Karena Aku Perempuan

I Komang Widana Putra
http://www.balipost.co.id/

Lukman Ali. Begitu sipir-sipir penjara menyebutnya. Mengepalai lembaga permasyarakatan ini hampir dua puluh tahun. Wajahnya sangat persegi dihiasai bola mata gelap dan terpancar teduh. Lain seperti bawahannya, sipir-sipir penjara, yang punya tatapan mata siap menguliti.

LUKMAN Ali, bapak keduaku setelah setahun lamanya kebebasanku dibelenggu di penjara ini. Setiap malam dia mengontrol Blok D, penjara yang kutempati bersama sepuluh perempuan pembunuh mengikuti dakwaan hakim lainnya. Continue reading “Karena Aku Perempuan”

Setelah Lebaran

Beni Setia *
suarakarya-online.com

SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu. Continue reading “Setelah Lebaran”

Randu Rekah

Kurnia Effendi
suarakarya-online.com

“AKU akan melamarmu di musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin,” kata Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih lumpur yang mengering di atas matakaki. Continue reading “Randu Rekah”

Mencatat Rindu

M.D. Atmaja

Sore hari, langit meneteskan bulir-bulir air. Rapat tanpa celah dan heneng ketika jatuh di hitam tanah yang masih basah. Rintik, pagar dingin diusap angin lewat yang membawa senyap. Bergulir atas kebekuan yang tidak biasa. Bercampur aduk di depan serambi malam. Memboyong anak manusia tertelungkup di dalam harapan. Continue reading “Mencatat Rindu”

Sang pengembara

Aang Fatihul Islam
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Awan sore itu berwarna hitam pekat dengan sedikit warna putih menghiasinya, sebagai pertanda akan datangnya hujan. Aku berjalan sempoyongan mencari tempat untuk berteduh. Aku melangkahkan kakiku berjalan menuju sebuah gudang tua di dekat rel kereta api. Kilat dan petir menyambar bagaikan cemeti raksasa yang mengaung di atas awan-awan. Ribuan anak panah akan segera diluncurkan ke bumai yang menjelma menjadi luncuran air hujan. Continue reading “Sang pengembara”

Bahasa ยป