Tabung Cahaya

Zelfeni Wimras
http://www.jawapos.com/

”Ibu, anak jantanmu pulang!”

Tapi, suaraku berganti bulatan-bulatan udara, seperti gelembung sabun, berkejaran di atas kepalaku. Suhu dalam tubuh seketika berganti. Arus hangat menderas dari jantungku berganti aliran dingin, menyergap tulangku. Tanganku merasakan sesuatu yang licin. Lumut hijau kehitaman yang membungkus cabang manggis yang sedang kugelantungi pecah. Air keruh menyebar. Serpihan lumut melintas di depan kacamataku. Kukerdipkan mata. Menggeleng. Pecahan lumut itu menyebar. Sebagian menempel di dinding bekas rumah yang juga dibungkus lumut.

Dingin makin terasa. Aku tahan-tahan gigil di pangkal lenganku. Sejenak memandang ke beberapa arah. Arus keruh dari anak sungai kadang menghalangi pemandangan. Seperti arus itu jugakah waktu mengubah keadaan? Kadang tenang dan menenteramkan, tak jarang pula garang dan lesat seperti kilat.

Ketika di?Tanjuang Pauah akan dibangun dam skala kecil pembendung Batang Maek, anak Sungai Kampar Kanan, aku genap 9 tahun.

Aku dan teman-teman sering bertengkar bagaimana cara membaca papan besar bertuliskan: Electric Power Service Co. Ltd yang terpajang nyaris di tiap simpang jalan. Terlintas cerita, di kampung kami akan dibangun waduk besar. Muara Kampar Kanan dengan Batang Maek akan diempang dengan beton, sehingga air akan terkumpul seperti danau.

”Bagaimana kalau air tergenang, di mana kita akan mengembalakan kerbau?”

”Kalau air tergenang, kita bisa mandi-mandi, berenang, berperahu sepuasnya, atau memancing sepanjang hari!”

”Bodoh! Kebun sawit bapakmu mau dikemanakan?”

Umurku bertambah setahun. Orang-orang yang menulis papan besar dengan Electric Power Service Co. Ltd datang lagi membawa usulan: Membangun dua buah bendungan di Tanjuang Pauah dan Koto Panjang atau bendungan tunggal berskala besar di Koto Panjang?

Aku mulai melupakan usiaku ketika rencana demi rencana terus berjatuhan. Para perancang bendungan itu berdatangan dari negeri yang jauh. Pilihan jatuh pada bendungan tunggal di Koto Panjang. Aku dengar, tinggi bendungannya 58 meter.

Aku sering cengang kiri cengang kanan mendengar orang-orang kampung meributkan 26.444 rumah, 8.989 hektare kebun-sawah, jalan negara 25,3 km, dan jalan provinsi 27,2 km akan terbenam bila bendungan itu sudah digenang. Sedangkan, bendungan satu lagi yang dibuat setinggi 38 meter juga akan menenggelamkan 390 rumah, 1.860 hektare sawah-kebun, dan jalan negara sepanjang 16 km.

Kakek-kakekku, paman-pamanku, dan bapak-bapakku yang terpandang mulai bergairah menggalang massa dengan jargon kebulatan tekad. Tokoh adat, pemuka agama, pemuda, pemerintah siap berkorban untuk mewujudkan pembangunan bendungan raksasa itu.

Aku terdesak. Tersedak. Makin lupa pada usia sendiri. Bapak-bapakku, kakek-kakekku, paman-pamanku terus sibuk menggalang kesepakatan. Proyek besar di ambang saku-saku. Langkah cepat diambil. Seluruh harta kekayaan penduduk yang bakal tenggelam didaftar. Pohon, rumah, pekarangan, sawah, semua dicatat.

Penduduk dilarang membangun atau membuka lahan pertanian baru. Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti puskesmas, pasar, atau juga sekolah bahkan jalan sepanjang 35 kilometer di daerah ini tidak lagi diperhatikan.

