Menunggu Kereta

Renny Meita Widjajanti
http://www.suarakarya-online.com/

Dari sebuah rumah sakit lelaki itu keluar, meninggalkan ruangan VIP yang baru semalam di tempatinya. Dengan kakinya yang lemah, ia melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit, melewati pintu gerbang hingga tiba di tepi sebuah jalan yang padat lalu-lintas. Ia sendirian berdiri di trotoar, wajahnya terlihat pucat dengan bibir membiru, tatapan matanya menyiratkan kegelisahan. Lelaki itu terus mengarahkan pandangannya ke arah lalu-lintas yang hingar bingar. Ada yang sedang ia tunggu.

Sebuah mobil warna putih mendekat dan berhenti tepat di sampingnya. Ia pun bergegas masuk lewat pintu yang telah dibukakan dari dalam. Kemudian mobil itu melaju menembus padatnya lalu-lintas. Selama di perjalanan batin lelaki itu terus berbisik: “Aku harus secepatnya sampai stasiun sebelum hari gelap. Sebelum malam mengepakkan sayap-sayap hitamnya. Aku tak ingin ketinggalan kereta.” Ia harus berangkat sore ini.

Matahari perlahan beranjak ke peraduan, burung-burung terbang beriring-an hendak pulang ke sarang. Sedangkan mobil itu baru saja mengawali perjalanan. Masih ada jarak yang panjang yang harus di tempuh dengan kondisi lalu-lintas yang padat merayap. Lelaki itu mulai dihinggapi rasa khawatir terlambat sampai stasiun.

Ia membayangkan seandainya mobil yang ditumpanginya itu bisa terbang di atas jalan raya tentunya ia dapat sampai tujuan lebih awal. Sudah lama ia memendam keinginan untuk menyusul istrinya yang telah lebih dulu pergi.

Sopir yang berpakaian serba putih itu mengarahkan mobilnya menyusup di antara kendaraan lain, berkelok ke kanan ke kiri, menyalip kendaraan yang di depan. Tapi jalan benar-benar padat, akhirnya mobil hanya bisa merayap, sama sekali tak ada ruang untuk mempercepat laju jalannya.

Tapi supir itu tetap tenang dan lelaki itu pun mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Pikirannya melayang ke sosok istrinya. Ia kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan istrinya dulu. Di sebuah perpustakaan tua di sudut kota. Pertemuan di pagi yang mendung itu meninggalkan kesan mendalam pada hati lelaki itu.

Perempuan itu sederhana, berwajah cantik. Tatapan matanya lembut. Dengan rasa cinta itulah lelaki itu segera meminang perempuan itu. Ia merasakan keteduhan setiap kali menatap mata perempuan yang bernama Rindu itu. Karena banyak kesamaan pandangan dan selera yang mengantarkan keduanya sampai kepada mahligai pernikahan.

Sudah lebih dari 30 tahun usia perkawinannya tak pernah sekalipun terjadi konflik yang serius dalam biduk rumah tangganya. Rindu seorang istri yang baik, sabar dan penuh kasih sayang.

Lelaki itu masih mengingat hari-hari indahnya saat bersama Rindu. Ingat kemesraan-kemesraan dan keindahan-keindahan dalam hidup rumahtangganya. Ada gemuruh hebat di hatinya. Kerinduan yang dalam yang membuat dadanya sesak. Ia ingin secepatnya menyusul Rindu, istrinya.

Di dekat persimpangan, mobil tak bisa bergerak sedikit pun. Ketenangan sopir goyah, ia mulai merasa jengah. Sopir itu bisa merasakan kegelisahan penumpangnya yang sangat diburu waktu.

Ia memahami bahwa kenyamanan penumpang harus diutamakan. Tapi dalam situasi seperti ini ia tak mampu berbuat banyak. Sopir paling handal sekalipun tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat di tengah lalu lintas yang padat seperti itu.

Keriuhan suara klakson membuyarkan lamunan lelaki itu. Lalu-lintas masih padat, kemacetan belum juga berlalu. Ia makin disergap resah, hingga mobil terasa panas dan pengap.

Dingin AC sama sekali tidak menyentuh tubuhnya, butiran keringat mulai membanjir, membasahi keningnya.

“Saya khawatir akan ketinggalan kereta,” lelaki itu mengeluh pada dirinya sendiri.

Mendengar keluhan itu, sopir melirik jam yang terpasang di dashboard mobil. “Masih ada waktu, Pak. Setengah jam lagi kita akan sampai. Saya akan mencoba mencari jalan yang tidak macet.”
“Ya, yang penting tidak terlambat,” jawab lelaki itu.

Mobil menikung memasuki sebuah gang, sebuah jalan alternatif. Laju mobil memang tak bisa kencang karena jalannya sempit.

Tapi ini pilihan terbaik dari pada teronggok di tengah jalan raya. Jantung lelaki itu berdebar menahan takut mendengar mobil yang ditumpanginya berderit-derit melaju di jalan tikus yang sempit itu. Kembali lelaki itu larut dalam lamunannya.

Ia membayangkan keindahan pertemuan dengan istrinya nanti. Bisa jadi lebih indah dari pertemuan-pertemuan yang pernah ada, istrinya pasti tak menduga ia akan datang. Istrinya tentu terkejut. Ia akan langsung lari menghambur memeluk istrinya, menciuminya. Atau membuat kejutan dengan diam-diam mendekapnya dari belakang, seperti yang dulu sering dilakukan kepada istrinya. Ahh…

Lelaki itu tak sabar lagi ingin segera sampai stasiun dan menaiki kereta yang sama dengan istrinya. Ia pun akan memilih gerbong dan tempat duduk yang sama seperti yang ditempati istrinya dulu.
Ia sangat ingin secepatnya merasakan pengalaman perjalanan seperti yang dialami istrinya.

