Satu Wajah, Dua Muka…

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ?anak tiri? oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ?anak tiri?. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu. Continue reading “Satu Wajah, Dua Muka…”

Kesadaran Puitis & Politik

Damhuri Muhammad*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BAGAIMANA semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Continue reading “Kesadaran Puitis & Politik”

Reuni Dua Sejoli

Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.com/

BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka seakan tiada bakal puas sebelum tuntas bertanya-tanya; Kenapa kau belum juga punya keturunan, kawan? Continue reading “Reuni Dua Sejoli”

Achdiat K Mihardja Dari ?Sadar Nar? ke ?Sadar Nur?

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

Adalah lumrah bila agamawan bicara tentang Tuhan, karena memang di sanalah ?maqam? dan perannya. Tapi, akan mencengangkan bila Achdiat K. Mihardja tampil seperti mubaligh, dan secara terang benderang menyeru agar manusia kembali pada ?kesadaran kebertuhanan?. Menyibak tabir ?kejahiliahan? modern bahwa rasionalisme, sekularisme, eksistensialisme dan ?isme-isme tak bertuhan? lainnya telah menjerat manusia menjadi representator watak setan di muka bumi. Maka, sudah saat manusia ?kembali ke pangkal jalan?. Continue reading “Achdiat K Mihardja Dari ?Sadar Nar? ke ?Sadar Nur?”

Kehajian dalam Sastra

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sudah berkali-kali Haji Usman berkilah dan berkelit untuk tidak menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal, undangan terus berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Usman, tokoh masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan mengemukakan alasan kenapa ia keberatan memenuhi undangan dari sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya Haji Usman buka mulut juga. Continue reading “Kehajian dalam Sastra”