Zubaidi Khan *
tubanliterasi.com 15 Sep 2017

Jambore Mojok —sebuah kegiatan yang diadakan oleh Mojok.co beberapa waktu lalu— itulah yang menjadi alasan utama saya pergi ke Jogja. Adapun kegiatan-kegiatan lain yang saya lakukan diluar Jambore Mojok, merupakan bonus. Namun meskipun begitu, bonus juga tak kalah seru dengan misi utama saya. Mengapa demikian? Karena masih berada di Jogja. Bagi saya, sejauh ini, semua kegiatan itu belum familiar di Tuban. Maksud saya tentu tentang dunia literasi, seputar tulis menulis.

Di Jogja, saya tidak sendirian. Anda perlu tahu bahwa di Jogja juga ada sekumpulan putera puteri Tuban yang sedang menempuh pendidikan. Mereka bergabung membentuk satu komunitas agar tetap kompak dan solid walaupun di tanah rantau. Komunitas yang mereka bentuk menandakan bahwa kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran, kecintaan mereka terhadap Tuban tidak pernah hilang. Atmosfer seperti itu tidak hanya di Jogja. Di kota-kota lain juga banyak putera puteri Tuban sedang menempuh pendidikan dan mendirikan komunitas yang serupa. Maka, mereka perlu diapresiasi. Agar bersemangat dalam belajar. Agar sekembali mereka ke Tuban, tenaga dan pikiran mereka bisa disumbangkan untuk membangun Tuban lebih makmur. Mereka —generasi Tuban yang sedang menempuh pendidikan, baik yang berada di Tuban maupun yang berada di luar Tuban— adalah aset asli daerah. Sungguh sayang sekali jika hal itu tidak menjadi perhatian oleh para pemangku kebijakan Tuban. Sungguh sayang sekali jika hal itu terabaikan.

Perjalanan saya ke Jogja hanya berlangsung beberapa hari. Pada tiga hari pertama, saya mengikuti Jambore Mojok. Kegiatan yang mempertemukan para penulis dan pembaca tulisan di Mojok. Ratusan peserta berasal dari berbagai daerah dan berbagai pulau. Tiga hari membincang literasi. Saya begitu kagum. Sebab, saya tidak menyangka bisa bertemu dengan penulis-penulis hebat. Bertemu dengan pejuang-pejuang literasi kaliber nasional. Mereka berbagi banyak ilmu dan cerita. Kita semua saling berbagi cerita mengenai geliat literasi dimasing-masing daerah. Lagi-lagi, ini saya jumpai di Jogja. Tidak di Tuban. Kota yang dulunya mempunyai banyak tokoh-tokoh penulis. Setelah beliau wafat, lambat laun karya-karyanya pun ikut lenyap entah kemana. Karya-karyanya tak bisa dibaca oleh anak cucu, termasuk generasi sekarang. Jika ada, hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Semoga dengan kelahiran komunitas-komunitas literasi di Tuban sekarang ini menjadi awal yang baik.

Setelah Jambore Mojok selesai, saya tidak langsung pulang ke Tuban. Saya menghabiskan beberapa hari lagi untuk berlama-lama di Jogja. Beberapa aktifitas saya kerjakan disana, seperti; mengunjungi teman-teman Tuban yang tinggal di Jogja, bertamu ke beberapa komunitas literasi, berguru kepada penulis-penulis Jogja yang kebetulan tidak sengaja bertemu di warung kopi, berkunjung ke pondok pesantren. Kegiatan terakhir inilah —berkunjung ke pondok pesantren— yang memikat hati saya. Sebuah pondok pesantren yang mempunyai konsep menarik dalam pembelajarannya. Menarik sekali dan saya pastikan di Tuban belum ada pondok pesantren model seperti itu. Pondok pesantren yang gratis penuh dan seluruh santrinya wajib membaca buku dan menulis. Pondok pesantren yang dalam tiga bulan pertama, seorang santri masih boleh menerima kiriman bekal ataupun uang saku dari orang tuanya. Setelah memasuki bulan keempat dan seterusnya, orang tua santri sudah tidak boleh memberi kiriman dalam bentuk apapun. Para santri harus mulai mencari bekal untuk dirinya sendiri. Tentu, kegiatan membaca dan menulis juga masih menjadi kewajiban mereka selama mondok disana. Menarik, bukan? Bagaimana jika pondok pesantren seperti itu ada di Tuban? Gak kebayang, betapa asyiknya kota Tuban. Setidaknya, asyik menurut saya.

