Pencuci Piring

Salamet Wahedi *
Radar surabaya, 25 Juli 2010

Nama saya Wildanto. Tapi orang-orang selama ini selalu tidak begitu utuh memanggilnya. Bahkan sebagian besar teman-teman saya sering memplesetkannya. Ibu saya yang memberi nama itu, dengan logat desanya, memanggil Bhidanto. Ayah pun setali tiga uang. Nama saya utuh ketika adik saya memanggilnya. Maklum adik saya sudah mengecap bangku sekolah.

Di kalangan teman-teman saya, Wildanto sering diplesetkan. Siap Komandan To, sapa Arief setiap bertemu saya. Menurutnya, nama saya diplesetkan Komandan To, karena sikap dan perangai saya yang agak keras. Agak seperti militer, katanya. Meski berulang kali saya tegaskan, sikap saya tidak pernah dibentuk oleh keluarga militer. Apalagi masuk kamp militer.

Si Amir lain lagi. Ia memplesetkan nama saya dengan nada bertanya. Wildan to? Yo, benar, selorohnya setiap memulai percakapan atau menanggapi pendapat saya. Saya hanya menanggapi dengan senyum kecil. Seperti teman-teman lainnya yang juga tertawa kecil.

Sebagai lulusan perguruan tinggi, saya sering menuliskan gelar di belakang nama saya: es-pede dan em-em. Dengan gelar pertama, saya selalu dianggap sebagai seorang pendidik. Orang-orang di kampung saya, mengira saya seorang guru, atau seorang dosen. Dengan kedua gelar itu pula, saya dan keluarga saya tidak lagi dipandang sebelah mata. Ibu tidak lagi dihina atau dicerca. Ayah sudah sering diajak rapat di balai desa.

Tapi sayang, gelar itu selamanya tidak menunjuk pekerjaan. Bahkan saya kadang malu menyandang gelas es-pe-de saya. Saya malu karena selama kuliah di jurusan pendidikan, saya tidak pernah paham betul tentang teori dan tokoh pendidikan. Saya tidak tahu teori Piaget, konsep Freire atau pun quantum learning.

“Wah mengajar itu tidak perlu teori dan konsep segala, To. Kita bisa ngomong dan nulis di papan tulis, dah cukup”, ujar Intan, teman kuliah saya. “Nggak ada ceritanya guru kalah sama murid”

Mendengar kata-kata itu, saya juga bersepakat. Guru-guru saya, terutama guru bahasa Indonesia memang tidak semenarik guru biologi atau matematika. Apalagi kalau yang disampaikannya sama plek dengan isi buku, saya malah mencibirnya.

“Terus tugas pokok pendidik itu?” saya coba sedikit idealis waktu itu.
“Yang penting guru itu lolos sertifikasi. Memberi nilai murid-muridnya. Eit jangan lupa buat er-pe-pe”

sekali lagi, sebagai mahasiswa yang agak malas, dan berpenampilan a la aktivis sekarang: baju necis, rambut rapi, dengan kata ‘pergerakan’, atau ‘agent of change’ di sana-sini, saya bersepakat dengan kata-kata teman saya. Kata-kata yang ketika saya rasakan sekarang, tak ubahnya seperti sabda sesat Dewa Ruci pada pandawa.
***

“Dan katanya kau jadi dosen? Wah selamat. Kau sekarang jadi orang. Jangan lupa pada teman-temanmu. Jangan lupa tuk nyumbang kalau dah gajian. Sebotol ja gak usah banyak-banyak.

Sosok Supri masih belum berubah begitu jauh ketika bertemu. Hanya garis-garis wajahnya yang tambah legam dan berkerut. Namun kebiasaannya masih tetap: suka minum. Gaya bicara tetaplah gaya lama: ceplas-ceplos. Dan yang paling kuhafal dan kukenang kerling matanya: Bagaimana dengan senyum titipan si Linda?

