Penerjemah: Ahmad Yulden Erwin *
Eros dan Sastra
D.A. Peransi
Akhir-akhir ini banyaklah diterbitkan roman dan cerita yang dengan jelas sekali menggambarkan fakta-fakta seksual. Beginilah kebohongan-kebohongan terbesar itu dilakukan atas nama kejujuran dan keterusterangan. Penentuan sinis bahwa dunia sudah demikian dan bahwa hal-hal tersebut lebih baik, juga diceritakan, bukanlah kebenaran yang terakhir. Amatlah berfaedah untuk mencoba sampai pada pengertian dan dengan demikian sikap sebenarnya terhadap lektur semacam itu. Continue reading “Eros dan Sastra”
Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta
H.B. Jassin
SIFAT 20 menyebutkan bahwa Tuhan Melihat. –Apakah Ia punya Mata? Tuhan Mendengar. –Apakah Ia punya Mulut? Punya Lidah? –Kalau Tuhan bisa murka sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa Tersenyum atau Tertawa?
Tidak! Tidak semua itu!! Apa pun pertanyaan kita dan apa pun jawaban kita, senantiasa Ia lebih dari mempunyai sifat dan keadaan yang bisa kita gambarkan. Ia adalah Mukhalafat lil hawadith, beda dari segala yang baru. Continue reading “Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta”
“Kakaren” Simposium Kritik Sastra
Achdiat K. Mihardja
Kakaren adalah kata Sunda. Artinya ‘sisa’, ‘yang tertinggal’, ‘restantjes‘ kalau kata Belandanya. Dan sufiks diminutif ‘tjes’ itu memang esensial, sebab kakaren (boleh diindonesiakan menjadi “kekaren”) semata-mata merupakan sisa-sisa makanan yang tertinggal sesudah pesta makan selesai. Sisa itu dikumpulkan untuk dimakan besoknya, atau dibuang ke tempat sampah. Continue reading ““Kakaren” Simposium Kritik Sastra”
Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini
Wiratmo Soekito
Dengan pemikiran sastra bukan puisi, novel ataupun sudah tentu yang kita maksud cerpen, tetapi lebih berkenaan dengan kritik dalam berbagai bentuknya, atau dengan sendirinya tidak masuk dalam kategori seni. Sebab seni itu tidak menguraikan, melainkan menyatakan, sehingga seni itu tidak memerlukan argumen atau alasan. Seorang seniman menurut hemat kita boleh tidak logis, malahan seorang seniman dalam menyatakan seninya boleh “sinting” atau “gila”. Continue reading “Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini”

