Hati yang Merentas

Dianing Widya Yudhistira
http://www.suarakarya-online.com/

LANGIT pucat, saat aku singkap gorden kamar yang menyembunyikan jendela. Seperti warna kaki langit yang kemarin, putih kebiru-biruan berhiaskan abu-abu. Sama sekali tak menarik, meski tetap saja membuat aku merinding setiap kali melihat langit lepas. Warna langit pagi ini membuat udara gelap lalu mencipta dingin. Sedingin ponselku yang tergeletak lunglai di meja, persis di sebelah kanan tempat tidurku.

Layar ponsel itu mengabarkan ada satu pesan pendek masuk. Aku enggan, tepatnya takut membuka pesan itu. Pasti dari Utari, adik keduaku. Isinya sama, memintaku pulang atas permintaan ibu. Ini pesan yang entah keberapa, terlampau sering jadi aku tak ingat lagi.

Aku acuhkan saja pesan itu. satu jam ke depan aku harus sampai di kantor. Masih lama. Jarak antara kantor dan tempat kost hanya sepelemparan batu. Konsekuensinya aku mesti membayar mahal ongkos sewanya setiap bulan.

Tak apalah, daripada aku menghemat sekian ribu untuk biaya sewa, tetapi aku harus bergelantungan naik bus kota. Belum lagi aroma keringat orang-orang di bus, asap rokok, pengamen yang suka mengumpat bila tak diberi recehan, tangan-tangan yang kurang sopan, juga ancaman pecopet. Tak jarang teman-teman yang baru sampai di kantor harus memulas lagi dandanannya, merapikan baju, menyisir rambut karena berdesak-desakkan di bus kota.

Aku sambar handuk, menuju ke kamar mandi. Langkahku terhenti oleh dering ponselku yang lain lagi. Masih saja dari Utari. Permintaan ibu agar aku pulang demi membicarakan masalah keluarga, mulai membuat aku suntuk. Memang sejak bapak meninggal dua tahun lalu, ibu yang pegang kendali urusan keluarga.

Aku menghela napas. Jadi ingat Bapak yang lebih lembut, mengerti kemauan anak, bisa menerima perbedaan. Sedang ibu lebih suka mengatur, mudah marah, cenderung otoriter. Aku, sisulung yang sering menolak kehendak ibu, ketimbang Utari dan Sari. Mereka adik-adikku yang mampu memenuhi keinginan ibu. Mereka mau sekolah dan kuliah atas pilihan ibu, aku tidak. Maka aku di depan ibu adalah anak pembangkang. Toh demikian, ibu tetap perempuan agung di mataku. Sekeras apapun ibu, ia tetap menyayangiku. Aku yakin ibu ingin melihat aku hidup bahagia, hanya saja caranya yang sering berbenturan denganku.

Dulu ibu menginginkan aku masuk sekolah farmasi, alasan ibu agar aku mudah mendapatkan pekerjaan. Aku menolak, aku pusing berurusan dengan obat-obatan. Aku lebih suka mendaftar ke sekolah umum lalu melanjutkan ke Sekolah Tinggi Filsafat. Ibu meradang. “Mau jadi apa kamu, mana ada perusahaan terima dari lulusan filsafat. Aduh Wit, cari sekolah yang memberi peluang pekerjaan,” begitu ucap ibu. Aku bersikukuh pada keinginanku, sampai-sampai ibu mengancam tak akan membiayai kuliahku.

“Tenang, masih ada Bapak.” Aku ingat saat-saat aku menjelang kuliah. Bapak dan ibu sering bertengkar karena berbeda pendapat. Bapak mendukungku sedang ibu tidak.

“Sekolah itu bukan untuk cari pekerjaan, tetapi untuk mengasah pikiran kita Bu. Jangan takut tak bisa kerja. Selama kita masih menjadi umat Tuhan, Tuhan pasti kasih rizki.”

Kalimat bapak yang panjang membuat aku mantap masuk ke perguruan tinggi yang aku tuju. Sayang, sejak itu hubunganku sama ibu kurang harmonis. Selanjutnya benar-benar runyam. Dering ponsel meraung-raung lagi. Riuh rendah ke seluruh penjuru kamar. Aku mengalah. Dari Utari. Ia baru saja selesai S1 di salah satu universitas swasta terkemuka Yogyakarta. Gelar sarjana hubungan internasional tak serta merta membuatnya tertarik jadi diplomat. Utari malah melenceng jauh dari disiplin ilmunya.

Ia menekuni dunia tata rias pengantin. Ini bisa jadi karena kedua orangtua pacarnya, memiliki usaha rias pengantin. Utari sendiri sejak kecil memang gemar merias orang lain. Dulu ia paling senang memangkas rambutku. Ia juga yang mendandani Sari kalau ada peringatan hari Kartini. Aku yakin teleponnya saat ini, berkaitan erat dengannya. Ia akan memohon kerelaanku untuk ia langkahi.
Utari menikah terlebih dulu ketimbang aku. Mengingat ia sudah lama berpacaran.

Setahun yang lalu malah Sari, menikah terlebih dulu. Hanya selang tiga bulan setelah ia menyelesaikan kuliahnya di akademi kesehatan Semarang. Sari dipinang oleh dokter kandungan sekaligus dosennya, saat Sari baru menginjak smester tiga.

Aku tak bisa menghadiri pertunangan Sari saat itu. Kantor menugasiku untuk terbang ke Malaysia, tepat di hari pertunangan Sari. Aku sendiri heran, kenapa waktu itu ibu mengabari aku, dua hari sebelum pertunangan. Padahal layaknya orang akan bertunangan, tentu disiapkan jauh-jauh hari. Alasan ibu waktu itu, semuanya berjalan sangat mendadak. Aku sendiri berpikir, ibu takut kalau aku akan menghalangi pertunangan Sari. Jadi, ibu menghubungi dalam rentang waktu hanya dua hari.