Langit mulai menggelap, membuat hati lelaki itu kian dilanda kecemasan. Dia takut hari keburu malam dan ia tak mendapat kereta seperti kereta istrinya. Tentu, banyak kereta di stasiun. Tapi ia hanya ingin kereta yang pernah dinaiki istrinya.
“Sebentar lagi kita sampai, Pak,” sopir memecah kesunyian yang menenangkan hatinya.

Bibir lelaki itu menyunggingkan senyum. Ia tak begitu hapal dengan jalan tikus seperti yang dilewatinya sekarang ini. Entah sudah berapa tikungan yang dilalui, tak terukur panjang jalan sempit yang sudah ditempuh.

Tapi kini ia merasa tenang setelah sopir mengatakan sebentar lagi akan sampai stasiun. Ya. sebentar lagi ia akan segera menaiki kereta dengan tujuan sama seperti istrinya. Ia masih ingat dimana istrinya dulu duduk menunggu di ruang tunggu. Ia pun akan duduk di bangku yang sama seperti istrinya dulu pernah menunggu. Ia akan melakukan seperti yang pernah dilakukan istrinya di stasiun dulu.

Mobil berhenti di halaman stasiun. Sopir membukakan pintu. “Saya hanya bisa mengantar sampai sini,” ujarnya sambil menatap lelaki itu. Lelaki itu turun dengan terburu-buru.

* * *

Duduk di kursi tunggu, perasaan lelaki itu risau. Sudah setengah jam lebih ia menunggu, kereta belum juga datang. Silih berganti kereta yang lewat, tapi bukan kereta yang pernah ditumpangi istrinya. Hatinya kembali diguncang kegelisahan. Ia berharap kereta itu segera datang. Ia sudah tak dapat lagi meredam gejolak ingin berjumpa dengan Rindu, istrinya.

Sudah beberapa kali dari kejauhan tampak kereta datang. Setiap kali kereta datang lelaki itu berdiri, berharap kereta yang datang itu sama dengan kereta yang dulu pernah dinaiki istrinya. Tapi ia kembali kecewa, kereta itu bukan kereta yang pernah ditumpangi istrinya.

Sementara penumpang-penumpang lain berebut naik, ia hanya terdiam pilu. Ular besi itu lalu bergerak pergi meninggalkan bunyi. Lelaki itu kembali duduk, pikirannya gelisah. Ia tak percaya jika kereta yang di tunggunya bisa datang terlambat.
Beberapa lampu stasiun mulai dimatikan untuk menghemat biaya listrik.

Gelap semakin merayap mendekati malam yang larut. Lelaki itu menggigil kedinginan. Orang-orang mulai pergi meninggalkan stasiun, suasana menjadi lengang seperti kuburan. Kios-kios sudah tutup, juga pedagang asongan yang sebelumnya banyak berseliweran sudah tidak tampak lagi.

Tapi lelaki itu menguatkan hatinya untuk tetap bertahan, meski hawa dingin menggigit. Ia telah melewati perjalanan yang melelahkan hingga bisa sampai di tempat ini. Ia tak mau kembali lagi. Ia bertekad hari ini juga harus menyusul istrinya dengan kereta yang masih ia harapkan datang, yang mungkin saja memang datang terlambat. Ia sudah sangat rindu memeluk istrinya.

Tiba-tiba turun hujan disertai angin kencang. Tempias air sampai ke bangku ruang tunggu, menerpa tubuh lelaki itu. Dia beringsut menggeser duduknya. Dia menyesali keadaan, tapi yang lebih ia sesalkan adalah kereta yang hingga larut malam belum juga datang. Dulu orang sering bercerita, kereta itu selalu datang tepat pada saat yang telah ditentukan. Kini ia meragukan cerita itu. Ia telah menanti berjam-jam, tapi kereta belum datang.

Beredar juga kabar, sejak peristiwa 2 Oktober beberapa setahun lalu, lokomotif penarik gerbong kereta yang ditunggu itu sudah tidak dijalankan lagi. Ah, tapi nyatanya hari ini ia merasa akan mendapat kesempatan menaikinya dan ia akan setia menanti kedatangannya.

Hujan semakin deras, tubuh lelaki itu basah kuyup. Dia menggigil. Wajahnya makin pucat, bibirnya yang biru bergetar. Belum ada tanda-tanda kereta yang ditunggunya datang. Tapi ia terus bertahan duduk di bangku ruang tunggu. Ia tetap mantap ingin menyusul istrinya. Tak dihiraukannya tempias air hujan yang mendera. Ia seperti sengaja menantang hujan.

Langit sepertinya tersentuh oleh keteguhan hati lelaki itu. Hujan mere. Kemudian dari ujung rel terdengar suara gemuruh roda kereta dan cahaya terang benderang.

Lelaki itu menggosok-gosokan matanya, ia terkesima bahagia. Ia segera bangkit menyongsong arah datangnya cahaya. Setelah kereta itu semakin dekat ia tertegun lalu tersenyum. Kereta itu akhirnya datang. Kereta yang sama seperti yang telah membawa istrinya pergi. Lelaki itu lari terburu-buru. Ia ingin segera menjemput istrinya. Lelaki itu bergegas masuk menaiki kereta.

Bersamaan dengan itu, di tempat yang berbeda, di kamar nomor 21, ruang VIP rumah sakit tempat lelaki itu keluar pintu 7 jam yang lalu. Orang-orang tengah khusyuk berdoa di hadapan tubuh lelaki yang sedang dalam perjalanan menuju ajalnya. ***

Yogyakarta, 2010-2011