Hanya Bisa Meratap

Ahmad Zaini *

Di depan rumah, Mbah Sanusi duduk sambil menghisap rokok. Dari mulutnya keluar kepulan asap membumbung menerpa atap rumahnya. Seketika asapnya menghilang bersama hembusan angin yang lewat pada siang hari. Tubuh kurus yang terbalut seragam veteran disandarkan pada kursi goyang peninggalan orang tuanya sewaktu zaman penjajahan. Di sebelah kanan seragam dinasnya tersemat lencana veteran yang dikenakan setiap peringatan hari pahlawan. Continue reading “Hanya Bisa Meratap”

DALGO

Sri Wintala Achmad
___Kedaulatan Rakyat

SEJAK istrinya pergi sebagai TKW, Dalgo, lelaki tiga puluhan itu banyak memboros-boroskan waktunya untuk menarikan ibu jarinya di setiap key-pad ponselnya. Ber-SMS dengan setiap perempuan yang sudi membalasnya, berkenalan, dan berkencan untuk bertemu di suatu tempat. Continue reading “DALGO”

Gerimis Logam

Indra Tranggono

Gerimis yang turun seperti jarum-jarum logam pada senja itu gagal mengirimkan harum tanah dan hawa sejuk ke ruang sebuah paviliun di pinggang bukit itu. Jaket dan sweater memang tetap melekat di badan, tapi panas di kepala sangat sukar ditahan. Entah sudah berapa kali gelas-gelas dituang kopi panas. Entah sudah berapa puluh puntung rokok menggunung dalam asbak. Ruang itu tetap saja dibungkus asap. Ribuan kata pun meluncur dari belasan mulut. Kata-kata itu menjelma ular kalimat yang saling mendesak, saling menindih, saling menghantam, dan saling memagut. Continue reading “Gerimis Logam”

Tanpa Pelayat dan Mawar Duka

Martin Aleida

Ke mana pun dia pergi, di benaknya terbayang sebuah lubang ancaman. Begitu besar dan menakutkan, siap menelannya, menyusul tumbangnya raja tiranis yang berkuasa lebih dari tiga puluh tahun. Dia sadar, di kalangan teman-teman, dia tak lebih dari seonggok daging yang hanya pantas untuk dirajam. Sekalipun begitu, kalau mati, dia menginginkan tempat yang pas untuk jasadnya. Continue reading “Tanpa Pelayat dan Mawar Duka”

KAMBOJA MERAH

Sri Wintala Achmad
___Minggu Pagi Yogya

Hampir seminggu. Deretan rumah bordil di pinggiran kota Langensari berpintu rapat terkunci. Di luar, tidak ada lelaki-lelaki mabuk menyanyi parau dengan iringan gitar murahan. Perempuan-perempuan berias menor, beraroma menyengat, dan mengisap sigaret pula tidak kelihatan sibuk berburu tamu. Continue reading “KAMBOJA MERAH”

Bahasa ยป