Ahmad Zaini*
Di depan beranda rumah, nenek duduk santai sembari mengelus rambut memutih yang disimpul menjadi sanggul. Sambil memandang suasana sore iamengecapi sirih yang sudah hampir lembut. Ludah yang bercampur dengan sirih, neneksemprotkan ke tanah. Warna merah seperti darah menodai tanah di sekitar tempat duduknya. Continue reading “Nenek, Oh, Nenek”
