KAFE DAN SALJU

Hudan Hidayat
http://www.infoanda.com/

Perjalanan Paris-Barcelona kami tempuh dengan kereta api. Kami berangkat malam hari dan sampai di kompartemen aku langsung tertidur. Aku terbangun ketika tidurku sudah cukup. Saat membuka gorden aku merasa seolah dalam peta buta. Kotakah itu? Atau desa? Gelap malam membuat benda di luar kereta jadi gundukan hitam, meski lampu jalanan berusaha menembusnya.

Di antara gedung yang berjajar dan terpisah di sepanjang rel kereta yang kami tinggalkan, kulihat mobil-mobil parkir di halaman. Kota dan tempat di dunia mana pun selalu sama: malam membuat suasana murung dan putus asa. Sedih seolah malam itu sendiri. Begitulah aku merasa kota dan mobil-mobil yang terparkir itu, seakan menunggu dan termangu. Siapakah yang akan datang ke kota itu? Tangan mana yang akan memutar di belakang kemudi? Menuju kemana roda-roda yang membawanya?

Di Paris tadi aku berjalan-jalan di Avenue Des Champs Elysees. Banyak sekali orang lalu-lalang. Sendiri-sendiri atau berdua. Aku mencari-cari kalau-kalau ada yang kukenal. Tak seorang pun yang kukenal. Aku mencoba tersenyum kepada seorang perempuan, yang harum tubuhnya terbawa angin yang datang dari depan. Parfum membangkitkan gairahku. Tapi perempuan itu buru-buru berlalu. Tangannya memeluk tas yang disandangnya, seakan memeluk hidupnya. Gedung-gedung tua dan kokoh seolah termangu. Aku merasa mereka punya mata dan mulut untuk bicara. Salah satu gedung di pojok simpang yang lebar, sebuah kafe yang cantik dan transparan, seolah berkata padaku:

“Kita sama, Tuan, sama-sama menunggu. Saya menunggu orang-orang putus asa datang padaku. Aku senang mereka ke sini. Menumpahkan jiwanya sendiri. Membuatku merasa tidak sendiri. Lihat, hidup kita susah bukan? Sudah lama aku terpacak di sini. Bila musim dingin dan salju menutupi kota Paris, tubuhku menggigil. Aku ingin pergi menghindari musim dingin, tapi diriku terlalu berat untuk melangkah. Aku ingin menghalau musim dingin. Tapi bagaimana menghalau nasib sendiri. Aku tidak bisa kemana-mana. Seperti Tuan kini, bukan, tidak bisa kemana-mana.”

Gedung itu tersenyum sedih. Seorang lelaki keluar tanpa semangat dari dalamnya. Ia pergi begitu saja. Kepergian lelaki itu membuat kafe itu tambah murung. Lihat, katanya, semua orang di sini menumpahkan kesedihannya. Melangkah tanpa menoleh. Kau mengerti maksudku? Kesepian adalah musuh yang tak ada obatnya. Tidak juga perempuan cantik dengan wajah sendu yang baru masuk ini. Aku tahu perempuan ini. Sudah tujuh tahun dia menunggu lelakinya kembali. Tapi lelakinya tak pernah kembali. Menghilang begitu saja. Perempuan itu selalu duduk di pojok. Memesan minumannya dan meminumnya. Tangannya menggenggam gelas. Jiwanya melayang. Kadang kurasakan dia memanggil-manggil seseorang. Serasa kudengar panggilannya:
“Musim dingin tiba lagi, sayang. Tapi kau tak ada. Kau di mana sesungguhnya? Aku sudah tujuh tahun menunggumu. Lelah dengan bayanganmu. Tapi, bukankah kita sudah berjanji di sini? Tapi sebenarnya kamu ke mana? Tak bisakah mengirim kabar? Kamu ke mana, sayang?”

