Dari Surau Berbekal Akhlak

Ahmad Thohari
http://www.republika.co.id/

Selama 20 hari di Tanah Minang, saya bersama penyair D Zawawi Imron telah berziarah ke kampung tempat kelahiran orang-orang besar yang mencatatkan nama mereka dalam sejarah Indonesia. Saya menghirup udara dan mencoba menangkap pancaran semangat kampung H Agus Salim dan Sutan Sjahrir di Koto Gadang; kampung Bung Hatta di Bukit Tinggi; kampung Buya Hamka dan Nur St Iskandar di Sungai Batang, Maninjau; kampung M Natsir di Alahan Panjang, Solok; kampung Syeh Burhanuddin Ulakan, Pasaman; kampung Syeh Ibrahim Musa, Parabek; kampung Tan Malaka di Payakumbuh, sampai kampung Haji Miskin di Pande Sikek, Padang Panjang. Continue reading “Dari Surau Berbekal Akhlak”

Dusta di Tengah Gelimpangan Mayat

Ahmad Syafii Maarif
http://www.republika.co.id/

Ketika pesawat Israel membombardir sekolah milik PBB beberapa hari yang lalu dan membunuh puluhan manusia, sebuah dusta besar berulang-ulang disiarkan: sekolah itu tempat persembunyian pejuang Hamas. Yang benar adalah tak seorang pun pejuang itu berada di sana. Hampir semua media Barat menelan begitu saja dusta zionis ini dan menyiarkannya ke seluruh penjuru dunia. Tetapi, untunglah ada stasiun televisi Al-Jazeera yang membongkar dusta itu sehingga kejahatan perang Israel cepat diketahui umat manusia di berbagai negara. Continue reading “Dusta di Tengah Gelimpangan Mayat”

Hadiah bagi Gerilyawan Sastra

Anwar Siswadi
tempointeraktif.com

Penerbitan buku-buku sastra berbahasa daerah jumlahnya mengalami pasang-surut, paling tidak dalam 10 tahun terakhir. Tapi, Hadiah Sastra Rancage terus bergulir. Tak terasa, 22 tahun sudah penghargaan khusus itu diberikan bagi para penulis, pembuat lagu, juga budayawan daerah.

Inilah bentuk penghormatan dari sastrawan untuk sesama rekannya tatkala pemerintah tak melirik upaya gerilya mereka dalam mempertahankan pemakaian bahasa ibu. Continue reading “Hadiah bagi Gerilyawan Sastra”

TENTANG PRASANGKA

Hasnan Bachtiar *

Sore lalu aku melihatnya tertunduk lesu, lelah tak bersemangat menikmati jalan hidup dengan penuh tanya. Aku mencoba membaca simbol-simbol gelisah dari mimik muka muram yang berteduh dalam senja. Menafsirkan pergumulan menjelang malam yang abu-abu, memang menampakkan keraguan dan tanya tentang sesuatu. Aku berusaha menerjemahkan prasangka. Kuingat G?ethe melamun, Wie war?n wir verloren? Ohn? Lieb. Oh… aku betul-betul menyadarinya, bagaimana hidupku sungguh sia-sia? Tanpa cinta. Continue reading “TENTANG PRASANGKA”

Bahasa ยป