Harapan Hampa

Ahmad Zaini*

Di ruang tamu yang sepi, Halimah duduk sendiri sambil menyulam kebayanya yang robek. Jemarinya menari telaten hingga tepi kain yang terpisah tersambung lagi. Tatap matanya sayu memikirkan anak perempuannya yang kini mengadu nasib mengikuti tes CPNS di daerah tempat ia tinggal. Ia kaget saat ujung jarum menusuk jarinya lalu setetes darah keluar segar. Serta merta ia mengaduh kesakitan kemudian ia meraih guntingan kain untuk membalut lukanya.

Winarti, anak gadisnya yang menjadi satu-satunya harapan keluarga datang dengan mengapit stop map. Ia mengulurkan tangan menjabat tangan ibunya.

“Jari ibu kenapa kok dibelebat begitu?” tanya Winarti.

“Tidak apa-apa, Win. Hanya luka kecil tertusuk jarum,” jawab ibunya.

“Hati-hati to Bu kalau menjahit!”

Winarti lantas melangkah ke dalam rumah. Stop map yang berisi berkas-berkas pendapftaran CPNS diletakkan di meja ruang tamu. Kemudian ia duduk sembari menghela napas.

“Bagaimana, Win tesnya tadi?”

“Syukur, Bu. Lancar-lancar saja. Hanya saja saya tak bisa menjamin lulus atau tidak nanti.”

“Berdoa dan bertawakkallah kepada Tuhan. Ibu yakin kamu akan lolos.”

“Ya, mudah-mudahan saja. Akan tetapi sulit Bu orang seperti kita ini bisa lolos tes CPNS. Saingannya banyak dan berduit semua.”

“Jangan minder seperti itu. Kamu termasuk orang yang berprestasi. Sewaktu kamu kuliah dulu kan dinobatkan sebagai mahasiswi berprestasi dan ketika wisuda kamu juga dapat gelar wisudawan terbaik.”

“Zaman sekarang untuk bisa menjadi pegawai tidak bisa mengandalkan prestasi Bu. Sekarang yang dapat menentukan kelulusan adalah uang.”

Suasana menjadi hening. Halimah mengelus dada mendengar jawaban dari Winarti, anaknya. Perlahan ia duduk sambil membelai rambut anaknya yang baru saja terburai dari buntalan jilbab. Ia menjelaskan kepada anaknya bahwa apa yang baru saja Winarti sampaikan itu hanyalah isu. Sekarang tak ada pejabat atau yang lain yang berani menjadi calo CPNS. Mereka akan takut mendapat teguran atau bahkan sanksi yang berupa pemecatan dari atasannya.

“Sekarang kamu mandi sana terus makan! Seharian mungkin kamu belum makan?”

Winarti beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah lemas ke ruang belakang. Sedangkan Halimah tetap duduk di kursi tamu. Halimah berpikir jika apa yang disampaikan Winarti itu benar, maka kesempatan untuk memperbaiki nasib hidupnya semakin sempit.

Hari mulai senja. Ibu dan anak ini duduk-duduk di beranda rumahnya. Ia melihat matahari yang meredup menuruni tangga-tangga hari. Tak lama kemudian sang raja siang bersembunyi di balik rindang pepohonan di halaman rumahnya. Winarti bercerita tentang kasak-kusuk tarif jika benar-benar ingin menjadi PNS. Menurut kabar yang disampaikan Winarti kepada ibunya bahwa tarif agar bisa menjadi PNS itu mulai 60 juta hingga 150 juta rupiah. Besar kecilnya tarif berdasarkan ijazah terakhir si pelamar. Halimat terkejut mendengarkan cerita anaknya.

“Wah, apa-apaan itu? Uang 60 sampai 150 juta bukan uang sedikit, Win. Seumur-umurku, aku belum pernah mempunyai uang senilai itu.”

Saat mereka sedang berbincang-bincang di beranda, tiba-tiba ada lelaki yang menghentikan motornya di depan halaman rumahnya. Lelaki setengah baya itu pelan-pelan melepas helm dan jaketnya lantas meletakkannya di sepeda motor.

Halimah dan Winarti saling memandang. Ia saling bertanya perihal lelaki yang menghampirinya.

“Selamat sore, Bu!” ucapnya.

“Sore juga. Bapak siapa ya?” tanya Halimah.

