Ari-ari Puisi

Damhuri Muhammad*
Pikiran Rakyat, 24 Juli 2011

Secara fisik, ari-ari tak lebih dari selaput pelindung janin semasa di rahim ibu. Ari-ari adalah pangkal dari segala macam obsesi, busur yang melesatkan anak panah harapan, doa, dan cita-cita. Selepas prosesi kelahiran yang melelahkan, bukankah banyak syarat-rukun yang mesti dipenuhi sebelum ari-ari dikuburkan? Bila menginginkan watak luhur yang disukai banyak orang, maka serakkan lah kembang tujuh-rupa dalam wadah ari-ari. Mendambakan kejeniusan yang pilih tanding? Continue reading “Ari-ari Puisi”

Elitisme Kritikus Seni

Damhuri Muhammad
Kompas, 2 Jan 2011

ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 19/12). Ia membincang berlimpah ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus.

”Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum ”kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Continue reading “Elitisme Kritikus Seni”

Menghormati Pengarang Negeri Sendiri

Damhuri Muhammad *
Pikiran Rakyat,12 Des 2010

SEJUMLAH Perkutut Buat Bapak (2010) karya Gunawan Maryanto dan Buwun (2010) karya Mardi Luhung ternobat sebagai pemenang kembar anugerah Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2010 untuk kategori puisi, selain Rahasia Selma (2010), kumpulan cerpen karya Linda Christanty, untuk kategori prosa. Dua buku sajak itu menyisihkan tiga nominator lain: Penyeret Babi (2010) karya Inggit Putria Marga, Tersebab Aku Melayu (2010) karya Taufik Ikram Jamil, dan Konde Penyair Han (2010) karya Hanna Fransisca. Sementara pemenang kategori prosa menyisihkan Kekasih Marionette (2009) karya Dewi Ria Utari, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2010) karya Agus Noor, 9 Dari Nadira (2010) karya Leila S Chudori, dan Klop (2010) karya Putu Wijaya. Continue reading “Menghormati Pengarang Negeri Sendiri”

Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan

Damhuri Muhammad*
Kompas, 9 Desember 2008

BISAKAH sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.

Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Continue reading “Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan”

Ustadz Andaru

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Di kampung, ia mubaligh muda. Tiap Jum’at beroleh undangan jadi khatib. Bergilir dari satu jama’ah ke jama’ah lain. Dari mesjid sekitar kampung hingga mesjid di ibukota kabupaten. Hari lain, ia memberi pengajian di musholla Nur Al-falah, majelis ta’lim di musholla Bait Al-rahman, dan kuliah subuh di musholla Siraj Al-huda. Selebihnya, memenuhi undangan syukuran khitanan, hajatan perkawinan dan sesekali beroleh kehormatan baca doa pada upacara pelantikan pejabat baru di kantor Bupati. Continue reading “Ustadz Andaru”

Bahasa »