Duel Dua Bajingan

Fahrudin Nasrulloh
suaramerdeka.com

Di tebing jurang Wuluh di bukit Kumbang, onggokan mayat-mayat berserakan di mana-mana. Gubuk-gubuk padepokan lantak terbakar. Amis darah meruap, menjelma bebayang hantu ditelan asap dan menyarang pedat ke rongga-rongga batu karang.

Roh memayat beterbangan
Diterpa cahaya purnama
Yang lahir dan yang mati
Tinggal kisah di sekotak peti
Jadi kenangan esok hari Continue reading “Duel Dua Bajingan”

SARKASME

Imamuddin SA

Tak ada salahnya jika hari ini aku menghampiri adikku. Aku yang kebetulan baru pulang dari pasar menemui sahabat karibku. Ah tidak, aku lupa. Ia bukan sekedar sahabat karib. Tetapi saudara abadi. Saudara yang akan bersatu di kehdupan esok hari.

Ini sudah jadi kebiasaanku. Setiap pasar Pahing dan Wage, aku kerap menemuinya. Itu jika aku tidak ada aktifitas lain di rumah. Biasalah, ada saja yang aku omongkan dengannya di pasar. Dari masalah pribadi. Dagangan. Pergolakan hidup. Agama. Dan bahkan ketauhidan. Yang paling senang adalah ketika aku memperhatikan karakter pembeli yang cukup variatif. Aku bisa mempelajari psikologi seseorang dari caranya membeli dan menawar barang dagangan. Continue reading “SARKASME”

Mantra Minta Hujan

Moch. Fathoni Arief
kabarindonesia.com

Kekeringan hebat melanda desa antah berantah. Sebuah desa yang terletak di daerah perbukitan. Saat Tuhan menunjukkan tanda kekuasaan apalah daya manusia-manusia yang lemah ini. Musim hujan yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Bencana bagi semua mahluk yang ada. Lahan kering, tanah retak-retak, bongkahan-bongkahan yang begitu keras sehingga tak mungkin untuk digarap. Air menjadi masalah tersendiri. Untuk memasak, dan kebutuhan masak-memasak dan minum saja sulit apalagi untuk mandi. Continue reading “Mantra Minta Hujan”

Aku Tak Rela Ia Mati Terhormat

AS. Sumbawi

Ia telah kubunuh. Kuceraikan anggota tubuhnya bagian perbagian. Kemudian potongan-potongan yang masih mengeluarkan darah itu kumasukkan ke dalam kantong plastik hitam.

Puas sudah hatiku. Plong. Apa yang selama ini menjadi obsesi terbesarku telah tercapai. Ia sudah tak berdaya. Tidak menakutkan lagi. Mampus oleh tanganku. Ya, aku tak rela ia mati dengan cara terhormat. Continue reading “Aku Tak Rela Ia Mati Terhormat”

Pita Merah

A. Rodhi Murtadho *

Pita merah melekat erat di kepang rambut. Tertali rapi disengaja. Menambah kesan hati. Tertarik, imut merayap. Menitip segala yang mengguncang hati. Adat meratap tak bertuan. Hanya menyalahkan. Tak tertahan degup jantung. Mencuat menadakan rasa dari pandang. Menggeliatkan seluruh asa yang memekakkan. Hanya harap bertambah cemas terus melayang. Tak juga mengguncang karena dia belum juga datang. Hanya bisa menjadi selayang pandang berdendang. Pada setiap kehidupan. Continue reading “Pita Merah”

Bahasa ยป