“Silakan masuk, Pak!” sahut Winarti.

Ketiganya langsung masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah mereka serius membicarakan perihal pendaftaran CPNS Winarti. Lelaki tadi memberikan penjelasan panjang lebar tentang peluang menjadi PNS termasuk tips yang harus ia lakukan jika benar-benar ingin lulus tes.

Setelah berbicara agak lama, lelaki tadi mengutarakan maksud kedatangannya bahwa ia akan menolong Winarti masuk sebagai PNS. Ia meyakinkan Halimah dan Winarti dengan cerita-cerita yang menggiurkan.

“Saya sudah meloloskan peserta tes CPNS puluhan bahkan ratusan orang. Jadi Ibu dan Adik tak usah kuatir lagi dengan jasa saya ini. Saya jamin 100% berhasil.” Katanya meyakinkan.

Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh lelaki tersebut, Halimah dan Winarti agak terpengaruh. Angan-angan mereka sampai kepada barang-barang berharga peninggalan suaminya yang dapat dijual untuk membayar jasa dari lelaki itu.

“Bagaimana, Bu? Saya tidak memaksa. Saya hanya menolong putri Ibu. Sangat disayangkan jika anak sepandai putri ibu, hanya gara-gara tak mau mengeluarkan uang senilai yang saya sebutkan kemudian menjadi pengangguran. Eman, Bu kuliahnya!”

“Kami tidak bisa menjawab sekarang. Saya akan membicarakannya dulu dengan anakku. Jika nanti kami sudah ada kesepakatan perihal tawaran Bapak, nanti kami akan menemui Bapak.”

“O, begitu. Ini kartu nama saya,” kata lelaki itu sambil menyodorkan secarik kertas yang berisi nama, jabatan dan alamat.

Lelaki yang berperawakan tinggi besar dengan suara yang berwibawa itu berpamitan lantas meninggalkan Halimah dan Winarti di rumah mereka.

Kartu nama yang tertulis nama Gatot dan mengaku sebagai kasi kepegawaian di instansi pemerintah kabupaten disimpan dalam genggaman Winarti. Kemudian ia menyimpan hati-hati kartu nama yang dianggap bisa membuka peluang kepada Winarti sebagai PNS.

“Terima kasih Tuhan, atas pertolonganMu!” ucap Winarti.

“Aku kok masih ragu, Win!”

“Ragu bagaimana to Bu? Sudah jelas-jelas pak Gatot tadi memberikan peluang kepada saya seperti itu. Sekarang yang kita pikirkan adalah bagaimana cara mendapatkan uang yang akan kita bayarkan kepada dia.”

Halimah terdiam. Ia tak dapat berpikir dari mana uang sebanyak itu didapatkan. Kalau dulu ketika suaminya masih hidup mungkin dalam seminggu uang senilai itu mudah ia didapatkan. Tapi sekarang? Untuk mendapatkan uang sejuta saja menunggu waktu sebulan.

“Bu, kita masih punya sebidang tanah di pinggir jalan raya. Jika kita jual maka tanah tersebut mungkin masih laku 200 juta-an.”

“Kalau tanah itu kita jual, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Terus bagaimana ke depannya, Win?”

“Untuk memenuhi kebutuhan, ya, dari gaji yang saya terima tiap bulannya, Bu!” katanya dengan yakin.

“Tapi menjual tanah itu tidak bisa dengan tergesa-gesa, Win. Bisa jadi nanti dibeli orang dengan harga murah.”

“Kemarin lusa saya mendengar ada orang yang mau membeli tanah untuk membuka usaha. Kita tawarkan saja kepada orang tersebut.” Ucap Winarti.

Halimah diam sejenak. Ia ingat pesan suaminya bahwa tanah tersebut bisa dijual jika mendesak. Ia menilai bahwa situasi yang sekarang ia hadapi juga termasuk kategori mendesak.

“Baiklah kalau begitu. Besok kita akan menemuinya!”

Semalam suntuk Halimah tak bisa memejamkan matanya. Ia memikirkan bagaimana masa depan Winarti andaikan ia gagal masuk tes CPNS. Sedangkan sebidang tanah peninggalan suaminya sudah terjual.

