Hosea

Maroeli Simbolon
sinarharapan.co.id

Saat itu aku baru bangun pagi. Lalu, segera aku membuka televisi, entah mengapa. Padahal, biasanya, aku akan bergegas ke luar rumah, dan berolahraga ringan dengan jalan kaki. Ah, benarkah yang kusaksikan ini? Seketika mataku terbelalak; berita televisi yang menayangkan tragedi Nias. Ya, Tuhan, Nias kembali diguncang gempa? Ada apakah ini? Pertanda apakah? Continue reading “Hosea”

Sucipto

Gunawan Maryanto
suaramerdeka.com

SUCIPTO tahu besok pagi dia akan kalah. “Tak ada yang mendukungku sama sekali!” Tak ada tenaga dalam suaranya. Keras tapi kopong. Dyah hanya diam menatap ayahnya yang duduk terpekur di kursi tamu. “Masmu tetap tak pulang?” Dyah menggeleng.

“Sudah kutelepon dan SMS berkali-kali.”

Sucipto beranjak dari tempat duduknya. Melangkah pergi keluar rumah. ?Pintu jangan dikunci.? Continue reading “Sucipto”

Lipstik di Bawah Guyuran Hujan

Miftah Fadhli
http://www.lampungpost.com/

SEPULUH tahun silam dia pernah di sini, bersama seorang lelaki. Lelaki yang menyapu wajahnya yang basah kuyup karena hujan. Dengan takzim lelaki itu berucap, “Kita akan bertemu lagi di sini, sepuluh tahun lagi.”

Maka sepuluh tahun kemudian, tepatnya hari ini, perempuan itu duduk lagi di sini. Di hari yang sama. Di hujan yang juga sama: bergedebum, membawa gigil dingin. Continue reading “Lipstik di Bawah Guyuran Hujan”

Bekas Pengarang

Kurniawan Junaedhie
suarakarya-online.com

Hamid Hamaluddin, biasa dipanggil HH, meradang, ketika tahu naskahnya dikembalikan redaksi suratkabar. Kalau sekadar cinta ditolak, mah, biasa. Tapi soal ini? Lihat saja. Mukanya merah padam. Giginya gemeletuk. Darahnya mendidih. Terdengar suaranya menggeram-geram seperti singa yang mencabik-cabik mangsanya. Naskah yang dikembalikan redaksi itu disobek-sobeknya, lalu dicampakkan ke lantai dan diinjak-injak. Itulah kenanganku terhadap HH berbelas tahun lalu. Continue reading “Bekas Pengarang”

Dibalik Jeruji

Elnisya Mahendra
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Tuhan, bila takdir-Mu telah engkau teteskan kepadaku, kekuatan apa yang bisa membuatku menolaknya? Tidak akan ada, kecuali kepasrahan yang teramat dalam dari mahkluk-Mu yang hanya sebutir pasir diantara laut dan pantai-Mu yang maha luas.

Kulipat mukena dan sajadahku setelah do’a kupanjatkan untuk orang-orang yang aku cintai diawal pagi ini. Kulirik Amel yang masih tidur di ranjang, dengkur lembutnya seirama dengan naik turun dadanya. Continue reading “Dibalik Jeruji”

Bahasa ยป