Blues untuk Karna

Ganug Nugroho Adi *
oase.kompas.com

(1)
AKU tak juga mengerti ketika sore itu tiba-tiba saja ia menemuiku dan mengaku sebagai ibuku. O, perempuan dengan sepasang mata kelam, siapakah dirimu?

“Aku Kunti. Akulah perempuan yang melahirkanmu bertahun lalu. Bukan Rada ibumu. Ia hanya seorang istri kusir kereta yang menemukanmu dari sungai itu.” Continue reading “Blues untuk Karna”

Caleg Pilihan

Imam Nawawi Mar’ah
http://www.suarakarya-online.com/

Aku menyesal menghabiskan sisa umur di bangku kuliah sampai pendidikan S3. Sudah yang ke tujuh kalinya mayat di temukan dengan kepala terpenggal di aliran arus sugai. Namun tetap saja tidak bisa bantu menghentikan peristiwa kematian beruntun itu dengan bekal pengetahuan yang aku miliki. Mungkin sebagai adat istiadat, aku maklumi saja jika para lelaki di tempatku beradu kekuatan dan kejantanan lantaran istri mereka selingkuh dengan orang lain. Continue reading “Caleg Pilihan”

Puber Kedua

Riz Koto
http://www.suarakarya-online.com/

“Permisi, Om…” Kalimat itu menjadi pemukul puncak deguban jantungku yang sejak tadi, sejak dia kulihat di ujung jalan, berjalan menuju rumah orangtuanya persis di depan rumahku.
“Yaaa…,” jawabku pelan dan lembut sambil memandangi senyum dan sikapnya yang sopan, hormat, dan tampak kikuk. Continue reading “Puber Kedua”

Bayang Malaikat

Dianing Widya Yudhistira
http://www.suarakarya-online.com/

AKU terjaga oleh dering pendek ponselku. Segera aku raih ponsel yang selalu aku taruh di meja tulis yang ada tepat di samping kanan tempat tidur. Saat membuka sms yang masuk, aku terhenyak.
“Bila kumati, aku ingin menghantuimu.” Buru-buru aku tekan delete. Ponselku kembali berdering pendek.
“Semestinya kau ikut mati terpanggang dalam ledakan itu.” Aku kian terhenyak. Detak nadiku entah berdenyut entah tidak. Continue reading “Bayang Malaikat”

Anak Wali Kota

Yonathan Rahardjo
suarakarya-online.com

Ketika malam turun, mentari lari dari wajah belahan bumi. Udara mencekam dalam dingin, sapuan angin mengusir debu jalanan. Bahkan bis kota pun ketakutan, mereka masuk gubuk reyot, ada yang masuk kelambu merah. Bajai terseok-seok menyuruk kali, becak terbang ke bui. Tentu saja asap knalpot terbirit-birit dihembus udara lancang.
“Tidurlah malam hari, dengan jendela terbuka, agar angin malam membisikkan kenangan indah bagimu,” katanya. Continue reading “Anak Wali Kota”

Bahasa ยป