Para Gila

Fakhrunnas M.A. Jabbar
lampungpost.com

MAU merasakan jadi orang gila? Bacalah cerita ini. Seekor musang di siang tegak bercintaan dengan seekor rama-rama di pokok murbai di halaman belakang tempat tinggal kami. Musang jantan mencumbui rama-rama betina begitu seronok. Sampai-sampai menitik air liurnya. Mereka saling berkecupan. Saling birahi. Daun-daun murbai yang rindang itu sambil berguncang-guncang padahal angin tak bertiup sedikit pun. Pada mulanya hanya aku yang melihat kejadian itu. Tapi secara sengaja kukabarkan pada teman-teman yang lain. Tak peduli lelaki atau perempuan. Selang setengah jam kemudian, kami jadi beramai-ramai menyaksikan percintaan yang luar biasa itu. Continue reading “Para Gila”

Nyonya Whittard dan Kanak-Kanak yang Hilang

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

SELAIN piknik di rerumputan taman, bersepeda, dan pergi ke pantai, ada satu hal lagi yang, bagiku, menyenangkan di setiap musim panas: menjemur pakaian di halaman.

Aku tinggal di sebuah rumah bata semi-detached yang dibangun tahun 1920. Rumahku dan rumah tetangga sebelah terlihat seperti sebuah wajah yang dibagi dua sisi dengan make-up yang berbeda -bingkai jendela rumah kami berwarna putih, milik tetangga berwarna cokelat dan begitu juga dengan pintu. Continue reading “Nyonya Whittard dan Kanak-Kanak yang Hilang”

Cerita yang Menyeruak dari Kebun Mawar

Benny Arnas *
lampungpost.com

LELAKI itu sangat dekat dengan ibunya, walaupun itu hanya akhir-akhir ini. Tepatnya, ibunya yang mendekat-dekatkan diri, seolah ada kesalahan besar yang hendak ditebusnya.
***

Lelaki itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Continue reading “Cerita yang Menyeruak dari Kebun Mawar”

Eyang Sentot

Luhur Satya Pambudi
http://www.lampungpost.com/

AMBULANS yang membawa jenazah Eyang Sentot perlahan-lahan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal Almarhum. Aku duduk tepat di belakang sopir, di dekat peti jenazah bersama beberapa orang tetangga Eyang Sentot. Sebagai wakil keluarga, menjadi tugasku untuk menjadi penunjuk jalan bagi supir ambulans menuju makam. Sekitar dua ratus meter menjelang jalan besar, tiba-tiba ada sesuatu yang menghentikan laju rombongan pembawa jenazah. Pelakunya adalah dua orang perempuan cantik separuh baya yang lantas mendekati ambulans. Continue reading “Eyang Sentot”

Memasung Malam

Fahri Asiza
http://www.lampungpost.com/

MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.

Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit. Continue reading “Memasung Malam”

Bahasa ยป