Tuan, perempuan itu menangis. Parfumnya bercampur air mata. Sampai kepadaku. Aku memang terbuat dari batu dan pasir, tapi dapat kurasakan kesedihan itu. Kayu dalam diriku berasal dari tanah juga. Makanya hatiku dapat menjenguk hatinya. Seperti kujenguk hatimu kini. Kamu juga sedih, kan? Lihat matamu menyorot ke sana ke mari. Sebenarnya tak ada orang yang kau cari di sini. Sebenarnya perempuanmu tak ada di sini. Jauhnya tak dapat kubayangkan. Kau dari mana sih? Wajahmu Asia. Cinakah? Atau Jepang? Korea?

Tapi, sudahlah. Tak penting kau darimana. Tapi kalau boleh menyaran, sampai ke sini tak akan mengusir kesepian hatimu. Obatmu tak ada di sini. Mungkin di daratan tempat kau bertolak. Kalau boleh menyaran lagi, kembalilah ke negerimu. Carilah perempuanmu sampai dapat. Berbaik-baiklah padanya. Bahagia-bahagialah padanya.

Aku mendengar kafe itu menangis. Barangkali tangisnya adalah muntahan air mata pengunjungnya. Kafe itu menampungnya dan kini air mata itu meronta. Sampai ke kakiku yang berada tepat di seberangnya. Jauh juga air mata itu berjalan. Ia meleleh bersama salju yang datang dibawa angin dingin, bertiup dengan bunyi serupa tangis manusia. Bunyi yang membuatku termangu. Menunggu siapakah aku di sini? Kafe itu benar. Tak sorang pun yang kutunggu. Tapi, mengapa aku sudah demikian jauh meninggalkan rumah? Apa yang membuatku sampai ke sini.

Kami bertengkar tadi pagi, dan aku berkata, aku akan terbang ke Paris. Dia bilang terbang saja, kalau itu yang kau suka. Aku berkata aku tidak menyukainya. Dia menjawab, mengapa kau lakukan? Kalau kau tak suka, jangan. Lebih baik di sini. Aku ingin di sini tapi apa yang terjadi. Kau marah sepanjang hari. Aku jadi gugup dan tidak tenang. Aku marah kau tahu sebabnya. Dan kau bisa mengubahnya. Tapi kau tak mau mengubahnya. Jadi bagaimana? Apa? Hidupmu. Mengapa kau tak mau mengubah hidupmu? Apa yang menjadi penghalang kau mengubah hidupmu.

Kupandang lama-lama perempuanku. Ia tetap sosok yang kukenal: sorot matanya sipit dan keras. Tarikan bibirnya menampakkan kekerasan hati. Kami tak pernah ada titik-temu. Seperti malam itu. Aku dan dia termangu-mangu. Di luar jendela hujan turun, seperti patahan hidup. Sampai gelap tiba dan aku meraihnya. Kami membenamkan tubuh kami ke dalam selimut.

Lama aku menyadari, tepat di depanku, duduk perempuan yang berwajah sendu itu.
“Jadi kau,” kataku, “perempuan yang diceritakan oleh kafe itu. Jadi kaulah orangnya. Lelakimu kemana?”
Perempuan itu berkata seolah dia lama menunggu kata-kataku.
“Di Avenue Des Chams Elysees tadi aku melihat kamu, berdiri tepat di simpang jalan. Aku ingin melambai, tapi ketika di luar kau sudah menghilang. Kau kemana tadi?”
“Tidak ke mana-mana. Aku berjalan saja dan kakiku ternyata membawaku ke menara Eiffel.”
“Aku tahu, aku mengikuti kau dari belakang. Sebentar saja aku kehilangan kamu.”
Kereta berhenti di sebuah stasiun.
“Stasiun apa ini?” kataku.
“Aku tidak tahu,” katanya. “Inilah pertama kali aku ke Barselona.”
“Kau dari Paris? Asli Paris maksudku.”
“Benar. Kau?” “Aku dari Indonesia.”
“Jauh negerimu? Aku belum pernah ke sana.”
“Jauh juga. Ke sanalah sesekali. Negeriku enak. Tidak dingin seperti negerimu.”
“Aku malas berpergian. Kukira aku akan di Paris saja. Kukira aku akan mati di sana. Tapi siapa tahu. Mungkin aku akan mati di tempat lain. Entahlah. Aku merasa tidak bisa mengendalikan hidupku.”
“Mengapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Aku juga tidak bisa mengendalikan hidupku.”
“Kalau begitu kita sama.”
“Kukira ya.”
Kereta bergerak lagi.
“Lihat kereta ini bergerak, seperti hidup kita.”
“Ya. Tapi hidup kita tidak ke mana-mana. Aku merasa hidupku berhenti begitu saja. Tidak seperti kereta ini, melalui kota demi kota sebelum sampai ke Barcelona.”
“Di Barcelona kau akan kemana?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau?”
“Aku juga tidak tahu.”
“Kita sama. Kalau kau mau, marilah kita sewa hotel. Mungkin kita dapat bercerita banyak.”
“Kukira itu gagasan yang bagus.”
Perempuan itu menyeka hidungnya yang mungil dengan tangannya. Tangannya begitu halus dan lembut. Aku merasa enak sekali kalau tangannya menyeka hidungku juga. Mungkin dengan begitu aku jadi sedikit tenang. Setidaknya, ada seseorang yang memperhatikan. Betapa mengerikan hidup sendirian. Tapi, aku telah hidup sendirian. Dan tahun-tahun yang mengerikan itu telah kujalani.

