Loker

Syaifullah
http://www.hariansumutpos.com/

Pagi-pagi sekali Sabrata sudah bangun. Hal ini ganjil. Saban hari Sabrata doyan bangun siang. Tapi hari ini tampak terlalu istimewa baginya. Buru-buru, dia bergegas cuci mukanya yang penuh dengan noda tidur. Di sudut matanya menggantung kotoran mengeras. Sisa dari buah tidur yang tercipta dari debu-debu yang masuk ke biji matanya seharian sebelumnya. Continue reading “Loker”

Adat Na Gok

Yanti Mandasari Sipayung
http://www.hariansumutpos.com/

Aku mengambil tempat di pojok ruangan. Duduk dengan kaki selonjor kumaknai wajah saudara-saudaraku satu persatu. Kak Ros didampingi suaminya, Kak Yus dan Yans adikku, jelas menyimpan kepayahan di hatinya. Aku bisa membacanya diantara wajah letih mereka. Mereka memang baru tiba dari Medan. Dua jam dalam perjalanan mereka lalui dengan motor. Continue reading “Adat Na Gok”

Senyum Menyibab Ilalang

Teguh Winarsho AS
infoanda.com/Republika

Senja yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali menganga, menjemput resah segenap kenangan. Continue reading “Senyum Menyibab Ilalang”

Pengantin Sukanti

Miftah Fadhli
http://www.hariansumutpos.com/

Lihatlah Sukanti. Wajahnya keriput. Kematian telah luput menjamahinya. Di hari yang basah?dan selalu basah?ini, ia termenung di tepi kolam buatan Sugandi. Dulu, ketika masa muda masih mereka reguk, mereka kerap bermain cinta di sini. Melihat ikan-ikan koi yang hilir mudik menampakkan punggung mereka yang berwarna-warni. Sukanti dan Sugandi bisa saling bermain puisi sambil mengecipakkan air ke wajah masing-masing. Sungguh romantis! Continue reading “Pengantin Sukanti”

Sekuntum Melati Basah

Bono Emiry
http://www.hariansumutpos.com/

Jeina membenci hujan.
Namun, tangan Hegira tak mampu ia tepis saat menariknya menyongsong benang-benang bening dari langit itu. Tangan itu begitu lembut. Jeina menurut. Mengikuti langkah kaki Hegira ke mana pergi. Sampai di taman melati.

Jeina merasakan hujan menjilati setiap bagian tubuhnya. Tak ada yang luput. Semua basah. Jeina pasrah. Ia tak lagi mengeraskan hati. Ingatan begitu saja luluh. Ia lupa akan benci terhadap hujan yang merampas kilau sepasang mata. Dulu. Saat ia masih begitu polos. Continue reading “Sekuntum Melati Basah”

Bahasa ยป