TENTANG PRASANGKA

Hasnan Bachtiar *

Sore lalu aku melihatnya tertunduk lesu, lelah tak bersemangat menikmati jalan hidup dengan penuh tanya. Aku mencoba membaca simbol-simbol gelisah dari mimik muka muram yang berteduh dalam senja. Menafsirkan pergumulan menjelang malam yang abu-abu, memang menampakkan keraguan dan tanya tentang sesuatu. Aku berusaha menerjemahkan prasangka. Kuingat G?ethe melamun, Wie war?n wir verloren? Ohn? Lieb. Oh… aku betul-betul menyadarinya, bagaimana hidupku sungguh sia-sia? Tanpa cinta.

Rupanya semuanya berawal dari pertemuan dengan seorang gadis tiga bulan yang lalu. Ia memang pendiam, tetapi bukan berarti seorang yang beku, tak mungkin luluh oleh belaian lembut air yang mengalir.

Aku iba melihat dirinya. Lalu kusuruh orang kepercayaanku untuk mengenalkannya pada gadis istimewa itu. Keajaiban terjadi, dan atas kuasa Tuhan, benda mati seketika itu menjadi hidup dan ruh pilihan telah mengisi jasadnya. Kun, Fayakun. Dengan kuasa-Nya, wahai sesuatu yang Kuharap terjadi, terjadilah, maka terjadilah ia. Mudah sekali bagi Allah untuk menciptakan kehendak-Nya. Sungguh, mustahil bagi manusia, tiada yang mustahil bagi-Nya.

Senyumnya begitu sumringah, sejuk, nampak sekali penuh harapan. Dan ia mulai berani berbicara.

?Aku Pernah Melihatnya, melihat gadis itu, di suatu tempat beberapa bulan yang lalu. Anggun. Apa mungkin ia, malaikat itu??

Abdiku menimpali, namun sebelumnya memang kuperingatkan agar sesantun mungkin melayaninya, sama sekali jangan sampai membikin batu yang mudah tersinggung menjadi retak. Ia bertutur;

?Iya aku tahu. Ia memang gadis pilihan untukmu. Aku ingin engkau bersamanya.?

– ?Namun baginda, aku hanya seorang pria yang terluka.?

?Tetapi ia penyembuh luka bagimu, pembatas segala gelisah, peredam semurka amarah.?

– ?Tidakkah pantas baginya orang yang lebih baik dari sekedar diriku, aku hanya seorang hina penuh dosa??

?Aku tahu, bahkan ia putri terhormat, ia terlalu istimewa bagi sekedar dirimu. Tenanglah, yakinlah seteguh imanmu, ia akan merangkulmu bak gunung yang menjaga keseimbangan pejuru semesta.?

– ?Aku ragu, bahkan aku tidak percaya siapapun baginda, lalu bagaimana mungkin aku hidup dengan makhluk yang tak mungkin kupercaya??

?Ia cerminan iman anakku, ia taat, ia patuh, ia malaikat bagimu. Yakinlah dengan segenap keyakinan.?

– ?Sepanjang hidupku hanyalah kegelapan dan aku terlahir sebagai durjana.?

?Tenanglah, ia berupa cahaya yang menerangi jalanmu, ia selalu menuntun langkahmu, lindungilah ia, maka ia akan melindungimu.?

Tepat saat mentari hampir memejamkan matanya, selimut hitam menyapu mesra bunga fajar dan azhan maghrib terlantun panjang semerdu rahasia ilahi yang hanya mampu terungkap oleh orang-orang shaleh. Sore itu, orang kepercayaanku menemui gadis itu;

?Ada yang ingin bertemu denganmu, wahai gadis suci.? Itulah yang ia katakan sembari memberi sebersit senyum penuh pesona bak madu emas yang manis tiada tara.

– ?Aku selalu terbuka bagi siapapun yang terhiasi dengan indahnya niat baik wahai saudariku.? Jawab santunnya.

?Ia ingin bertemu denganmu dan siap berpisah suatu saat.?

– ?Mengapa engkau menuliskan takdir yang kelam bagiku, baginya, bagi kita??

Ia menunduk seraya mengerutkan dahi, kedua alis hitamnya bertarung. Nampak hatinya bergejolak hebat dan jiwa-jiwa yang mengisi jasadnya berdebat sengit. Ia merenung lama, namun kemudian meneteslah air mata surga dari seorang hawa mulia.

?Tak ada pilihan lain bagi ruh pilihan Allah, engkau yang terpilih, hanya engkau malaikat bersayap yang mampu menerangi kegelapan malam, bersyukurlah atas segala tulis-Nya.?

Ia tertunduk luluh, kelam, namun gelisah sangat. Sejurus kemudian menegadahkan wajahnya ke langit dengan sorot mata jauh menerawang angkasa. Menembus angkasa, menerobos kemelut prasangka. Sepertinya ia berdoa, meminta belas kasihan dari Sang Penguasa Kehidupan. Matanya nanar, bening dan terbuka lebar. Lalu cahaya di wajah gadis itu semakin bersinar, membersit senyuman ilahi, sepertinya ia mendengar jawaban langsung dari Tuhan dan seraya berkata pelan;

– ?Aku akan menjalani hidupku, mewujudkan mimpiku dan dengan begitu, aku turut menuliskan takdirku, takdir kita berdua, antara aku dan dia.?

