Wajah-wajah Karat ala Teguh

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia–dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini.

Patung-patung itu semuanya disusun dari aneka potongan rongsokan baja dan besi karatan. Tema pameran berbicara tentang deformasi wajah. Sekali lihat, pada mulanya, kita susah menangkap adanya bentuk paras atau raut muka. Continue reading “Wajah-wajah Karat ala Teguh”

Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?

Dari Ceramah Temu Sastrawan se-Bali 2003

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Bali saat ini sepertinya masih enggan atau kurang berminat untuk dihimpun dalam sebuah komunitas, perkumpulan, atau organisasi sastrawan. Selain karena rata-rata sastrawan (seniman) tersebut tidak mau dan juga “sulit diatur”, juga masih ada “trauma” melihat pengalaman atau sejarah masa lalu. Dulu, pernah bermunculan organisasi atau perhimpunan seniman di Indonesia yang akhirnya justru menjebak seniman pada kegiatan-kegiatan di luar dunia kreativitas kesenian — seperti politik praktis dan faham-golongan — yang terbukti kemudian “membunuh” masa depan kesenian dan seniman, bahkan memicu perpecahan. Continue reading “Sastrawan Bali Enggan Dihimpun?”

Nasib Sastra Lisan Dikalahkan Biduan

Muhamad Nasir
http://www.sinarharapan.co.id/

?Alangke lemak nasib biduan, kalu nyanyi dapat saweran. Alangke sedih nasib senjang, kalu manggung katek yang nyawer,? (Alangkah bagus nasib biduan kalau bernyanyi dapat saweran (uang). Alangkah menyedihkan nasib pembawa sendang, kalau manggung tidak ada yang nyawer).

Demikian gambaran nasib pembawa sastra tutur (lisan) tergambar dalam salah satu bait sendang (sastra tutur, cerita yang dibawakan dengan bernyanyi dalam bahasa daerah) yang disampaikan Majenuh dari Sekayu, Musi Banyuasin (Muba) dalam Festival Sastra Tutur Pesirah (FSTP) di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Palembang, Sabtu (22/5). Continue reading “Nasib Sastra Lisan Dikalahkan Biduan”

Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor

Seno Joko Suyono, Ibnu Rusydi
http://www.tempointeraktif.com/

“…Apa yang paling dalam yang tersembunyi dalam jiwa, tak mungkin bisa dipikirkan. Menurut pendapatku, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam jiwa itulah yang bisa dianggap ‘diri’ manusia yang sebenarnya….” (Nashar, Surat keenam belas, 1974)

Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Continue reading “Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor”

Tubuh-tubuh Pipih Sang Penebus

Seno Joko Suyono
http://www.tempointeraktif.com/

Patung itu menggambarkan Santo Petrus. Materinya perunggu. Tingginya 175 sentimeter. Proporsi tubuh Santo Petrus dibuat memanjang, termasuk wajahnya. Bila kita lihat dagunya, lebih sekilan tangan. Mata Santo Petrus antara meram dan menatap ke bawah. Tangan kirinya mengapit sebuah kitab dengan sampul muka tanda salib. Sementara itu, tangan kanannya memegang sebuah kunci raksasa dengan tiga anak kunci yang dipanggul di pundaknya. Continue reading “Tubuh-tubuh Pipih Sang Penebus”

Bahasa ยป