Semangat bapak-bapakku, kakek-kakekku, paman-pamanku menyala-nyala. Kebulatan tekad digelar di mana-mana. Di Desa Pulau Godang, kebulatan tekad dibacakan para datuk, orang-orang terpandang kami. Acara diawali dengan penyerahan sebilah keris dan miniatur perahu. Kampung kami diserahterimakan dan kami akan dipindahkan. Kemudian, ditempatkan kembali seperti kumpulan keluarga sebelumnya agar adat dan tradisi kami tidak hilang.

Pemberian SK pembebasan tanah telah dilangsungkan. Tak menghiraukan desakan untuk menghentikan proyek Koto Panjang dari mereka yang peduli. Exchance Note (EN) tetap ditandatangani atas proyek bernama: Koto Panjang Hydroelectric Power and Asosiated Transmision Line Project.
***

Waktu yang kilat. Usiaku beringsut ke tepi. Di telinga berdesakan kalimat: ”Ganti rugi tidak bermasalah.”

”Kita di ambang kecerahan.”

”Industri hilir bisa lebih maju.”

”Sawit dan karet kita hancur, Mak!”

”Jadi, bagaimanapun, pembangunan harus diteruskan.”

”Kita berkubur di sini saja, Nak.”

”Tidak, kamu harus terus sekolah!”

”Di kampung kita yang baru, apa ada sekolah?”

”Ayo berteka-teki: Ditutup selebar kuku, dibuka seluas alam, apa itu? Jangan picingkan matamu, Nak!”

”Gajah yang bermukim di lokasi harus diselamatkan dengan memindahkannya ke tempat perlindungan yang cocok.”

”Ibu, jangan sakit, Ibu!”

”Keluarga yang kena dampak proyek tingkat kehidupannya harus sama atau lebih baik dari kehidupannya di tempat lama.”

”Ayah, kau juga tergiur? Kau biarkan kami terhuyung-huyung begini?”

”Persetujuan pemindahan bagi yang terkena dampak proyek prosesnya harus dilakukan dengan adil dan merata!”

”Ibu! Kenapa tanganmu dingin?”

”Kerbau-kerbau itu dijual saja. Setelah dapat rumah pengganti, kita pergi jauh-jauh dari sini!”
***

Sepanjang tahun 1991, persetujuan pemindahan dan ganti rugi menjadi teriakan yang menghabiskan ludah. Tuntutan demi tuntutan disampaikan dengan mendatangi kantor-kantor pemerintah. Action plan diserahkan. Penampungan dirancang di Koto Ronah dan Muaro Takuih. Dana tahap dua diturunkan. Syarat-syarat pemindahan yang ditetapkan telah dipenuhi. Kontrak perjanjian secara resmi dibuat. Masyarakat mulai dipindahkan ke lokasi permukiman baru.

Januari yang lain. Aku terjaga. Usiaku 23 tahun, ternyata. Tapi, ibu, aku sudah tidak di sana lagi. Kabarnya, setelah kepergianku ke Jakarta, pembangunan mulai dilaksanakan. Dari ranah yang jauh dan acuh, aku hanya seorang yang tak pernah berhasil untuk lupa. Selalu kudengar hiruk-pikuk tak berkesudahan. Berimpitan. Di telingaku terdengar ribut. Tapi, di telinga lain mungkin berubah jadi nyanyian paling merdu.

Yang ingin merengek, merengeklah. Meratap, merataplah. Bernyanyi, bernyanyilah. Semua mesti didendangkan atas nama kemajuan, kemakmuran orang banyak. Silakan mengadukan kasus ganti rugi. Bila perlu, didampingi pengacara.

Katakan: Bendungan selesai dibangun dan penggenangan percobaan dilakukan, tapi kami kehilangan tanah air kami yang sebenarnya. Penggenangan secara resmi, penekanan tombol penurunan pintu-pintu sekat air dam digelar. Sirene di hati kami tak kalah lengkingnya. Kami tak ingin diberi kampung baru yang bisu, tanpa sejarah, tanpa kenangan.

Oi, bapak-bapak yang mengerti urusan perumahan, kami bukan tak suka dimukimkan di penampungan baru, bukan tak mau menerima lahan kebun karet yang bapak janjikan. Kami hanya tidak ingin terkapar di ketidakmengertian. Kami tak ingin terjerat di kesemrawutan.

Ah. Mengapa hanya mendiskusikannya di ruang-ruang seminar, lalu sama-sama sepakat mengatakan bahwa penyebab banjir besar tidak bisa dilepaskan dari pengaruh adanya dam raksasa itu?
***

Kulepaskan genggaman tanganku dari cabang manggis itu. Aku seperti anak siamang yang belajar berayun. Sejenak kunikmati baju lumut di batangnya. Daun-daunnya luluh, mencair. Batang manggis ini dulu tumbuh subur di tikungan menjelang masjid. Kami menyebutnya manggis sumatera. Konon, kala perang dulu, tentara Belanda sangat menyukainya.

Dua kelok menjelang batang manggis sumatera itu membangkai gedung sekolah dasar tempat dulu bocah-bocah bercita-cita tinggi menggilai pensil dan buku-buku. Kini, tak beratap lagi. Sekitar 500 meter lagi setelah masjid, ada sebatang kelapa menjulang tinggi di pekarangan rumah beratap daun rumbia. Ke sana aku kini. Di sisi batang kelapa itu, ibuku berkubur.

Aku masih ingin berlama-lama dengan pemandangan ini. Sudah tak terhitung waktu yang melesat sampai aku didamparkan di ruang berlumut ini. Lumut kenangan, lumut sunyi, lumut yang menyakitkan. Aku betulkan masker air di mulutku. Aku tidak leluasa mengatur napas melalui selang yang disambungkan ke tabung oksigen di punggungku. Aku merasa seperti anak siamang yang belajar berayun. Kaku. Sementara gelembung-gelembung air di depanku terus berkejaran.

Kupandangi tiang-tiang listrik yang kuyup dan karatan tegak lurus menunjuk langit. Tak ada lagi cahaya yang akan dikirim ke rumah-rumah yang membangkai. Di daratan sudah ada yang menggantikan. Tiang-tiang yang lebih baru dan kukuh.

Bagaimana lagi, bubur sudah matang. Kenapa mengidam nasi? Lapangan bola sudah jadi rawa. Berbidang kebun karet membusuk. Sawit mati muda (walau lukisannya terpahat manis di koin seribu). Berhektare sawah membentang sia-sia. Demi kemajuan, tak ada padi yang bernas setangkai. Apalah daya tangan ibuku yang mengeras di hulu cangkul. Bertahun-tahun ia tampar sekawanan humus dan lumpur-lumpur bumi ini. Di gulungan tali kerbau, di serajut rumput, di onggokan tahi kambing, nasib berpilin-pilin tak terkemasi.

Jika senja meretas langit, burung-burung pulang ke sarang, ibu terseok di pelipis jalan, seperti kayu bakar. Tak boleh bertunas, tak boleh berdaun, tidak boleh basah. Lalu, siapa saja boleh jadi api. Siapa saja boleh jadi tungku. Jadi periuk, jadi kuali. Siapa saja boleh jadi kangkung, jadi daun ubi. Siapa saja boleh jadi garam, jadi daun kunyit, atau jadi air yang mendidihkan.
***

Tabung oksigen dan perlengkapan renang ini kusewa di kedai-kedai kecil sepanjang jalan di pinggir bendungan Koto Panjang. Bekas kampungku itu kini telah jadi objek wisata bahari. Banyak turis ingin menyelaminya.

Saat memeluk nisan ibu yang dingin, lidahku terasa pahit. Gelembung-gelembung air makin banyak, berkejaran di atas kepalaku. Doa-doa untuk ibu yang kurapal-rapal sejak berangkat dari Jakarta seketika lenyap.

Arus hangat kembali menyebar dari jantung sampai ke punggungku. Seperti ada yang berdenging pada tabung oksigen yang kusandang. Cahaya kebiruan memancar dari sana. Rumah-rumah yang sudah lepuh di sekelilingku pun berbinar. Cahaya keperakan juga berpijar dari bekas bangunan sekolah dan masjid.

Dari ujung jalan menuju kebun karet, aku lihat ibu dan ayah berbimbingan. Di punggung mereka juga melekat tabung bercahaya seperti yang kupakai. Mereka melambai-lambaikan tangannya padaku.

”Pulang juga kau akhirnya, Nak?” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *