Monolog Hujan

Fina Sato
http://pr.qiandra.net.id/

Percakapan Awal: Surat Tanpa Alamat

Pintu-pintu tahun bersibak seperti pintu-pintu bahasa, menuju entah. Semalam kau bertutur kepadaku: esok, kita musti menemukan isyarat-isyarat, mengurai lanskap, merancang rencana di halaman ganda. Esok, kita mesti menemukan, sekali lagi (1). Continue reading “Monolog Hujan”

Dekrit

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya.

?Sawah, tegalan, kebun kelapa, hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita,?katanya. ?Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau dipaksa bertani, kita akan bangkrut. Jual semua, kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Continue reading “Dekrit”

KAFE DAN SALJU

Hudan Hidayat
http://www.infoanda.com/

Perjalanan Paris-Barcelona kami tempuh dengan kereta api. Kami berangkat malam hari dan sampai di kompartemen aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika tidurku sudah cukup. Saat membuka gorden aku merasa seolah dalam peta buta. Kotakah itu? Atau desa? Gelap malam membuat benda di luar kereta jadi gundukan hitam, meski lampu jalanan berusaha menembusnya. Continue reading “KAFE DAN SALJU”

Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat

Beni Setia
jawapos.com

WARTAWAN cepak yang kemarin memburu dan minta komentar itu mendadak muncul –entah dari mana ia tahu warung tempatku nongkrong– tepat ketika Yu Mah menghidangkan segelas kopi dan empat potong pisang goreng. Tanpa malu dan jauh dari mau menghargai privasiku ia segera menyorongkan koran sambil menghenyak di samping. Melirik ke Yu Mah dan minta dibuatkan kopi. Menyulut rokok dan bertanya apa aku keberatan dengan berita tentang kematian Marni di halaman muka. Continue reading “Cerita Singkat tentang Para Pembunuh Psikopat”

Gerbong Maut 1

Imam Muhtarom
balipost.co.id

Bagian 1

Kami berada di atas gerbong yang melaju tak terkendali. Seperti menaiki sebuah perahu kayu yang berputar di atas ombak dan telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Perahu itu belum pernah berhenti. Kami seperti tersesat di perairan maha luas dan kami hanya bisa menduga-duga tentang keluasan itu. Continue reading “Gerbong Maut 1”

Bahasa ยป