Menanggapi pertanyaan teman-teman tentang pekerjaan, saya hanya memberi penjelasan tentang apa itu orang kuliah. Saya katakan pada mereka, orang kuliah tidak selamanya harus jadi pegewai negeri sipil. Orang kuliah tidak harus jadi guru.

“Tapi orang kuliah itu, harus bisa mandiri”
“Tapi kau dah jadi dosen kan? Razak menguatkan pertanyaan Supri. Bibirnya yang ditarik-tarik, membuat saya sedikit tersenyum. Membuat saya menemukan celah untuk mengalihkan pembicaraan.

Mengenai pertanyaan apa pekerjaan saya, tidak bisa saya pungkiri, saya merasa terganggu. Perasaan terganggu itu semakin suntuk saja, ketika mendengar teman-teman saya sudah ada yang jadi pe-en-es, pegawai pertamina, atau sekretaris pak camat. Sedang pekerjaan saya? Ah kadang-kadang saya tidak bisa membayangkan, bagaimana orang-orang kampung saya akan mencibir. Orang-orang kampung akan kembali memerosokkan ibu saya. Tidak mengindahkan pendapat ayah saya. Kalau mereka tahu pekerjaan saya.

Saya tidak bisa membayangkan kiamat apa yang akan terjadi pada keluarga saya, kalau ayah, ibu, teman-teman saya di kampung dan orang-orang di kampung tahu: saya hanya seorang pencuci piring.

“Ah, hanya pencuci piring. Sekolah jauh-jauh hanya menjadi pencuci piring”, cibir teman-teman saya.

“Sudah kubilang, mau ke mana juga sekolah tinggi-tinggi, tidak akan jadi apa-apa. Kalau sudah mak-mak1 tidak akan jadi bhalanak2”, cibir tetangga saya.
***

Profesi pencuci piring, sebagai orang yang sudah mencecap bangku sekolah, sampai ruang kuliah, memang pilihan hidup yang naas. Pilihan hidup yang tidak hanya sial. Sebab seorang pencuci tetaplah pencuci. Ia tidak akan beranjak dari kata pencuci. Kalau toh pun ada, paling-paling kepala pencuci piring.

Meski orang-orang kampung, teman-teman sejawat memandang sebelah mata pada profesi pencuci piring, saya merasa bangga menjalaninya. Saya selalu hendak memamerkan: saya memang pencuci piring. Tapi saya tidak seperti Halimah, pencuci piring Haji Syamsul. Saya memang pencuri piring. Tapi saya tidak seperti Halimah, mengais hidup dari sisa-sisa uang receh Haji Dullah.

Saya pencuci piring pada meeting besar para bisnismen. Saya pencuci piring pada rapat akbar para dewan. Saya pencuci piring pada pesta para pejabat. Saya pencuci piring pada gemerlap ruang dansa orang-orang beruang.

Saya menemukan jalan menjadi pencuci piring sejak kuliah semester tiga. Waktu itu saya ikut organisasi “Kelompok Belajar Purnama”. Mulanya saya membayangkan seperti para dewan yang mendebatkan kata rakyat: kepentingan rakyat, pro rakyat, demi rakyat dan embel-embel rakyat lainnya. Tapi sayang menjadi pendebat nama rakyat, yang dikerenkan dengan sebutan dewan perwakilan rakyat, tidak hanya butuh banyak buku tentang rakyat. Tidak hanya butuh pemahaman apa dan siapa rakyat. Untuk jadi wakil rakyat, saya harus bisa menghidupi rakyat. Saya mesti pandai menipu rakyat, merampok rakyat, dan pura-pura perhatian pada rakyat.

Tapi saya tidak bisa. Orang tua saya melarat. Saya pun kuliah dalam keadaan darurat. Nurani saya kadang-kadang melaknat para wakil rakyat. Meski pada akhirnya saya memilih menjadi pencuci piring para wakil rakyat.

