Bulan Kertas

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 121

Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.

Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku” Continue reading “Bulan Kertas”

Saya di Mata Sebagian Orang

Djenar Maesa Ayu

Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian lagi menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan!

Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak pernah merasa murahan! Continue reading “Saya di Mata Sebagian Orang”

Ahasveros

Dody Kristianto
Bangka Pos, 20 Mar 2011

ADIK, kau tahu jika langkah kakiku ini kian berat. Terasa ada bandul yang mengikat dan memberatinya. Pandanganku juga semakin buram, menatap kota-kota yang kulalui. Kota-kota itu adik, terus membuatku merasa serupa orang yang mengejar halusinasi. Ya, halusinasi. Aku benar merasa sendiri di tengah kota ramai itu. Adik, jika kau mendengarnya, aku meminta kau segera menanggalkan sayapmu itu. Continue reading “Ahasveros”

Fortifikasi Keheningan

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

AKU memasuki sebuah lorong panjang. Sebuah lorong yang menjadi semacam pembatas antara masa lalu dan masa depan.

Kulangkahkan kaki bersama segenap ingatanku akan kehidupan yang berjalan ke belakang. Aku baru menyadari, ternyata usia memiliki kaki yang bergerak mundur, menghitung waktu untuk terjatuh ke dalam sebuah jurang tanpa harus melihat. Dan lebih baik aku melangkah ke depan, tentu aku sudah lupa sejak kapan aku terjebak di sini. Continue reading “Fortifikasi Keheningan”

Ompung dan Si Pematung

Martin Aleida

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya. Continue reading “Ompung dan Si Pematung”

Bahasa »