa menetap sampai empat puluh hari di Mekah, hanya Ka’bah yang ingin dinikmati di Tanah Suci. Menunaikan ibadah haji atau umrah, Ka’bah adalah tujuan peribadatan. Kalau sudah melihat Ka’bah, cukuplah hati ini terpuaskan. Sedangkan untuk berziarah di tempat lain, nanti-nanti sajalah. Lalu Ka’bah itu apa? Terserah pendapat Anda. Continue reading “Tuhan yang Dijual”

Simbolisme: Studi Tokoh Atas Novel Rasa Mardika dan Hikayat Kadiroen

Agus Sulton

/1/
Berbicara masalah analisis simbolisme nama-nama tokoh dalam novel, memang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi novel-novel tersebut di awal abad ke-20, yang tentunya sudah banyak terjadi perubahan-perubahan secara ”sosio-kultural” dan teruntuk hal tersebut sudah pasti kita harus mencari bahan-bahan perbandingan maupun sumber-sumber yang dapat menjelaskannya. Continue reading “Simbolisme: Studi Tokoh Atas Novel Rasa Mardika dan Hikayat Kadiroen”

Memahami Jarak dan Aroma Ajal

Taufiq Ismail
GATRA, Edisi 30, 4 Juni 2004

HAMID Jabbar, 55 tahun, wafat ketika sedang baca puisi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), Ciputat, Sabtu malam, 23.00, 29 Mei 2004, di depan mahasiswa, dosen, dan tamu yang memadati aula dalam acara dies natalis perguruan tinggi itu. Dua larik puisi terbarunya itu dibaca dari layar Communicator 9210i, berbunyi: Walaupun Indonesia menangis/ mari kita tetap menyanyi// Continue reading “Memahami Jarak dan Aroma Ajal”

Bahasa »