Pentingnya Metafor

Catatan pendek penghantar diskusi being community

Bernando J. Sujibto *

“metaphor intrinsically transcendental.”
Frase di atas saya temukan dari buku History and Tropology: The Rise and Fall of Metaphor karya Ankersmit, F. R. Kalimat ini semakin menambah kurang paham saya ketika metafor dibaca dalam perspektif filsafat -seperti teman-teman Being mau- lengkap dengan sejarah, tokoh dan cabang ranah pemikirannya. Sejauh ini, sebagai penulis dan penyuka sastra (puisi), saya memperlakukan metafor sebagai alat untuk membebaskan dan menghadirkan imajinasi dalam puisi-puisi saya. Soal perspektif filsafatnya, biar Being nanti membingkainya dan teman-teman sendiri yang bertanggung jawab mempersoalkannya. Continue reading “Pentingnya Metafor”

BERTEMU SHINTA FEBRIANY

Budhi Setyawan
budhisetyawan.wordpress.com

Kalau tidak salah pada tahun 2007 (tanggal dan bulannya lupa) saya jalan ke sebuah toko buku kecil di daerah Sumurbatu, Jakarta Pusat. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku puisi berjudul AKU BUKAN MASA DEPAN karya Shinta Febriany, yang diterbitkan oleh Bentang Budaya. Penyair ini masih begitu muda, namun tulisan-tulisannya telah menarik kekaguman saya. Memang ada semacam pengantar dari Afrizal Malna di buku itu, namun bukan dari situ saya memulai membaca. Kebiasaan saya membaca buku dari belakang seperti menemukan sesuatu yang mengalir, meski berkelok dan berliku. Continue reading “BERTEMU SHINTA FEBRIANY”

Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?

I Nyoman Tingkat

Beranda

Perhimpunan sastrawan Bali tampaknya mendesak direalisasikan karena memang penting dan perlu. Penting untuk menjaga gawang budaya Bali yang sudah banyak kemasukan bola nyasar lewat tembakan spekulasi jarak jauh “pemain asing”. Perlu untuk semakin mengairahkan semangat berapresiasi dalam rangka memperhalus budi dan mencerdaskan atau mencerahkan masyarakat Bali. Namun, menghimpun sastrawan Bali dalam satu wadah, mungkinkah? Continue reading “Menghimpun Sastrawan Bali, Mungkinkah?”

Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali

Putu Fajar Arcana
kompas.com

SAMPAI kini mungkin tak banyak yang tahu kalau penulis lagu daerah Bali berjudul Merah Putih bernama I Gde Dharna (69). Padahal hampir setiap anak Bali yang pernah mencicipi sekolahan pasti bisa menyanyikannya. Lagu yang dimaksudkan untuk membangkitkan heroisme para pejuang pada tahun 50-an itu, hingga kini sering ditembangkan dalam pementasan kesenian tradisi di Bali. Para anak muda juga suka mengumandangkan lagu itu di pos-pos keamanan lingkungan. Lagu ini secara resmi pernah diajarkan di sekolah-sekolah di Bali. Continue reading “Gde Dharna, Kenekatan Sastra Bali”

Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis

Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

Pameran besar seni rupa Prancis terkini digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Mereka menggambar dan membuat instalasi dengan menggunakan berbagai bahan remeh-temeh.

Di dinding, sebuah kalimat tertera: “Nggak ada matinya.” Mendekatlah dan lihatlah huruf-huruf itu. Ternyata dibentuk dari puntung-puntung rokok berbagai merek. Continue reading “Bahan Remeh-temeh dalam Pameran Seni Rupa Perancis”

Bahasa ยป