Karma

Inggit Putria Marga
http://www.lampungpost.com/

TERLAHIR sebagai perempuan dan melanjutkan hidup di dusun bernama Biru Berlian, tinggallah aku: Yue, di sebuah rumah dengan beberapa jenis makhluk. Ada yang sejenis denganku (jenis yang kau kenal sebagai manusia, yang kemudian kusebut sebagai keluarga). Jumlah manusia yang hidup satu rumah denganku sebanyak empat, para manusia itu memiliki panggilannya sendiri, yakni ibu, bapak, kakak, dan adik. Continue reading “Karma”

PERJALANAN PENUH MAKNA

Nadhi Kiara Zifen
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

“Broak!!!”
Pintu kamar ditutup Nadin dengan sekeras-kerasnya. Entah mengapa Nadin juga heran perasaannya hari ini sangat acak kadut tak beraturan.

Pulang dari sekolah, Nadin langsung menelentangkan tubuhnya di atas ranjang yang biasa dibuatnya melepas lelah. Ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi, kayaknya tak ada yang peduli dengan hari ulang tahun Nadin. Dunia remaja telah digenggamnya, umurnya telah menginjak 17 tahun, masa paling manis-manisnya dalam hitungan remaja. Continue reading “PERJALANAN PENUH MAKNA”

Calon Ibu

Janu Jolang
http://oase.kompas.com/

Saat mendengar dokter kandungan itu berkata bahwa bayiku sungsang, aku berpikir ini pasti operasi sesar. Sembari tangan kiri menunjuk ke arah monitor USG, tangan kanan dokter lelaki muda itu menggeser-geser alat scanner pada perutku yang buncit. Aku sedikit malu ketika kain penutup yang melingkari perutku tergeser ke bawah dan menampakkan sedikit bulu kemaluanku yang menyembul dari cawatku. Beginilah wanita waktu hamil, serba repot. Continue reading “Calon Ibu”

MAY

Eny Rose*
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/

Prolog: (Jiwa tersandung kabut raga tak henti merintih, malam terbelenggu cinta nan ayu. mozaikmozaik rindu menggertak sunyi. Namun, bintang thariq masih bernafas di sela cakrawala, sang mega kelana. Rerintik hujan pun turut mengiang di kahyangan percintaan sembari temani liku anggara nan merunduk sayu bagai sang khafadha setia menjaga adam dan hawa). Continue reading “MAY”

Tabung Cahaya

Zelfeni Wimras
http://www.jawapos.com/

”Ibu, anak jantanmu pulang!”

Tapi, suaraku berganti bulatan-bulatan udara, seperti gelembung sabun, berkejaran di atas kepalaku. Suhu dalam tubuh seketika berganti. Arus hangat menderas dari jantungku berganti aliran dingin, menyergap tulangku. Tanganku merasakan sesuatu yang licin. Lumut hijau kehitaman yang membungkus cabang manggis yang sedang kugelantungi pecah. Air keruh menyebar. Serpihan lumut melintas di depan kacamataku. Kukerdipkan mata. Menggeleng. Pecahan lumut itu menyebar. Sebagian menempel di dinding bekas rumah yang juga dibungkus lumut. Continue reading “Tabung Cahaya”

Bahasa ยป