Fortifikasi Keheningan

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

AKU memasuki sebuah lorong panjang. Sebuah lorong yang menjadi semacam pembatas antara masa lalu dan masa depan.

Kulangkahkan kaki bersama segenap ingatanku akan kehidupan yang berjalan ke belakang. Aku baru menyadari, ternyata usia memiliki kaki yang bergerak mundur, menghitung waktu untuk terjatuh ke dalam sebuah jurang tanpa harus melihat. Dan lebih baik aku melangkah ke depan, tentu aku sudah lupa sejak kapan aku terjebak di sini. Disekat dua dinding gelap yang bahkan tak bisa kulihat permukaannya. Seperti terowongan, tapi aku merasa tak ada pembatas antara aku dan langit. Udara dingin menyerangku dari arah depan, belakang, dan atas. Lalu aku terkepung, mabuk oleh peristiwa-peristiwa purba yang entah mengapa hadir kembali saat itu juga. Aku merasakan detik-detik hidup yang paling berharga, jatuh dan jatuh, tak bisa kukendalikan. Aku tak bisa mengendalikan apa pun kecuali beberapa gerakan tubuh yang memang harus kulakukan. Aku melangkah ke depan, bernapas, mendengarkan detak jantungku sendiri. Sungguh, hidup terasa hanya kiasan, dan kesunyian adalah kenyataan di sini, nyaris hampa, tak ada apa-apa, tanpa semesta, tanpa cakrawala. Tetapi sudah kukatakan, ini adalah sebuah lorong, di mana pada suatu saat akan memiliki ujung, mungkin ada cahaya yang membentang di sana, sehingga anggap saja aku sedang menelusuri sebuah goa, menelusuri batuan raksasa yang hanya menyisakan suara kelelawar atau air yang menetes, menuju muara. Sekarang aku tak tahu lagi tentang hari-hari, tanggal, atau rencana-rencana yang tertunda selama beberapa waktu. Aku tak ingin tahu apa-apa.

***

Semua ini berawal dari mimpi, berwarna hitam, memaksa kelopakku membuka dalam dunia bawah sadar. Dan semuanya berbalik, matahari hanya igauan tentang kegelapan, langit pun menyusut, tak ada angin, kecuali udara yang masih memaksakan suhu menurun di bawah rata-rata, membuatku harus sadar bahwa aku masih berada di bumi. Tetapi mengapa tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah lorong? Yang membuatku tak punya pilihan lain kecuali terus berjalan, tanpa bayang-bayang. Seketika kurasakan ini hanya mimpi, mungkin kuadrat mimpi, jadi aku bermimpi di dalam mimpi, mungkin juga ini telah melewati puluhan tingkatan mimpi, sehingga tak ada lagi yang tersisa dari mimpiku kecuali sebuah kegelapan yang terbatas pada dua dinding memanjang. Dan aku tak tahu, aku berhenti di mimpi ke berapa.

Aku justru bisa mengingat beberapa kenyataan yang terjadi di luar mimpi, itu pun dalam rangkaian waktu yang tak valid lagi. Aku mengingat pagi sebelumnya, kutemukan diriku menangis, aku memang harus menangis hari itu. Duduk di tempat tidur, aku menangis di hadapan serangga-serangga yang bersembunyi di balik lemari, kursi, dan jam dinding. Air mataku mendarat di lantai ubin yang dingin, menelusup lewat celah kecil, menuju kehampaan. Hanya hampa, ternyata toh air mata hanya menuju keheningan. Sama seperti tangisan, semakin dalam kesedihan, tangisan justru semakin sunyi, bukan semakin berteriak-teriak.

Apakah kesedihan sejati memang tak bisa berteriak? Sebab aku tak pernah lagi punya kesedihan, atau hati yang ngilu oleh peristiwa-peristiwa duka. Sejujurnya, perasaan duka atau terluka sudah lama terangkat dari tubuhku sejak kecil. Ya, bagiku, meninggalkan masa kecil adalah layaknya keluar dari sebuah ruang operasi. Kupandangi dua orang dokter yang tak lain adalah ayah ibuku. Mereka terus mengajarkanku kesembuhan yang abadi, seakan aku terbentuk dari serangkaian rasa sakit berkepanjangan. Aku terbaring di atas meja operasi dengan kain putih. Di bawah sorot lampu cahaya mengesankan. Lampu itu menggambarkan seorang bocah yang berada di sebuah pasar malam, dituntun oleh orangtuanya, menunjuk-nunjuk pada seorang penjual gulali, penjual mobil mainan, juga wahana bianglala. Cahaya itu seperti berasal dari sebuah bioskop dengan peristiwa yang acak. Gambaran masa kecilku berpindah-pindah. Seorang gadis kecil sedang mencoba baju yang merupakan hadiah ulang tahun, lilin baru saja padam, tepukan meriah masih menggema di ruang tamu, kemudian seorang anak laki-laki yang dijunjung orangtuanya agar bisa melihat sirkus jalanan. Tetapi anehnya, tak kutemukan diriku di sana, peristiwa masa kecil hanyalah nama, tanpa tokoh yang nyata. Dan di ruang operasi ini, kutemukan ayah dan ibuku hanya sebuah angan-angan yang panjang tentang gelak tawa. Aku selalu bisa membayangkan seorang ibu yang sedang menjemur pakaian, atau memasak di dapur. Dan ibu teduh memandangiku yang baru saja terjaga, muncul dari balik kamar mandi.

“Cepat ganti baju, sebentar lagi sarapan siap.”

