Menimbang ‘Ketersesatan’ Novel Adam Hawa

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sekali lagi, geliat proses kreatif dalam sastra berbenturan dengan construct teologi Islam. Kali ini cikal soalnya berasal dari novel Adam Hawa karya Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Scripta Manent, 2005) yang tertuduh; melecehkan Qur’an. Sebuah Ormas Islam mengklaim tabiat kepengarangan Muhidin tergolong kategori hirabah (terorisme). Tak dirinci, tindak terorisme macam apa yang telah diperbuat Muhidin. Continue reading “Menimbang ‘Ketersesatan’ Novel Adam Hawa”

Sayembara Menulis Surat Cinta

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

Sebut saja nama lelaki itu MUSTAJAB. Tahun lalu ia telah berhasil meraih gelar sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota ini. Namun, ia belum berkeinginan untuk kembali pulang ke daerah asalnya. Nun di sana, di pulau jauh. Sebuah negeri yang katanya belum tertempuh roda-roda (kecuali roda-roda nasib yang sial), dan belum tertulis dalam peta. Continue reading “Sayembara Menulis Surat Cinta”

BANUN

Damhuri Muhammad
Kompas, 24 Okt 2010

Bila ada yang bertanya, siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar, pada sebuah pergunjingan yang penuh dengan kedengkian, seseorang menambahkan kata ?kikir? di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun. Continue reading “BANUN”

Warat

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejak kecil, Warat bercita-cita hendak menjadi guru. Tapi, karena keinginannya tak sama dengan ?kemauan? Tuhan, akhirnya ia menjadi politisi. Lelaki itu tak menyesali nasib, apalagi menolak takdir. Toh, Tuhan telah mengantarkannya pada nasib yang lebih mujur dari sekedar cita-cita guru. Lebih mujur, karena pendapatannya sebagai politisi berlipat-lipat lebih banyak dari gaji guru. Tak lama setelah Warat ?duduk? di kursi parlemen, terlintas di pikirannya untuk berwiraswasta. Namun, Warat gagal. Alih-alih menjadi pengusaha, justru ia menjadi nara pidana (napi). Continue reading “Warat”

Anak-anak Masa Lalu

Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.co.id/

BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus dimaklumatkan? Continue reading “Anak-anak Masa Lalu”

Bahasa ยป