Kini aku membayangkan tahun-tahun itu dengan perasaan yang tak mungkin. Bagaimana mungkin aku telah hidup sendirian begitu lama? Rasanya tak masuk akal aku telah menjalaninya. Perempuanku di Indonesia, adakah ia hidup bersamaku? Kukira tidak. Kami secara fisik memang hidup bersama. Tapi kukira hati kami tidak pernah bisa sama. Aku tetap merasa hidup sendirian meski dia telah lama hidup bersamaku. “Dapat kau bayangkan hidup kita sendirian?”
“Oh, apa?”
Perempuan dari Paris itu tergagap. Sorot matanya putus asa.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” kataku. “Kau memikirkan lelakimu, bukan?” Ia tersenyum. Giginya putih dan berderet rapi. Bibirnya serasi dengan hidung dan wajahnya. Membentuk kelembutan seorang wanita. Ingin sekali aku meraihnya. Suaranya seperti datang dari jauh ketika ia berkata:
“Aku memang memikirkannya. Entahlah di mana dia kini. Mungkin sudah hidup bersama wanita lain. Sudah tujuh tahun tidak ada kabar. Dan selama itu aku tetap hidup sendirian. Mungkin dia sudah mati.”
“Kau tak pernah berusaha mencarinya?”
“Tahun-tahun pertama aku mencarinya. Keluarganya satu demi satu kuhubungi. Tapi tak sorang pun yang tahu.”
“Kalau begitu mengapa kau tetap menunggunya? Bukankah kau bisa pergi kapan pun kau mau?”
“Itulah yang sepanjang tahun kupikirkan. Aku melupakannya dan aku pergi. Hidup bersama lelaki lain. Tapi, nyatanya aku tetap memikirkannya, nyatanya aku tetap tidak pergi. Entahlah mengapa hidupku ini. Tapi aku tahu kau mengerti dengan baik soal ini. Benarkan kau mengerti?”
“Kukira ya, aku mengerti. Aku pun tidak bisa pergi dari perempuanku.” “Cantikkah dia?”
“Siapa?”
“Perempuanmu itu? Kukira dia cantik. Aku tahu jiwamu.”
“Benarkah kau tahu jiwaku?”
Perempuan itu tersenyum. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan membarut-barut kepalaku. Sejenak kemudian dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke kursiku. Menjatuhkan dirinya ke dadaku. Kudengar nafasnya teratur. Tubuhnya padat di balik baju dinginnya. Aku merasa mengambang ketika membelai rambutnya yang harum. Saat aku mengecup keningnya perempuan itu mengatupkan matanya pelan-pelan. Bibirnya membuka seakan menunggu kecupanku selanjutnya. Aku pun mencium bibir yang merekah itu. Dia membalas kecupanku dan tangannya meraih tubuhku erat sekali.

Paris-Barcelona, 17 Januari 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *