Sekuntum Melati Basah

Bono Emiry
http://www.hariansumutpos.com/

Jeina membenci hujan.
Namun, tangan Hegira tak mampu ia tepis saat menariknya menyongsong benang-benang bening dari langit itu. Tangan itu begitu lembut. Jeina menurut. Mengikuti langkah kaki Hegira ke mana pergi. Sampai di taman melati.

Jeina merasakan hujan menjilati setiap bagian tubuhnya. Tak ada yang luput. Semua basah. Jeina pasrah. Ia tak lagi mengeraskan hati. Ingatan begitu saja luluh. Ia lupa akan benci terhadap hujan yang merampas kilau sepasang mata. Dulu. Saat ia masih begitu polos.

Merayakan setiap hujan yang datang adalah ritual yang tak pernah ia lewatkan. Berlari berkejaran, bergumul di genangan air, bernyanyi sambil menari, atau sekadar duduk di atap rumah. Di bawah kunjungan hujan. Bersama Gyan, orang pertama yang ia kenal sejak pindah di kota ini. Seorang bocah sepertinya. Tetangga sebelah rumah.

Gyan begitu tulus mengajaknya meninggalkan kehangatan rumah untuk bermain hujan. Dengan mengendap-endap, Jeina mengikut. Tanpa memikirkan dingin atau sakit yang mungkin akan ia derita. Mereka gembira dalam tawa. Suasana yang menjadi puncak kebahagiaan Jeina di fase kanak-kanak. Kebahagiaan yang berumur singkat.

Dalam kali kesekian, hujan tak lagi menjadi sahabat. Hujan menyudahi semua. Di depan matanya Gyan terpanggang oleh sambaran petir. Untuk pertama kali Jeina mengenal rasa takut yang bermetamorfosa menjadi benci.
***

Jeina membenci hujan.
Namun, ia berada di tengah guyurannya kini. Bersama Hegira. Lelaki pemilik sapaan lembut yang pernah menyentuh perasaan keperempuanannya. Lelaki yang mengenalkannya pada sebuah gejolak alami yang tak ia pahami sampai Evina, sahabatnya, menggodanya.
?Kau jatuh cinta,? sepasang bibir Evina begitu lugas melempar kata.

Begitu indah. Jeina dibawa memasuki sebuah misteri. Hari-hari pun diterjemahkan sebagai kesempatan untuk memecahkan teka-teki yang merasuki hati. Tak pernah Jeina lelah. Menikmati rindu dan cemburu. Diam-diam Jeina menumpahkannya pada catatan harian. Namun, ternyata cinta adalah pemberontak yang tak bisa disimpan begitu saja dalam sunyi lembaran-lembaran putih. Jeina pun akhirnya mencurahkan semua kepada Evina.

?Aku jatuh cinta,? Jeina mengakui.
Evina menanggapi dengan tawa yang pecah. ?Akhirnya,? Evina mengecup kedua pipi Jeina. ?Selamat, ya.?
?Aku mencintai Hegira, Vi,? pengakuan Jeina menyudahi tawa mereka.

Evina diam memandang Jeina. Ia duduk memandang tepat kedua bola mata sahabatnya itu. Mendengarkan ungkap rasa dan rajut asa yang mengalir jujur dan bening. Evina menemukan kesegaran di sana.

Sahabatku jatuh cinta, Evina membatin. Ia masih melekatkan pandang di kedua bola mata Jeina. Jernih. Ada cinta sempurna di sana. Pantas saja setiap lelaki luluh secara sukarela begitu memandangnya, Evina kembali membatin. Ia tertawa kecil. Mengenang cerita perjuangan para lelaki merebut cinta Jeina. Gerak anggun Jeina memang memiliki arti tersendiri. Cerita hidup Jeina adalah cerita tentang sayembara menaklukkan hati sang putri. Dan kini sang putri takluk begitu saja. Oleh Hegira. Pangeran yang telah menancapkan bendera di puncak-puncak gunung nusantara.

?Mengapa Hegira?,? Evina bertanya.
?Karena Hegira lelaki,? jawab Jeina pasti.
Evina tertawa mendengar jawaban Jeina. ?Maksudmu orang-orang yang selama ini berjuang mendapatkan cintamu bukan lelaki??

Jeina menggeleng tanpa ekspresi.
?Hegira lebih mencintai gunung daripada perempuan. Jei, apa kau tidak merasa lucu kalau nanti kau sampai cemburu kepada gunung?,? Evina mencari kepastian dari bibir Jeina.
?Selama ini kita hanya melihat Hegira sebagai Hegira yang tampak di mata kita.?
?Jei, kau sedang jatuh cinta. Kondisi yang kau alami sekarang ini membuatmu menempatkan Hegira dalam posisi terbaik. Tanpa cacat.??Aku tahu apa yang aku ketahui. Hegira memang berbeda,? tatapan Jeina menembus jendela kaca. Ada jingga di luar sana. Menjalari langit. Membentuk gugus gemawan. Merayakan hari yang lelah.
***

Jeina membenci hujan.

Namun, ia merelakan perasaannya dikalahkan pertemuan yang tercipta tiba-tiba oleh hadir Hegira. Empat tahun Hegira hilang tak berkabar, dan kini muncul menyalip agenda harian yang telah ia susun rapi. Ingin ia menyumpahi lelaki di hadapannya ini, tapi mulut begitu rapat terkunci.

Dalam geliat angin Jeina diam memandang sepasang mata elang. Ia rasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya. Tubuh di depannya merapat.

Jeina mengisyaratkan pasrah di tengah kepungan aroma melati basah. Hegira memeluknya. Jeina memejam. Menanti sejurus kecup menyentuh bibirnya. Sebuah kecupan agar ia benar-benar percaya kalau hujan ini ada dan ia di tengahnya bersama Hegira.

Hegira merapat. Mereka saling mendekatkan nafas sampai bibir bertemu di satu titik. Selanjutnya membiarkan semua bekerja menterjemahkan rasa. Sampai Hegira menarik bibirnya dan mencipta sejengkal jarak. Ia sapu seluruh wajah Jeina dengan tatapannya. Jeina tersipu. Lalu menunduk.
?Aku sudah menikah, Gira,? Jeina berbisik.

Hegira tersenyum. Ia menuntun kedua tangan Jeina ke depan wajahnya, ?Aku tak menemukan selingkar cincin di jari manismu.? Hegira mengangkat wajah Jeina dengan telunjuknya. ?Lebih dari sekadar cincin, matamu pun mengatakan kalau kau berbohong.?Jeina kembali menunduk. Menyembunyikan perasaannya yang bercampur aduk. Kebahagiaan dan kenyataan pahit berbaur di sana. Lelaki tempat ia menemukan cinta tak lagi sendiri seperti dirinya. Untuk apa ia kembali? Kedua kaki Jeina melangkah mundur. Tanpa memandang Hegira ia berbalik. Melangkah menjauh. Tubuhnya terguncang menahan isak.

?Kepergianmu adalah pedang yang menghujam keberadaanku,? Hegira menghentikan langkah Jeina. Ia meneriakkan sajak,

?Duhai nama perempuan yang aku goreskan di puncak-puncak keagungan gunung, berapa kali lagi aku harus mengumpulkan sepi bersama malam-malam bisu yang melumpuhkan aku dengan rindu cukupkan semua sampai di sini, duhai wajah pengisi sukma lantunkanlah sekantong nada tanda kau tetap mencinta meski kelak kita tiada mengada?

Halilintar menutup sajak gejolak yang lama bersarang di diri Hegira. Mereka diam. Membiarkan diri tenggelam dalam gemuruh. Hujan semakin berkuasa.

Jeina berbalik. Tajam sorot matanya memandang Hegira. ?Keberadaanku telah lama dihujam pedang,? ucapnya dengan gemeretak gigi. Ia rasakan tubuhnya menggigil.
Hegira diam. Mencoba tetap memandang sorot mata Jeina yang begitu tegas menelanjangi dosa-dosanya. Yang begitu kuat menarik tubuhnya.

Mereka kembali merapat. Pada pinggang Jeina, Hegira melekatkan tangan.
?Rasakan melodinya,? bisik Hegira menuntun Jeina mengatur gerak kaki.
Jeina melingkarkan tangan di bahu Hegira.

Mereka menari. Mengikuti melodi anyaman hati yang tak pernah mati oleh penyangkalan beratus hari. Rasa berbicara pada akhirnya. Dan mata menterjemahkan bahasa rasa itu dengan jujur dan sikap keluguan bocah.
?Lantunkanlah sekantong nada tanda kau tetap mencinta, meski kelak kita tiada mengada,? bisik Hegira terbatuk. Tubuhnya mulai menggigil.

Jeina menguatkan dekapnya. Perlahan bibirnya mengalirkan nada memenuhi bisik Hegira, ?Yes, there were times, I?m sure you knew??

?Kau kembali menelanjangiku,? Hegira tertawa memotong lantun Jeina.
?Orang-orang memang tak pernah percaya kalau aku sangat mengenalmu,? Jeina menatap Hegira. Ia menemukan genangan air di sana. Bukan berasal dari hujan. Ingin ia membenamkan diri di genangan air itu. Tenggelam dan hilang.

?Terima kasih telah mengenalku,? Hegira mengecup kening Jeina.
Jeina menyandarkan kepala di dada Hegira. Bibirnya kembali mengalirkan lantun,
?When I bit off more than I could chew
But thru it all when there was doubt
I ate it up and spit it out
I face it all and I stood tall
And did it my way.?*)
Mereka hanyut.

?Lantunkanlah sekantong nada tanda kau tetap mencinta, meski kelak kita tiada mengada,? Jeina meminta.
?Orang-orang tak pernah perduli kalau aku begitu mengenalmu. Namun, aku pun tak perduli dengan ketakperdulian mereka,? ucap Hegira menahan sesak. Ia kembali terbatuk sambil menahan gemeretak gigi.
?Aku tahu kau mengenalku,? Jeina mengusap lembut punggung Hegira.
Bibir Hegira mulai melantunkan nada menjawab pinta Jeina,

?This is it, oh, I finally found someone, someone to share my life
I finally found the one, to be with every night
?Cause whatever I do, it?s just got to be you
My life has just begun, I finally found someone?**)
Tubuh Jeina terguncang. Tangisnya pecah.

?Aku membenci hujan,? Jeina berteriak. Gejolak perasaan tak lagi mampu dibendungnya. Ia mengutuk alur hidup yang tiba di titik perhentian seasing ini. ?Aku membenci hujan,? isaknya melemah.

Hegira menguatkan dekapan. Dalam sesak ia mengucap sesal yang lama terendap oleh waktu beku, ?Tak seharusnya aku menyangsikan cinta. Tak seharusnya aku menyangsikan kau yang selalu menuntunku di jalur-jalur pendakian.? Sesak semakin kuat menekan dadanya. ?Maafkan aku, Jei,? Hegira merasakan lemas. Tangannya mencengkram kuat tubuh Jeina. Tubuhnya terguncang hebat. Batuknya panjang mengimbangi sambar guntur.

Jeina panik menahan tubuh Hegira agar tetap berdiri. Namun, batuk Hegira semakin menjadi. Hegira jatuh bersimpuh pada tanah. Sesak dan nyeri batuk tak mampu dilawannya. Sesuatu mendesak hendak keluar dari tubuhnya.

?Jeina,? Hegira berbisik. Tubuh dingin menggigil tak mampu ditahannya. Sakit teramat sangat menaklukkannya terbaring pada tanah memerah oleh pecah gumpal darah.

Jeina mengguncang tubuh Hegira. ?Bangun, Gira,? teriaknya dipenuhi tangis.

Sakit yang ditanggung Hegira menjalari Jeina. Jeina lemas. Ia jatuh terbaring di samping Hegira. Dipeluknya tubuh lelaki itu. ?Gira,? bisiknya dengan bibir bergetar. Matanya sayu memandang wajah pucat Hegira. Tak lagi ia rasakan jilatan hujan. Atau halilintar yang unjuk diri pada langit kelabu di atas perhentian mereka.

Catatan:
*) Diambil dari lirik lagu My Way, Paul Anka.
**) Diambil dari lirik lagu I Finally Found Someone, Bryan Adams.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *