Sri

Denny Mizhar

Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah surut. Konon ceritanya yang menggali lubangnya bernama Syawal. Hingga sumur itu diberi nama sumur Syawal. Atau mungkin dalam dugaku lubang sumur itu di gali waktu bulan syawal. Continue reading “Sri”

Dunia yang Tertolak

M.D. Atmaja

Di atas bukit, setelah melalui jalan memutar di samping tebing-tebing, si Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa kini berdiri. Mereka berdua sama-sama memakukan pandangan pada pantai yang mendebur, ombak yang mengiris berkidungkan alam-raya. Batas-batas dunia telah mereka berdua lewati sebagai pengembara. Kini mereka diputari oleh semerbak bunga dunia, dipacu kehangatan matahari malam. Saat itu, belum ada yang terlena. Belum ada yang terlelap. Keduanya saling menjaga malam agar tidak ditelikung setan jalanan. Continue reading “Dunia yang Tertolak”

Dhimas Gathuk Ketemu Pungli

M.D. Atmaja

Pada siang hari, ketika Dhimas Gathuk sedang bekerja untuk salah satu Padepokan milik Pendopo Matahari Pengikut Nabi, yang sering kita dengar dengan nama PMPN itu, dia sedang membersihkan salah satu tiang pendopo dekat dengan kerumunan para santri yang tengah mengobrol. Para santri itu berkerumun, sambil sembunyi-sembunyi menikmati rokok, yang menurut orang-orang tua di Pendopo bahwa rokok itu haram. Hal itu lah yang membuat para santri menikmati rokok dengan sembunyi, takut, malu, karena menikmati barang yang telah telah diharamkan orang-orang tua di Pendopo walau pun sebenarnya Nabi yang mereka ikuti tidak mengharamkan itu. Continue reading “Dhimas Gathuk Ketemu Pungli”

Perempuan yang Mensepuhkan Tombak

M.D. Atmaja

Suatu sore di Tamansari ketika hati sedang diliputi prahara, kecemasan, ketakutan, dan kegamangan arti, Lelaki Pendosa berjalan menyusur setiap puing-puing reruntuhan yang tertinggal. Dia melangkah sunyi dalam hati yang semakin kelam oleh kekosongan, namun di sana dia juga menanggung rindu yang telah lama tak tertahan. Sekali ingin berlari di dalam suatu malam, melompati Sindoro-Sumbing dari Barat, lalu menghempaskan panasnya kawah Merapi yang kini telah sunyi. Continue reading “Perempuan yang Mensepuhkan Tombak”

Bahasa ยป