Aku mengangguk. Selanjutnya aku akan menerjemahkan kasih sayang: Seorang ibu berbicara tanpa memandangi anaknya. Tetapi ada aura positif yang memancar dengan jelas dari nada suara ibu. Mungkin aku tak kuasa menangkapnya, apalagi menerjemahkannya daripada sekadar definisi yang hampa. Aku mengenal orang tuaku tepat ketika masa kecilku merapikan ceritanya dalam buku-buku lusuh yang kesepian karena tak pernah lagi dibuka. Masa kecilku terasa begitu hening, begitu pengap. Meskiun aku paham bahwa tak ada lorong di masa kecilku, tak ada kegelapan, aku bahkan tak mengenal listrik yang padam, atau bulan mati. Toh aku hidup di pinggiran kota yang gemerlap. Meskiun kumuh, masih bisa kuterima cahaya menyilaukan dari sorot lampu jalanan, lampu mobil, atau papan reklame yang berwarna-warni. Dan aku merasa inilah kehidupan lain yang menungguku untuk menyeberang jalan, menuju ke arahnya. Tetapi lama-kelamaan, aku tak tahan hidup bersama angan-angan, ia sudah seperti bayang-bayang, kadang berada di belakangku, kadang berada di depanku. Dan ia juga seperti cahaya, ia bisa menyentuhku, tai aku tak bisa menyentuhnya. Kudapati kehidupan begitu rumit untuk kucatat. Bukan dalam kertas, melainkan dalam pandanganku tentang masa depan.

“Ingat, kamu harus lebih baik dari bapakmu, sekolah yang tinggi, biar jadi orang, bukan gelandangan.”

“Apa gelandangan bukan orang?”

Ibu diam. Aku terus saja tumbuh bersama nasihat-nasihat tak tercatat. Semacam formalitas, di mana sering pendengaranku penuh dengan kisah ajaib orang lain, sedangkan jalanku sendiri semakin menyusut, mengecil, tidak menarik, muram, berkerikil, dan tak menampakkan ujung yang istimewa. Apalagi yang paling istimewa dari masa lalu yang terus berjingkat menjadi masa depan penuh tanda tanya? Kukenal banyak orang, banyak cerita. Ada banyak kabar pesta, banyak pula kabar penuh keluh. Kukenal romansa kehidupan lewat senyum gadis belia yang duduk di halte sambil membaca buku. Kukenal perjuangan paling menyakitkan dari seorang cacat yang mengais uang logam dalam kereta. Kupahami mudahnya masa depan dari seorang yang keluar dari mobil Ferrari. Apakah mereka semua berhubungan? Setiap kali memandangi seseorang, aku merasa seperti sedang mengarang masa depannya, atau mungkin aku hendak masuk ke dalamnya, menjadi molekul halus yang selalu mengikuti ke mana saja, dan jatuh dalam ingatan bahwa setiap orang membawa kesunyiannya masing-masing hingga ke dalam tidurnya.

Lalu kedewasaan kutemukan di bawah bangku perkuliahan. Ruang kampus yang ramai gelak tawa, gadis-gadis dengan bedak tipis di wajahnya, celana ketat, sepatu sporty, juga handphone yang siap menyatukan janji-janji.

“Hai, besok ikut ke Pantai Siung? Kita mau kemah.”

“Iya. Ayolah ikut, kok kamu jarang ikut kumpul dengan anak-anak?”

Aku diam. Mengangguk. Kupandangi mereka, berjalan, tertawa, menuruni tangga. Berpisah di lobi. Berpisah dalam riuh kendaraan. Melambaikan tangan. Dan aku pun berlalu, berjalan di sepanjang trotoar, masuk kamar, menutup jedela, melompat ke tempat tidur, terpejam, dan bermimpi.

Pandangan jadi hitam. Seperti berada dalam sebuah goa yang pekat. Tetapi lama kelamaan, aku menyadari, aku berdiri di sebuah lorong, cukup lebar, namun tak cukup menenangkan. Dan aku lebih sadar lagi, setiap orang memiliki lorongnya sendiri, di mana tak ada orang lain yang tahu, bagaimana lorong itu ditafsirkan, juga tentang apa yang akan ditemui di dalamnya. Tiba-tiba juga, aku merasa kata-kata hanyalah serangkaian huruf kesepian yang mewakili kehendak aneh manusia.

“Ingat, kalau besar nanti…”

“Lho, kamu belum lulus?”

“Kerja di mana?”

“Kapan menikah?”

“Sudah punya rumah atau kontrak?”

“Dulu kamu kan hidup enak sekali…”

“Wah sayang sekali kalau orang cerdas seperti kamu…”

“Ayo reuni….”

“Wah, belum sukses juga?”

“Apa kamu tidak kasihan….”

“Kamu tidak bisa main layang-layang?”

“Selamat ulang tahun….”

“Laki-laki kok gampang menangis?”

Ternyata manusia selalu datang dan pergi, dan yang menetap hanyalah suara-suara dalam bentuk kata. Dari arah depan atau belakang, tak mudah kukenali dalam gelap seperti ini. Sekarang aku paham, masa lalu dan masa depan memang terkadang bertukar tempat, atau juga berjalan beriringan, sejajar seperti saling bercermin, sementara orang lain hanya metafora kehidupan. Dan ketika masa lalu dan masa depanku tak bisa dibedakan, ketika aku sadar bahwa masa lalu dan masa depan itulah kedua dinding yang membentuk lorong gelap saat ini, maka yang bisa kulakukan hanya berjalan, terus berjalan.

Menuju keheningan.

17 September 2011