Orang suruhanku hanya menunduk sekali, simbol ikhlas menyetujui sesuatu.

Mereka saling memandang, jauh mendalami kehidupan masing-masing, larut dalam gaibnya batin, menembus lorong jiwa, menerobos kemelut ruh suci dan mengumandangkan sentuhan cinta walau tanpa bahasa. Tak ada apapun selain senyum satu sama lain, menunduk pasrah karena terbakar api asmara yang berkobar lebat dan terbuai dalam silang sengkarut pergumulan cinta yang rumit, tak kan mampu dinalar oleh para bijak sekalipun.

Hanya cahaya mereka berdua yang menerangi semesta raya. Cahaya yang menerangi segenap cahaya. Pintu surga terbuka dan menebarkan beribu aroma wangi hingga menembus tujuh selimut langit, memberkati bumi. Gelapnya mendung menjadi cerah, badai dan amukan petir mereda, tanah kering paceklik menuai kemakmuran karena terbelai mesra air kehidupan, dan segala gundah gulana, gelisah menjadi ketenangan, kebahagiaan dan rahmat.

Namun dua sisi kehidupan tetap harus ada. Baik dan buruk, dua sifat yang bertolak belakang, hampir selalu hadir dalam dimensi masing-masing. Meskipun seringkali larut dalam tata kosmos keseimbangan atas nama cinta.

Tiba-tiba malapetaka murka. Tiada daya dan upaya, hanya penyesalan, hitam dan kelam merangkul dalam harmoni sejati.

Bagiku, inilah asal mula persekutuan haram antara manusia dan malaikat, pertautan cinta terlarang sepanjang garis takdir Sang Ilahi. Manusia dengan wataknya yang pendosa dan malaikat yang harus selalu suci. Akan naif jika aku mempertukarkan kedua hal ini dan kemungkinan besar aku pasti salah, jika aku lebih berani menafsirkan simbol kodrati yang Tuhan berikan. Namun, jika aku berpengertian lain? Hasrat keingintahuanku akan sikap Tuhan terhadapku demikian menggebu. Akankah mempertukarkannya akan tetap mempertahankan harmoni kosmik?

Sore ini, aku masih memperhatikan wajahnya yang kelam penuh derita. Tak kunjung sembuh, seperti luka yang menganga merah, berbau amis dan terlalu parah. Mungkin tak akan terobati dan tak akan pernah terobati. Tapi itu hanyalah prasangka. Prasangka senja.

Aku duduk di rumah makan, menatapnya dari balik kaca bening berbentuk persegi panjang setinggi tembok dan memanjang. Rumah makan ini cukup bersih, nyaman, dengan menu bermacam-macam yang khas dan cukup ramai pengunjung. Mungkin karena harganya yang murah. Di ruang yang bingar ini, aku meniti sepi dan sendirian saja. Sembari melanjutkan lamunan, aku menikmati secangkir cappuccino.

Aku melihatnya duduk sambil berjongkok di emperan jalan, tepat di depan Unmuh kampus tiga dan bersandar di samping pohon besar yang rindang. Mukanya menunduk dan kedua tangannya merangkul kedua kakinya, meskipun sesekali menoleh tempat di mana aku duduk. Rambutnya tak tertata dan ia gemar menggaruknya walau tidak gatal. Mungkin ?rasa gatal yang lain? yang ia rasakan. Pakaiannya kaos lusuh berwarna hitam polos hampir kelabu, sama sekali nampak tak baru. Kedua kakinya terbalut celana jeans coklat yang kotor. Di alas kakinya melekat sepasang sendal jepit tipis dengan karet ungu yang hampir putus. Seluruh tubuhnya nampak dekil, berantakan, tak terurus.

Tempat di mana aku duduk, berselang satu meja kosong di depanku, aku melihat satu meja dengan empat kursi yang terisi penuh tiga orang lelaki dan seorang perempuan berkerudung putih yang rupawan, anggun dan mempesona. Sepertinya salah satu dari ketiga lelaki itu adalah kekasih perempuan itu, nampak dari sikapnya yang berbeda dari yang lainnya. Namun aku tak terlalu peduli dengan ketiganya, kecuali hanya satu hal saja, sorot mataku tak pernah lepas dari gerak mulut perempuan itu dan aku begitu teliti untuk memperhatikan setiap detail simbol petunjuknya.

Telingaku cukup terganggu dengan pembicaraan perempuan itu. Sepintas lalu aku mendengar ia berbicara tentang sahabatnya, sembari menoleh ke salah satu lelaki yang kupikir itu kekasihnya, lalu sesekali menatap ke lelaki yang sejak lama telah kuperhatikan. Lelaki yang duduk di emperan jalan dan bersandar di pohon besar, di seberang jalan.

Aku mendengar ia mengatakan, ?sahabatku, Maya.? Lalu dengan serpihan nada yang tersapu oleh angin kecil, betapa lembut, telah menggetarkan gendang pendengaranku. Ada hal yang menyentak pikiranku. Inilah alunan lagu prasangka. Simfoni nada prasangka teralun merdu sebagai cipta asa. Lalu dimensi batinku menemui persinggahannya.

Maya adalah sosok anggun dan mempesona. Parasnya manis, kulitnya sawo matang, perawakannya kecil dan tak terlalu tinggi. Pakaiannya selalu rapi dan terbalut kerudung yang tak terlalu lebar namun pantas dan pas. Tuturnya santun, nada wicaranya pelan, tata kalimatnya tertata, pilihan katanya sopan dan berbahasa baginya adalah berucap kebenaran sembari menebarkan senyum, ia selalu memberi kehidupan bagi lawan bicaranya.

Maya pernah bercerita sesuatu pada sahabatnya dan rupanya gadis cantik yang kutatap di seberang meja makan di dedapku adalah sahabatnya. Ia menceritakan sahabatnya yang lain, seorang lelaki, dan menurutku antara kedua sahabat tersebut tidak saling kenal, kecuali hanya Maya yang mengenal keduanya. Tetapi kemungkinan keduanya untuk bertemu, saling bertutur sapa dan saling mengenal itu ada, meskipun sebatas hanya bergumul dalam dinamika nalar dan menari dalam bentukan dunia imaji.

Ia melanjutkan cerita tentang derita sahabat Maya yang sungguh pilu. Tak ada jalan keluar kecuali kematian baginya. ?Ya, pemuda itu kini mati. Otaknya tak berfungsi lagi selain hanya gumaman yang sama setiap saat, diulang-ulang tanpa beralih pada varian yang lain. ?Aku cinta kau kekasihku, aku cinta kau kekasihku, tetapi Tuhan tak menghendakiku.? Hanya itu.?

Ku ingat sesuatu dari sepotong komentar itu. Kebenaran pada satu. Kebenaran mutlak pada hitungan yang sama. Seperti 1+1 dan hasilnya semua orang pasti tahu tanpa prediksi yang berarti, 2. Tiada yang mengingkari, tiada dusta di antara prasangka angka-angka. Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophicus… Prasangka ini, aku hanya ingin menyangkal ?kebenaran? yang utun dari angka-angka tidak hanya dalam angka-angka, namun manusia di balik angka itu. Si gila telah membabi-buta menghajar kebenaran itu dan menunjukkan simbol-simbol ke-gila-annya, mempermalukan kebenaran hitungan deret dengan hitungan deret yang bermakna dalam, ?luka dalam?.

Bolehlah gadis itu menyebut dengan, ?aku cinta kau kekasihku, aku cinta kau kekasihku, tetapi Tuhan tak menghendakiku,? sebagai satu simbol (sign) yang menari dalam deret hitung yang sama. Namun jangan lupa, ia si gila di pohon itu juga manusia! Ada deret yang tak dimengerti, bahkan si gila itu adalah si jenius yang sedang mengejek kebenaran mutlak rasio angka-angka.

Kusruput cappuccino yang sudah tak panas lagi. O o o… nalarku mulai tak terkendali, menari-nari dalam nafas suci. Tak perlu dibatasi. Kalauku capek pastilah terjatuh lagi.

Masih kutatap pria yang jongkok itu. Si gila, atau bukan aku yang mengatakan si gila, aku hanya korban yang termakan sajian lezat perempuan cantik di depan mejaku. Lalu ia nyerocos panjang lebar tentang sahabat dari sahabatnya yang telah gila karena putus cinta dan mengulang-ulang setiap kata sebagai bagian dari irama putus cinta. Namun ingatanku masih satu, Maya sahabatku.

Semakin runyam rupanya, atas buku-buku Wittgenstein yang telah kutelan dan kumuntahkan lagi. Aduh, parah. Aku sedang kacau, lalu kusruput habis cappuccino di mejaku.

Nafasku mulai terputus-putus, kepalaku sakit sekali, jantungku berdenyut kencang… Lelahnya aku. Aku ingin mengeja alam imajiku. Pria itu menari dalam nalarku, sedangkan perempuan cantik, memainkan biola sendu mengiringinya. Lalu si Maya sahabatku, menyanyi merdu mengikuti not-not lagu yang kutimang dalam kertas melodi. Sakit hatiku karena ulah gila kekasihku, tersebutlah orkrestra romantika.

O o o… aku terlalu jauh terlempar dalam belantara imaji…, aku sadar dan harmoni ini hanya tentang prasangka peminum kopi. Ah, kuingin beranjak dari meja ini, karena cappuccinoku telah habis.

__________________
*) Hasnan Bachtiar, peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM, Koordinator Studi Linguistik dan Semiotika di Center for Religious and Social Studies (R?SIST) Malang, Komite Advokasi dan Informasi Rakyat Malang sebagai peneliti, ketua Lembaga Studi Terranova Malang di bidang kajian posmodernisme, anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. http://kataitukata.wordpress.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*