Ada banyak orang yang sangat berjasa dalam perjalanan saya ke Jogja. Salah satunya adalah Mbah Takrib, seorang teman yang mempertemukan saya dengan banyak pegiat literasi Jogja. Dari teman, saya berkenalan dengan teman baru. Dari teman baru, saya mendapatkan pengalaman baru. Dari pengalaman baru, saya jadi tau bahwa saya ini orang bodoh. Dari siklus itu, tumbuh semangat untuk lebih banyak belajar lagi dan lagi. Niscaya, pengalaman dan semangat itu yang saya bawa pulang ke Tuban. Dengan harapan pengalaman dan semangat itu tumbuh di Tuban.Tumbuh dimana-mana, tumbuh dari timbunan debu, dari timbunan batu kapur, tumbuh dari kubangan minyak. Barangkali, pengalaman dan semangat besar Tan Malaka dari keliling dunia itulah yang dibawa pulang ke Indonesia. Dengan harapan pula, semua itu bisa tumbuh dan berkembang di Indonesia. Barangkali saja memang seperti itu atau hal itu hanya bualan saya saja.

Mbah Takrib mengajarkan saya bahwa di dunia yang semakin kacau ini, masih ada nilai kehidupan yang mulia. Nilai-nilai itu yang menjadi tunas-tunas keberlangsungan hidup di masa mendatang. Seperti halnya Tuban —kondisi alamnya yang semakin rusak, kehidupan sosialnya yang tidak seimbang— pun masih ada nilai-nilai mulia tersembunyi di dalamnya. Nilai-nilai itu yang menjadi semangat generasi selanjutnya untuk membangun peradaban di Tuban. Namun, semua itu tidak cukup hanya dilakukan dengan duduk bersila sambil memejamkan mata dan menggoyang-goyangkan tubuh ke kiri ke kanan. Tidak cukup hanya dengan itu. Butuh strategi, butuh upaya, butuh kerja keras, bahkan bercucuran keringat. Tidak cukup satu dua orang, namun seluruh lapisan masyarakat. Mungkinkah semua itu? Hanya Tuhan yang tau.

Lalu, dimulai dari mana? Dimulai dari membaca. Melek literasi. Menumbuhkan budaya membaca sejak sekarang. Sebab, proses itu yang nantinya akan menghidupkan kembali ruh pengetahuan. Selanjutnya, dialektika dan dinamika pengetahuan akan mewarnai sudut-sudut kota Tuban.

Saya termasuk orang yang malas membaca, bukan kutu buku. Tukang membual. Berbekal pengalaman dari Jogja ditambah dengan semangat itulah, saya berkeyakinan bahwa Tuban akan mampu bersaing dengan derah lain dalam bidang pengetahuan. Tuban akan mampu menjadi kota literasi. Peraturan pemerintah tentang pajak perbukuan yang mencekik itu tidak akan menghalangi Tuban dalam mewujudkan budaya membaca pada setiap generasi. Saya yakin bahwa Tuban bisa melampaui itu.

Salah satu sahabat saya pernah memberi semangat kepada saya mengenai budaya literasi di Tuban. Katanya, “Tuban bukan Jogja, Tuban bukan Malang dan Tuban juga bukan Surabaya. Akan tetapi suasana di Jogja, di Malang dan di Surabaya akan bisa kita wujudkan di Tuban.” Demikian katanya. Salam literasi!

*) Zubaidi Khan, Pegiat Gerakan Tuban Menulis
http://www.tubanliterasi.com/artikel/catatan-perjalanan-ke-jogja-untuk-tuban-yang-kurang-akrab-terhadap-literasi/

Categories: Canting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*