Menjadi pencuci piring wakil rakyat, mulanya diajak senior saya di “Kelompok Belajar Purnama”. Senior saya yang nyaleg mengajak saya bantu-bantu proyeknya sebagai anggota dewan. Dari bantu-bantu senior saya ini, saya dapat cipratan yang cukup untuk hidup sebulan. Lama-kelamaan, bantu-bantu proyek senior saya ternyata cukup enak. Ternyata memberi gambaran kemandirian yang lebih lunak.

Menjadi pencuci piring saya, tidak hanya mengorbankan dua gelar prestisius saya: es-pe-de dan em-em. Tapi sewaktu-waktu saya mesti lebih muslihat dari para wakil rakyat. Saya mesti bejat dari para pejabat.

Maaf, muslihat saya bukanlah untuk saling serang atau saling ejek dengan retorika tingkat tinggi di panggung kampanye. Kebejatan saya bukanlah untuk saling sikat di meja rapat. Seperti kata Mostar, teman saya yang selalu bertugas sebagai casual di pesta-pesta.

“Enaknya profesi seperti kita, ya bisa merasakan lezatnya berbagai jenis makanan. Rasa seribu menu”
“Kita pun bisa hidup seperti para pejabat”, saya menanggapi.”Kita bisa setara dengan wakil rakyat. Kita bisa merasakan kenikmatan orang-orang yang dipandang rakyat dengan hanya mengais sisa-sisa santapan mereka”.

“Ya kamu bisa menyantap sisa berbagai menu. Kalau saya hanya bisa meneduh aromanya. Apabila tukang bangket”
“Tenang aja kok, nanti kusisakan untukmu juga. Kau juga bisa membawanya pulang untuk keluarga”

Lalu kami pun sesama orang-orang pencuci piring orang-orang beruang, akan tertawa dengan girang. Akan tersenyum begitu riang. Kami akan tertawa sehabis mencicipi barang hidangan mewah.

Saya, mengingat percakapan sehabis pesta ini, selalu bangga menjadi pencuci piring. Pencuci piring yang bisa memasang tarif dan harga. Tidak seperti Halimah, pembantu yang hidupnya melata. Terus tidak berharga.
***

Saya pencuci piring. Tapi pencuci piring yang tidak dibayar dengan harga miring. Seperti barang-barang yang tidak berharga miring, piring-piring cucian saya selalu membuat bulu kuduk merinding.

Seperti saya katakan, sebagai pencuci piring dengan harga dan tarif yang tidak miring, saya tidaklah seperti Halimah, pembantu Haji Syamsul, atau pembantu rumah tangga yang hidupnya seperti hewan melata. Saya pencuci piring orang-orang yang sudah tidak merasa pusing. Tidak merasa pusing dengan hidup yang semakin sinting.

Setiap habis pesta, sebelum meremas spon, saya biasa menjilati piring-piring cucian saya. Saya biasa menjilati atau mengais sisa Soup merah, Ayam goreng saus inggris, Bistik ayam atau menu wah lainnya. Mungkin kedengarannya jijik, tapi kalau sudah pernah merasakan pasti akan ketagihan. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak ketagihan menjilati sisa ketua dewan. Mengemasi jejak aktor panggung politik. Atau ketika menikmati ruangan ber-ac tanpa merogoh isi kantong.

Tapi maaf, profesi pencuci piring, sekelas apa pun, belum ada yang bisa membanggakan. Orang sedesa ibuku pun, belum mau menerima profesi pencuci piring. Belum bisa membanggakan pencuci piring. Hanya sesama pencuci piringlah, kami bisa saling membanggakan.

“Bhidanto, kamu itu sebenarnya kerja apa? Ibu ingin tahu dan merasakan kebahagiaanmu juga, To”
“Saya jadi asisiten anggota dewan, Bu”, jawab saya singkat dan padat. Meski dalam hati saya merenyuh, “Bu, maaf saya hanya seorang pencuci piring anggota dewan”.

Lidahwetan, 5 oktober 2009
Catatan:
1. mak-mak: teri
2. bhalanak:
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=451172297274