Olan

Donny Anggoro
sinarharapan.co.id

Namanya Olan, temanku sewaktu di SMA. Badannya kurus pendek, terkesan tidak berbahaya. Wajahnya selalu cerah seperti piring baru dicuci sehingga sering disangka banyak rezeki. ‘Anaknya’ pintar, selalu dapat rangking, populer dalam pergaulan. Pendek kata tidak ada yang tidak mengenal Olan. Setelah lulus SMA praktis aku tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan sampai aku kuliah, lulus, bekerja, berkeluarga dan mengontrak rumah. Sesungguhnya apa yang membuatku tiba-tiba hendak bercerita tentang Olan? Continue reading “Olan”

Komik Tak Pernah Mati

Donny Anggoro *
sinarharapan.co.id

Komik Indonesia boleh saja mengalami masa surut sejak 1980-an. Komik Indonesia boleh saja kalah pamor dengan serbuan komik asing, terutama komik manga dan produk-produk anime dari Jepang. Komik Indonesia juga boleh saja sulit diproduksi sehingga banyak penerbit lebih suka menerbitkan komik impor. Di tengah-tengah gempuran demikian, komik Indonesia diam-diam terus menggeliat, terutama gerakan komik underground. Continue reading “Komik Tak Pernah Mati”

Sastra Kota, Tantangan dan Pertumbuhan

Donny Anggoro
oase.kompas.com

Sastra adalah dunia imajinasi. Tak ada karya sastra paling imajiner yang sanggup memiliki wilayah otonomi mutlak, subjektif, bahkan tiada sangkut pautnya dengan individu atau kalangan tertentu seperti perkataan Adolfo Sanchez Vasquez “sastra lahir dalam ke-kini-an dan ke-di sini-an yang konkret” (Art and Society, Merlin Press, London, 1973). Memang Vasquez dalam buku tersebut menuliskan pandangannya dari kacamata Marxisme. Tapi dari pendapat Vasquez ada satu hal yang sulit ditolak: karya sastra tak mungkin lahir dari ruang kosong. Continue reading “Sastra Kota, Tantangan dan Pertumbuhan”

Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis

Donny Anggoro *
nasional.kompas.com

Dalam lingkup pergaulan metropolis yang riuh tiba-tiba ada “kesepakatan” bahwa tema sebagian besar karya sastra baru jadi memusat dalam setting yang nyaris sama, yaitu kota sehingga ia tak penting lagi berasal dari suatu negara. Imam Muhtarom dalam esainya Kasus Sastra Amerika Latin (Kompas, 9 April 2006) menulis Amerika Latin, negeri yang menjadi komoditas budaya lewat karya-karya Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dan lain-lain (termasuk ke Indonesia) tak lagi booming realisme magis. Imam lalu mengemukakan pernyataan: jika arus global tak terbendung dengan menjadi serba metropolis, bisakah muncul estetika baru atau hanya sampah? Continue reading “Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis”

Sejarah Komik Indonesia: Kepala Tanpa Leher

Donny Anggoro
sinarharapan.co.id

“Tidak seharusnya buku komik seperti itu!?”
Scott McCloud dalam Understanding Comics: The Invisible Art, HarperCollins Publishers, New York, 1993.

Lontaran Scott McCloud di awal tulisan ini berpijak pada kondisi sosiologis yang keliru di masyarakat sehingga eksistensi komik melulu dianggap sebagai bacaan anak mutu rendahan, sekali baca lalu dibuang. Continue reading “Sejarah Komik Indonesia: Kepala Tanpa Leher”

Bahasa ยป