Simbolisme: Studi Tokoh Atas Novel Rasa Mardika dan Hikayat Kadiroen

Agus Sulton

/1/
Berbicara masalah analisis simbolisme nama-nama tokoh dalam novel, memang bukanlah sesuatu yang gampang. Apalagi novel-novel tersebut di awal abad ke-20, yang tentunya sudah banyak terjadi perubahan-perubahan secara ”sosio-kultural” dan teruntuk hal tersebut sudah pasti kita harus mencari bahan-bahan perbandingan maupun sumber-sumber yang dapat menjelaskannya.

Dalam pada itu dasar dan esensi simbolisme dalam nama-nama tokoh novel Hikayat Kadiroen dan Rasa Mardika pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan dasar dan esensi simbolisme nama orang Jawa dan adat budaya Jawa.

/2/
Novel Rasa Mardika adalah novel ide sehingga unsur-unsur yang tampil dimuati atau menjadi alat untuk menjelaskan gagasan tertentu. Gagasan yang disampaikan dalam novel ini adalah faham internasionalime. Apa pengertian faham itu dan bagaimana faham itu diaplikasikan dapat kita ketahui dari apa yang diucapkan para tokoh dan dinarasikan pencerita. Agaknya nama para tokoh itu sendiri telah merujuk atau mewakili pengertian tertentu. Kromotjiloko merujuk golongan buruh, proletar, yang diperintah. Nama kromo dalam konteks masyarakat Jawa merujuk pada nama “orang kecil” yang tinggal di pedesaan. Kromo dapat dioposisikan dengan kusumo yang merujuk pada nama keturunan priyayi. Nama kromo juga membawa tautan pikiran orang ke petani yang tidak berpendidikan dan niraksara. Kata tjiloko artinya ‘celaka’. Jadi, Kromotjiloko adalah seorang petani, kaum tertindas, yang terusir dari desanya karena tanah yang menjadi sumber penghidupannya telah dirampas kaum bermodal untuk perkebunan tebu (Razif, 2005). Kromotjiloko jatuh miskin dan bergentayangan di kota (menjadi kuli) untuk menyambung hidup.

Kata sastro dalam pemahaman orang Jawa mengandung pengertian ‘pengetahuan’. Jadi, tokoh Sastro dalam novel ini mengacu ke pengetahuan. Ia atau mereka yang bernama Sastro—paling tidak menurut orang Jawa—adalah orang yang mampu baca-tulis sehingga berpengetahuan. Jadi, orang yang bernama Sastro idealnya terdidik, berpengetahuan, dan berpengalaman. Ia berada dalam lapisan tertentu yang jelas berbeda dengan yang menyandang nama Kromo. Seorang internasionalis harus memiliki pengetahuan (bersastra) yang memadai agar memahami masyarakat. Oleh karena itu, setelah bertemu dengan Sastro—yang identik memperoleh pengetahuan—Soedjanmo dapat memecahkan teka-teki yang mengganggu pikirannya. Teka-teki berkenaan dengan kemiskinan, ketimpangan, nasib buruk kaum kromo dapat terjelaskan berkat pengetahuan (sastra).

Nama Soedjanmo ternyata juga mengandung makna yang terkait dengan ide yang hendak disampaikan novel ini. Kata sujanmo terdiri dari akar kata su yang artinya ‘baik’ dan janmo yang artinya ‘manusia’. Pemilihan nama untuk tokoh utama novel ini agaknya menyiratkan maksud atau harapan agar pembaca meneladani tokoh Sudjanmo yang mempunyai sikap yang jelas: rela meninggalkan pekerjaan (calon pegawai negeri) demi perjuangan, demi membela kasta yang diperintah.

Satu tokoh lagi yang kiranya juga perlu dikupas adalah Soedarmo. Kata soedarmo dapat diuraikan menjadi su yang bermakna ‘baik’ dan darmo yang bermakna ‘perbuatan’. Jadi, Soedarmo adalah seorang tokoh yang bertugas memberi penerangan kepada mereka yang belum memahami faham internaionalisme (Edy Cahyono, 2003).

/3/
Hikayat Kadiroen adalah novel karya Semaoen diterbitkan tahun 1920 sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Sinar Hindia dan diterbitkan oleh kantor PKI Semarang. Di dalam nama-nama tokoh dalam novel Hikayat Kadiroen mengandung makna simbolis yang begitu dalam, seperti nama tokoh Kadiroen mempunyai arti terkenal atau baik. Pengarang mempunyai maksud tertentu dalam pemberian nama-nama pada tokoh ciptaannya. Nama tersebut melambangkan sifat dari tokohnya.

Ada lagi nama simbolis dalam tokoh novel Hikayat Kadiroen, yaitu Raden Koentjoro Noto Prodjo Ningrat. Raden sebutan bagi orang bangsawan; Pandji: Pangeran; Koentjoro: terkenal dimana-mana; Noto: mengatu; Prodjo: derajat, pangkat, terpandang; Ningrat: kaum bangsawan (Yulianeta, 2008). Dari namanya dapat diketahui bahwa tokoh ini adalah orang yang suka memerintah. Gelar kebangsawanan membawa tokoh ini kepada jenjang kepemimpinan. Sifat kesewenang-wenangan terhadap yang lebih rendah dipertentangkan dengan sifat menjilat pada atasan. Tokoh ini menjadi lambang golongan atas yang tidak mempunyai kemampuan memimpin.

Tokoh lainnya yaitu Soeket. Soeket atau rumput adalah jenis tumbuhan yang berada di bawah dan dapat diinjak-injak. Jadi nama Soeket dapat melambangkan manusia yang hidupnya selalu diinjak-injak.

Dari penjelasan di atas—tentang nama-nama simbolis dalam novel Hikayat Kadiroen dan Rasa Mardika mengandung tujuan tententu, yaitu pengarang ingin memasukkan sebuah ideologi komunis didalamnya. Setiap nama dalam tokoh novel tersebut mempunyai nama simbolis dan sesuai dengan peran masing-masing. Dengan ini nampak jelas bahwa kedua novel tersebut adalah novel ide atau gagasan yang mempunyai tujuan—memberikan proses pencerahan kepada kaum kromo akan nasib yang dialami selama hidupnya, yaitu ladangnya disewa secara paksa oleh pihak feodal dengan harga tidak seberapa.

Daftar Pustaka

Razif. 2005. Bacaab Liar Buadaya dan Politik Pada Zaman Pergerakan. (online)
http://members.fortunecity.com/edycahy/selectedworks/B-Liar1.html Diakses 10 Juli 2008.
Cahyono, Edy. 2003. Jaman Bergerak di Hindia Belanda. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.
Yulianeta. 2008. Konferensi Internasional Kesusastraan XIX/Hiski. Batu, 12-14 Agustus 2008.
Semaoen. 2000. Hikayat Kadiroen. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Soemantri. 1924. Rasa Mardika: Hikajat Soedjanmo. Semarang.

*) Tinggal dan berkarya di Ngoro, Jombang, Jawa Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *