Antara Rumah dan Kebun

Han Gagas
http://www.lampungpost.com/

AKU terbangun di tengah malam oleh rasa lapar. Perut yang melilit dan keroncongan telah mengalahkan kantukku yang berat. Sebungkus mi instan mulai aku siapkan tapi tercium bau harum menusuk hidung menghentikan aktivitasku. Bau seperti bunga mawar, atau melati, tapi juga mirip harumnya kantil. Ahh, bukankah ketiga kembang itu adalah bunga ziarah. Hatiku berdesir. Continue reading “Antara Rumah dan Kebun”

MADURA

Beni Setia *
surabayapost.co.id

INI adalah tenung. Ini adalah sihir yang membuat aku membatalkan naik ferry Ujung-Kamal paling pagi, dan memilih singgah di HI, Hotel Islamiah — yang berupa musala di dermaga penyeberangan. Menyapa penjaganya, yang sejak kanak aku kenal di Batang-batang, dan bahkan diajari huruf hijayiah, bacaan surah-surah pendek dan cara benar bersembahyang di mesjid kecil di Batang-batang. ”Kiai sakit?” katanya — santun meraih tangan dan mengecupnya. Aku menggeleng. Menguap. Idzin tidur dan dengan patuh ia berjaga seperti menjaga mayat yang belum ditakziahi keluarganya. Continue reading “MADURA”

MEIN

Dina Oktaviani
jawapos.com

”Aku tak bisa menanggung lagi, Al.” Vi memulai kesedihannya; bersedih lagi setelah berusaha bertahan untuk beberapa hari dalam keriangan palsu, selalu palsu.

”Kau tahu aku mencintainya seperti anakku sendiri, kau tahu, kan?”

Aku mengerdip, bukan untuk menjawabnya. Continue reading “MEIN”

Sebutir Nasehat di Tepi Nasi

M.D. Atmaja

Dini hari terasa begitu dingin. Tidak seperti biasanya. Gerakan angin tidak terasa namun dinginnya membekukan tulang. Udara juga bersih dari riang jangkrik. Tidak ada gerakan sama sekali. Malam seperti telah berada di dalam kekosongan. Tanpa kehidupan. Berjalan pelan namun sangat pasti tanpa terhalangi apa pun. Berdetak dalam detik yang terus berganti sebagai langkah yang tidak bisa undurkan. Perjalanan waktu. Continue reading “Sebutir Nasehat di Tepi Nasi”

Karna Aku Maria

Ana Balqis
http://www.jawapos.com/

DIALAH perempuan itu. Tidak segan mengaku Jawa meski lama di kota-kota sebesar Paris atau Kanada atau Jepun. Kerap terbang mengelilingi dunia bersama berus dan kanvasnya.

Sejak mengenalnya, banyak waktu saya mengintai ke dalam mata hitam pekatnya. Kata gemulah nenda, lihatlah ke dalam mata lawanmu beserta selawat tiga kali pabila berkata-kata dengannya. Kelak kau dapat melihat kebenaran kerana yang ada dalam hatinya akan terpancar di mata. Continue reading “Karna Aku Maria”

Bahasa »