Tanpa terasa malam telah berlalu. Pagi telah menjemput mereka berdua. Dengan berdandan resmi mereka berdua berangkat pergi mencari alamat orang yang mencari tanah. Mereka langsung menuju ke rumah pak Haji Umar. Mereka bertanya tentang orang yang kemarin datang ke rumahnya mau membeli tanah. Setelah mendapatkan alamatnya, mereka segera pergi mencari alamat tersebut.

Sesampai di rumah orang yang dimaksud, mereka langsung melakukan transaksi. Agar di kemudian hari tidak ada yang keberatan, maka mereka pun menuju ke lokasi tanah yang akan dijual. Setelah cocok dengan ukuran dan lokasi tanahnya mereka kemudian membahas masalah harga. Si calon pembeli hanya berani dengan harga 100 juta.

“Sudah, Bu tidak apa-apa. Itu sesuai dengan yang kita butuhkan,” bisik Winarti kepada ibunya.

Setelah mereka mencapai kesepakatan, si pembeli langsung memberikan uang tersebut secara tunai.

“Terima kasih Tuhan atas pertolonganMu!” ucap Winarti.

Halimah dan Winarti pamit. Mereka lantas mencari alamat pak Gatot untuk menyerahkan uang senilai 100 juta dengan harapan agar anaknya bisa menjadi pegawai negeri sipil. Dengan senyum yang penuh harapan mereka bertemu dengan pak Gatot di rumahnya. Mereka melakukan kesepakatan jika nanti sudah ada pengumuman hasil tes.

“Baiklah kalau begitu, uang ini saya terima. Jika nanti gagal uang ini akan saya kembalikan 100%,” ujar pak Gatot.

Setelah menyerahkan uang itu mereka pulang dengan sejuta harapan bahwa Winarti akan menjadi pegawai negeri sipil. Ia akan menyandang status yang diburu oleh jutaan orang tersebut.

Sebulan kemudian waktu pengumuman hasil tes CPNS akan diumumkan secara serentak. Dengan wajah yang sumringah mereka datang ke lokasi tempat pengumuman. Dengan yakin ia melihat nama demi nama yang ditempel pada papan pengumuman. Winarti mulai membaca lembar pertama hingga lembar terakhir. Akan tetapi, ia belum juga menemukan namanya. Ia tidak percaya dengan pengumuman yang baru saja ia lihat. Untuk memastikannya, Winarti mencoba membaca ulang pengumuman dari lembar pertama hingga terakhir lagi. Dan ternyata namanya benar-benar tidak tercantum dalam pengumuman tersebut.

Keringat mengucur deras dari keningnya. Bibirnya bergetar dengan gigi-gigi mengernyit saling berbenturan. Ia geram karena namanya tidak ditemukan dalam pengumuman itu. Winarti lantas keluar dari kerumunan orang dan menyendiri di taman yang terletak di pojok kantor pemerintahan kabupaten.

Winarti melangkah pulang dengan wajah marah bercampur kesal. ia kecewa kepada pak Gatot yang tidak bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang pegawai negeri. Sementara itu, Halimah yang menunggu kabar dari rumah juga tampak shock. Ia tak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar dari anaknya.

Tanpa basa-basi ibu dan anak ini langsung pergi ke rumah pak Gatot untuk meminta uang yang mereka serahkan sebagai jaminan masuk PNS Winarti. Betapa terkejutnya mereka saat melihat suasana rumah pak Gatot sepi. Mereka mengintip isi rumah pak Gatot dari balik jendela rumahnya. Namun tampaknya pak Gatot sudah pergi melarikan diri sambil membawa uang 100 juta yang mereka berikan.

Kedua wanita ini lantas duduk lunglai di kursi yang terbujur di depan rumah lelaki yang telah menipunya. Mereka menyesal karena telah termakan bujuk rayu dari orang yang baru saja dikenalnya. Kini mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mendapatkan uangnya.

Halimah dan anaknya pun beranjak pulang dengan muka merah geram berderai air mata. Hati mereka tercabik-cabik oleh kenyataan yang baru saja dialaminya. Kemudian mereka berencana melaporkan penipuan yang menimpa dirinya kepada pihak yang berwajib.

Wanar, Desember 2010
*) Cerpenis lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Tabloid Telunjuk, Majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (DKL, 2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Absurditas Rindu (SastraNesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006). Selain menulis, juga sebagai tanaga edukatif di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”, Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.