Aku meremas ujung handuk yang aku sampirkan di bahu kiriku. Aku duduk di tepi tempat tidur. Terkenang kembali aku ke masa silam. Kalaupun aku datang di pertunangan Sari, pasti aku tak nyaman menghadirinya. Aku belum punya pacar, sementara Sari sudah bertunangan.

Ibu marah waktu itu. Penjelasanku berkali-kali tentang pekerjaan mentah di depan ibu. Ironisnya, waktu seperti hendak menghukumku. Tiga hari menjelang pernikahan Sari tubuhku ambruk. Aku terkena demam tinggi dan sempat dirawat di rumah sakit selama lima hari. Bisa jadi sakitku karena hati dan perasaanku tak nyaman dengan pernikahan Sari.

Cukup lama buat aku untuk berdamai dengan hatiku. Sari adik paling bungsu, berani-beraninya menikah terlebih dulu. Ini tak adil, meskinya ia menikah setelah aku dan Utari. Kenyataan ia yang menikah terlebih dulu.

Di sisi hatiku yang lain aku paham, setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri, termasuk untuk menikah. Toh, Sari tak mungkin menungguku. Sekarang aku dengar ia tengah hamil tujuh bulan.

Dering ponselku meraung-raung lagi. Aku angkat. Dari seberang Utari menyampaikan pesan ibu agar aku segera pulang. Ada yang ingin ibu bicarakan, masalah penting.

“Zaman sudah canggih Ut, kalau ada yang harus dibicarakan bisa kok lewat telepon. Tak harus pulang jauh-jauh dari Jakarta. Menghabiskan energi juga biaya.”
“Biar ibu tanggung ongkos kamu bolak-balik Jakarta- Batang, Witri.”

Aku tutup mulutku. Darahku berdesir hebat, tak aku sangka Utari memindahkan ponselnya ke ibu, rupanya dia tengah ada di rumah. Kabar beberapa hari lalu dia tengah sibuk merias pengantin di Yogya. Aku mencoba mengatur napas. Berusaha tenang. Aku harus belajar untuk melunakkan hatiku setiap kali berbicara dengan ibu. Aku tak ingin membuat ibu marah, apalagi sakit hati padaku.
“Wit, tolong pulang. Pembicaraan kali ini sangat serius. Tak cukup lewat telepon.”

Dari seberang, pembicaraan ditutup oleh ibu. Aku pelan-pelan menutup ponsel. Keringat dingin mengucur. Seluruh tulangku seperti terlepas dari tubuh. Sikap ibu menutup pembicaraan membuatku mau tak mau harus pulang. Hari ini, Kamis. Masih ada waktu untuk ngebut menyelesaikan pekerjaan.

Handuk yang ada di bahu kiriku aku peluk. Aku pejamkan mata. Kalau memang Utari mau menikah, aku sudah ikhlas menerima kenyataan.

* * *

Sesungguhnya setiapkali aku merasa jenuh karena rutinitas pekerjaan, aku selalu merindukan pantai.

Aku suka memandangi laut lepas di tepi pantai Batang. Kangenku pada tanah kelahiran sering membuncah, tetapi dua tahun terakhir ini aku enggan pulang.

Aku sangat malas dan jenuh. Setiapkali pulang selalu pertanyaan itu itu saja yang ibu ajukan. Kapan aku menikah.
* * *

Ibu masih sibuk melayani pembeli ketika aku tiba di rumah. Aku langsung masuk ke ruang tamu yang ada di sebelah kanan warung. Sekilas aku lihat warung ibu penuh dengan barang-barang. Artinya omset penjualan barang dan perputaran uang berjalan baik.
Dari ambang pintu, Utari yang baru keluar dari kamar menoleh begitu aku mengucap salam.

“Mbak Wit,” Ia menyambutku dengan menjabat tanganku. Mencium punggung tanganku. Dia adik pertamaku. Sejak kecil ia memiliki kesantunan yang luar biasa. Kepribdiannya mirip bapak. “Mbak istirahat dulu, biar Utari bikin teh hangat.” Aku mengiyakan.

Utari membalikkan badannya menuju dapur sembari mengabarkan pada ibu, aku sudah di rumah. Aku duduk di kursi yang ada di ruang tengah, sembari melepas lelah karena perjalanan.

“Mbak sudah bilang berkali-kali kalau kamu mau nikah duluan, mbak ikhlas,” ucapku begitu Utari menyodorkan segelas teh hangat. “Aku tetap menunggu mbak Wit.”
“Kalau aku nggak nikah-nikah juga gimana?”
“Ya janganlah Mbak.” Utari lalu duduk berhadap-hadapan denganku.

“Kenyataan sampai sekarang aku belum punya calon. Apa kamu mau nunggu kelamaan Utari. Mbak nggak mau menghalangi niat baik kalian untuk berumah tangga.” Utari diam. Kepalanya menunduk menekuri lantai. Cukup lama ia hanya diam.
“Utari,” pecahku.
Utari menatapku. “Menikahlah demi kebaikan.” Utari menggeleng.
“Utari …”
“Jangan buat Mbak merasa bersalah Utari. Menikahlah atau kamu tak usah lagi anggap aku kakak.”
“Mbak…”
“Melihatmu bahagia Mbak turut bahagia.”

* * *

Aku pandangi laut lepas pantai Batang. Pesta pernikahan Utari baru saja usai. Sari pulang bersama suami juga sikecil. Aku pulang masih sendiri, tanpa pendamping di sisiku.
Air laut yang tenang seolah tahu betapa aku merasa tersisih dan kesepian.

* Depok, April 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *