LAKNAT PEREMPUAN KEPADA BUNGA-BUNGA

Siti Sa’adah

Aku faham benar kapan aku mulai membenci bunga, bukan sekedar muak, tapi setiap bersinggungan, tersentuh, melihat terlalu dekat kepalaku terasa berat dan ingin aku muntah sebagai ungkapan penolkan. Bunga apapun itu, yang bisa memancing keindahan, karena keindahan tak bertaut berkali-kali bersamaku melalui bunga. Untuk menceritakan ini aku harus menahan mual yang ingin meledak. Tapi ku tahan kuat-kuat, sebelum kau mengerti kehancuranku bersama bunga. Continue reading “LAKNAT PEREMPUAN KEPADA BUNGA-BUNGA”

BEYE, LURAH BANCI

M.D. Atmaja

Orang-orang telah garang karena banyak ketimpangan yang terjadi. Kelurahan tetangga terus menyusup ke halaman. Kadang merembes ke hijau sawah pertiwi. Mencuri ketimun atau kangkung. Mereka, Kelurahan Maling itu menggunakan tangan petani, menginjak padi yang merunduk. Mengambil segala yang bisa diambil. Seperti perompak dalam cerita-cerita bajak laut Wilayah Barat. Petani kelurahan tetangga mencuri, petani Kekurahan Luruh Indon menahan lapar yang sangat. Pencurian itu membuat petani di Kelurahan Indon meradang. Merah membara. Mengasah senjata dan berteriak-teriak kesetanan mengajak perang. Para petani tidak terima atas penghinaan kelurahan tetangga. Menginjak harga diri Kelurahan yang diperjuangkan dengan segenap tumpah darah seluruh rakyat Luruh Indon. Continue reading “BEYE, LURAH BANCI”

Tawur

M.D. Atmaja

Luruh Indon memerah ketika tersulut kobaran amarah purba. Orang-orang sibuk mengamati. Menunggu sepasukan bala gempur dikeluarkan dari barak kelurahan. Para orang tua memandang udara dengan mengambang. Mereka masih ingat bagaimana dulu panji-panji dikeluarkan. Diarak-arak ke alun-alun untuk mendengarkan semangat tutur Lurah pertama yang diangkat sebagai raja pertama. Continue reading “Tawur”

Bahasa ยป