Cerita Lama dari Kami

Budi Saputra
http://www.lampungpost.com/

LENGANG, dan tak banyak yang dapat kami perbuat di sini. Sebuah rumah tua dengan arsitektur dan ornamen lama. Lukisan hitam putih para petani, dan patung harimau Sumatera yang setia menemani lenguh birahi kami di kamar pengap miskin cahaya. Di luar itu, hanyalah hamparan kesepian dan barisan makhluk hijau yang menatap kami setiap harinya. Continue reading “Cerita Lama dari Kami”

Terompah Kyai

Ahmad Zaini *

Hening malam itu seketika buyar ketika detak-detak suara terompah kiai bergelombang membahana di setiap sudut lokasi pesantren. Alas kaki kiai menggerus jalan beraspal menuju tempat beribadah laksana derap kaki kuda yang menerjang medan perang tuk membasmi musuh-musuh. Detak-detak suara terompah kiai semakin cepat memecah keheningan akhir malam yang berudara dingin karena ingin segera sampai ke musholla. Di musholla itu kiai sudah ditunggu ratusan santrinya. Continue reading “Terompah Kyai”

Proposal

Fanny J. Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Dering di Hp-ku mendadak sontak berbunyi. Suara Bapak terdengar berat dan bernada perintah. “Ingat, jangan lupa jam sembilan pagi kau sudah siap. Kenakan pakaian yang sopan, jangan memakai jins, pakai celana berbahan resmi lengkap dengan blus batik. Jangan bermake-up terlalu teaterikal, lipstick tidak usah tebal-tebal. Kita akan bertemu dengan pejabat penting, seorang intelektual ahli strategi pemerintahan. Pokoknya orang terhormat!” Continue reading “Proposal”

MASIH ADA HARAPAN

Ahmad Zaini
Radar Bojonegoro, 7 Juli 2011

Setiap sore aku biasa mangkal di warung es dawet siwalan. Warung sederhana beratap daun ilalang selalu menjamuku dengan suguhan es dawet yang berisi buah siwalan. Warung yang berada di bawah pohon akasia tua selalu ramai oleh para remaja yang ingin menghabiskan sore sambil menunggu beduk maghrib tiba. Continue reading “MASIH ADA HARAPAN”

Menunggu Kereta

Renny Meita Widjajanti
http://www.suarakarya-online.com/

Dari sebuah rumah sakit lelaki itu keluar, meninggalkan ruangan VIP yang baru semalam di tempatinya. Dengan kakinya yang lemah, ia melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit, melewati pintu gerbang hingga tiba di tepi sebuah jalan yang padat lalu-lintas. Ia sendirian berdiri di trotoar, wajahnya terlihat pucat dengan bibir membiru, tatapan matanya menyiratkan kegelisahan. Lelaki itu terus mengarahkan pandangannya ke arah lalu-lintas yang hingar bingar. Ada yang sedang ia tunggu. Continue reading “Menunggu Kereta”

Bahasa ยป