Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik

Orasi mengenang Sutan Sjahrir, 8 April 2006, TIM, Jakarta
Ignas Kleden

Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller. Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein— yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Menurut pengakuannya, kalimat-kalimat yang indah itu dikutipnya dari luar kepala, jadi kita dapat menduga petikan tersebut sangat disukainya dan besar artinya buat hidupnya. Continue reading “Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik”

Dunia Tanpa Jendela

Akhmad Fatoni
konsultanmenulis.blogspot.co.id

Bayangkan bagaimana hidup tanpa buku? Ketika saya membayangkan tiba-tiba bayangan itu teramat menyeramkan. Iya, amat menyeramkan. Bagaimana tidak, bayangan tentang tak ada sejarah, tak ada sekolah, tak ada perpustakaan, tak ada puisi, tak ada cerpen, tak ada novel, tak ada kamus, dan tentu tak ada toko buku, juga pastinya tidak ada kupu-kupu lucu (promosi tidak apalah sedikit, kupu-kupu lucu atawa KKL adalah toko buku dan penerbit indie yang saya kelolah, hehehe). Continue reading “Dunia Tanpa Jendela”

Catatan Perjalanan ke Jogja: Untuk Tuban yang Kurang Akrab Terhadap Literasi

Zubaidi Khan *
tubanliterasi.com 15 Sep 2017

Jambore Mojok —sebuah kegiatan yang diadakan oleh Mojok.co beberapa waktu lalu— itulah yang menjadi alasan utama saya pergi ke Jogja. Adapun kegiatan-kegiatan lain yang saya lakukan diluar Jambore Mojok, merupakan bonus. Namun meskipun begitu, bonus juga tak kalah seru dengan misi utama saya. Mengapa demikian? Karena masih berada di Jogja. Bagi saya, sejauh ini, semua kegiatan itu belum familiar di Tuban. Maksud saya tentu tentang dunia literasi, seputar tulis menulis. Continue reading “Catatan Perjalanan ke Jogja: Untuk Tuban yang Kurang Akrab Terhadap Literasi”

AMBISI KRITIKUS MENCARI YANG BARU

Hamzah Muhammad

Pengantar

Dalam peta kritik sastra Indonesia modern, Dami N. Toda digolongkan ke dalam kritikus yang menulis kritik sastra terapan dengan pendekatan metode ilmiah taraf pertama. Menurut Rachmat Djoko Pradopo (2002: 363), periode ini berkisar antara 1976 sampai 1988. Sepanjang periode ini, mayoritas kritik sastra berasal dari penelitian ilmiah yang berwujud skripsi tingkat kesarjanaan. Di antara kritikus semasanya, Dami adalah salah satu kritikus yang tekun dan tak berjarak dengan pusat sastra.1 Continue reading “AMBISI KRITIKUS MENCARI YANG BARU”

Bahasa »