Aku Menunggumu di Kafe Itu

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

AKU menunggumu di kafe itu, Warung Mbak Nien namanya, karena merasa kau akan datang bak kerap kurasakan hari-hari belakangan. Aku duduk sendiri seperti dulu saat menunggumu. Dengan minuman seperti dulu, karena pelayan itu, bagai dulu pula, meninggalkanku usai tarok minuman. Tak ia tunggu kubuka daftar menu, seolah ia tak pernah lupa bahwa itu baru nanti aku lakukan, setelah kau tiba ya, seperti dulu. (Eh, apakah menurutmu pelayan itu benar-benar yakin kau akan datang, atau ia hanya merasa kau akan tiba seperti yang aku rasakan?). Continue reading “Aku Menunggumu di Kafe Itu”

Hati yang Merentas

Dianing Widya Yudhistira
http://www.suarakarya-online.com/

LANGIT pucat, saat aku singkap gorden kamar yang menyembunyikan jendela. Seperti warna kaki langit yang kemarin, putih kebiru-biruan berhiaskan abu-abu. Sama sekali tak menarik, meski tetap saja membuat aku merinding setiap kali melihat langit lepas. Warna langit pagi ini membuat udara gelap lalu mencipta dingin. Sedingin ponselku yang tergeletak lunglai di meja, persis di sebelah kanan tempat tidurku. Continue reading “Hati yang Merentas”

Pak Tua

Faidil Akbar
suarakarya-online.com

Pak Tua sedang berbaring di kursi bambu yang dibuatnya sendiri beberapa pekan lalu. Kepalanya terangkat sesuai dengan bentuk kursi. Di depannya ada sebuah televisi kesayangannya sekaligus musuhnya. Ia sayang kepada televisinya kalau muncul acara-acara kegemarannya seperti pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan tangan dan pertukangan, apalagi kerajinan atau pertukangan bambu. Selain itu ia sangat tertarik pada penayangan wild life, tentang binatang-binatang liar di hutan Afrika, di pegunungan salju dan di padang-padang pasir tanpa air. Continue reading “Pak Tua”

Cermin

Bernard Batubara
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

Percakapan dengan Cermin I

DADANYA berdesir, Maila takjub melihat wajahnya sendiri di cermin. Serupa benar dengan wajah seorang putri, katanya dalam hati. Ya, kau memang cantik, Maila.
Wajahnya tersipu mendengar pujian itu.
Pipinya merona. Merah muda. Ia tersihir oleh bayangannya sendiri. Bayangan ketika ia masih berada pada masa empat puluh tahun lalu. Continue reading “Cermin”

Menunggu Kematian Parsun

Surahmat
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

GILA! Dia memintaku mencari Tuhan meski kupikir sebelumnya, mencari Tuhan adalah pekerjaan melelahkan. Mereka yang melakukan, belum tentu berhasil menjadi nabi atau rasul. Orang-orang yang tersesat malah jadi kafir, dipenjara atas tuduhan penistaan agama, atau dipergunjingkan karena murtad mengaku nabi. Mana mungkin aku menjadi nabi kalau Muhammad adalah yang terakhir? Continue reading “Menunggu Kematian Parsun”

Bahasa ยป