Tamasya ke Museum Kata-kata

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

(1)
Huruf-huruf bergelantungan di ranting-ranting pohon Akasia taman kota. Bergelayutan di rentang panjang kabel listrik yang bersilang pintang. Bergeloncatan di dinding-dinding gedung jangkung. Di jembatan penyeberangan, di halte pemberhentian Bus Way, gerbang tol, dan ruas-ruas jalan protokol. Para pengemudi panik alang kepalang karena kendaraan mereka terjebak dalam kerumunan huruf-huruf yang berseliweran. Bermunculan dari arah depan, belakang, sisi kiri, sisi kanan, bahkan dari delapan arah mata angin. Continue reading “Tamasya ke Museum Kata-kata”

Satu Wajah, Dua Muka…

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ?anak tiri? oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ?anak tiri?. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu. Continue reading “Satu Wajah, Dua Muka…”

Dam, Dam, Dam

Yopi Setia Umbara *
newspaper.pikiran-rakyat.com

AWALNYA saya tidak terlalu tertarik dengan esai Damhuri Muhammad (selanjutnya disebut Dam) yang berjudul “Kesadaran Puitis & Politik” yang diterbitkan di suplemen Khazanah di Pikiran Rakyat (Minggu, 5 April 2009). Karena, untuk sebuah esai judul macam itu biasa banget, kurang provokatif. Atau, mungkin Dam sengaja memilih judul itu, supaya tulisannya terkesan up to date. Maklum, pada waktu itu menjelang pemilu. Continue reading “Dam, Dam, Dam”

Kesadaran Puitis & Politik

Damhuri Muhammad*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BAGAIMANA semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Continue reading “Kesadaran Puitis & Politik”

Reuni Dua Sejoli

Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.com/

BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka seakan tiada bakal puas sebelum tuntas bertanya-tanya; Kenapa kau belum juga punya keturunan, kawan? Continue reading “Reuni Dua Sejoli”

Bahasa ยป