Membakar Api

Eka Kurniawan
cetak.kompas.com

Setelah yakin istrinya menghilang dari rumah sakit, tentu bersama bayi mereka yang baru lahir, Mirdad segera menelepon sang istri. ”Artika, di mana kamu? Bagaimana dengan bayi kita?” Suaranya lebih ditujukan untuk kotak suara, yang diawali pesan pendek Artika, ”Suamiku, jika kamu mau melihat anak kita, kembalikan dulu ayahku ke rumah.” Continue reading “Membakar Api”

Lelaki Terpuji Itu

Nelson Alwi
http://jurnalnasional.com/

DIA bukan modin. Tapi sepengetahuan orang-orang, kepeduliannya pada musala di kompleks perumahan di mana kami bermukim, melebihi loyalitas seorang modin atau penjaga rumah ibadah mana pun.

Biasanya, antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, dengan handuk kecil tersampir di pundak, dia sampai di musala. Tenang-tenang dia singkapkan pintu dan jendela rumah ibadah itu. Tenang-tenang pula dia buka gudang perkakas. Kemudian, ada-ada saja yang dia kerjakan?tergantung cuaca dan, mungkin juga, merupakan kebijakan atau kemauannya belaka. Continue reading “Lelaki Terpuji Itu”

M A R I N A

Iman Suwongso
http://oase.kompas.com/

Marina, aku mencarimu di ujung jalan, tempat biasanya kamu berdiri di bawah pohon randu, berpayung warna-warni. Sudah kuhabiskan waktu setengah hari aku disitu, namun bibirmu yang bergincu tebal itu seperti lenyap ditelan debu yang mengepul oleh roda truk. Aku menunggumu bersama burung prenjak, yang menahan kicaunya karena dia takut kehilangan kemerduannya saat kamu melenggang dari tikungan jalan. Sudah aku tanyakan kepada tetangga terdekat di ujung jalan ini, juga kepada kapuk-kapuk yang berterbangan, seperti salju hinggap di rambutmu yang legam. Mereka diam. Lebih bisu dari patung kuda di perempatan jalan itu. Continue reading “M A R I N A”

Tetanggaku Cina

Weni Suryandari
http://oase.kompas.com/

?Ma……..Mama, Bu Mita udah pulang!? celoteh yang biasa kudengar setiap kali aku baru pulang mengajar dan baru mau membuka pintu pagar. Rumah yang terletak di hadapan rumahku itu selalu ramai dengan celoteh anak-anak kecil, si kembar dan si bungsu. Ketiganya laki-laki semua.

Aku menengok dan tertawa melihat celoteh mulut-mulut kecil itu. Mereka berebutan naik ayunan bahkan celah-celah pagar untuk bisa mengintipku dari balik pagar yang ditutupi fiberglass
?Iya, kenapa sayang? Ibu masuk dulu, ya?? Aku menyahut sambil membuka pagar. Continue reading “Tetanggaku Cina”

Bahasa »