KEGAGALAN PKI MEMBACA ANGROK

Nurel Javissyarqi

“Di mana tanah airku di lembah sunyi
di mana airmata darah pernah tergenang
sejengkal petak sawah, kini ruang peradaban
idealisme sikap otak ‘membajak’ bagai tengkulak.

Di mana dewi sri-ku, duhai pertiwi legenda yang usang
di mana bulanku pernah berpesan pada dayang-dayang
betapa rentang kini langit dan bumi, entahlah
bila masih tanganku sanggup menggapai” (Fajar Alayubi). Continue reading “KEGAGALAN PKI MEMBACA ANGROK”

REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Reformasi serupa sakit perut mual-mual, menyakitkan pengeluaran melegakan pembuangan. Detik-detik menjelang situasi genting mencekam merindingkan bulu revolusi. Sewaktu itu aku mengenyam hidup di Yogyakarta. Kota kebak intelektual tanpa tendensi popularitas, mungkin. Kebudayaan adiluhung berakar tahta kerajaan harum, walau perubahan menghimpit tradisi.

Seolah ramalan menumpahkan kesalahan pandang terungkap gamblang, hukum transparan di mata rakyat sampai kaum awam. Seakan tuhan mencerahkan anak-anak bangsa atas langit paling terang yang belum pernah sebelumnya, kesempatan gilang demi kembali kedaulatan. Menggunduli patriotik semu mengangkat kebersamaan. Continue reading “REFORMASI KE AMBANG REVOLUSI”

Runtuhnya Kekuatan Bahasa Ibu: Madura

M. Mushthafa
cetak.kompas.com

Bahasa ibu -atau yang secara populer, tetapi kurang tepat, disebut juga bahasa daerah- di Indonesia saat ini sedang terancam kepunahan. Globalisasi yang menyerbu melalui berbagai media telah meminggirkan khazanah budaya daerah, termasuk bahasa. Penutur bahasa daerah cenderung semakin sedikit.

Kekhawatiran semacam ini sebenarnya cukup berkembang di Tanah Air, seperti tercermin pada Kongres Kebudayaan Madura Maret 2007 di Sumenep, atau dalam Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang beberapa bulan sebelumnya. Continue reading “Runtuhnya Kekuatan Bahasa Ibu: Madura”

Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)

Taufiq Ismail *
gatra.com

KARYA Asrul Sani paling berkesan yang pertama kali saya baca adalah Anak Laut, 52 tahun silam. Ketika itu saya pelajar SMAN Bogor kelas satu, langganan setia perpustakaan Gedung Nasional di seberang Kebun Raya.

Empat baris awal puisi itu indahnya terasa seperti sihir kata-kata: Sekali ia pergi tiada bertopi/ Ke pantai landasan matahari/ Dan bermimpi tengah hari/ Akan negeri di jauhan. Impresi memukau lukisan alam puitik itu berlanjut hingga hari ini, seperti tak habis-habisnya. Continue reading “Puisi “Anak Laut” Asrul Sani (1927-2004)”

Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?

Ajip Rosidi *
newspaper.pikiran-rakyat.com

Ternyata ketika saya menulis tentang “Undang-Undang Kebahasaan” dalam ruangan ini yang memberikan komentar tentang isi rancangan undang-undangnya, Undang-Undang tentang Bahasa sudah disahkan pada 9 Juli 2009. Entah mengapa saya tidak membaca beritanya dalam surat kabar meskipun saya berlangganan tiga macam surat kabar. Apakah tidak dianggap penting sehingga tidak ada surat kabar yang memberitakannya? Atau saya yang cileureun sehingga tidak menemukan berita itu. Baru kemarin saya mendapat kopi “Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan” dan dimuat dalam Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 109. Continue reading “Sastra dan Bahasa Ibu, di Mana Kau?”

Bahasa ยป