Kemana Emha Ainun Nadjib?

Syaripudin Zuhri
http://www.kompasiana.com/virays

Di jaman Orde Baru(ORBA) namanya hampir setiap hari terpampang di media cetak, baik di surat kabar maupun majalah. Boleh dibilang tak ada hari tanpa Emha Ainun Nadjib. Kritikan yang tajam terhadap pemerintahan ORBA tak habis-habisnya dengan gaya tulisannya yang sangat menarik, lancar dan menginspirasi setiap pembaca. Dan sebagai budayawan yang luas wawasannya membuat gaya tarik sendiri. Continue reading “Kemana Emha Ainun Nadjib?”

Bersalaman dengan Gadis Gila

Emha Ainun Nadjib
Harian SURYA, 7 Des 1992

Hari ini saya menerima surat dari sebuah kota pesisir utara Jawa yang berisi permohonan maaf kepada saya. Tentu saja saya membalasnya dengan kata-kata: “Saya tidak berhak memberi maaf kepada Anda, sebab menurut pengetahuan saya Anda bersalah tidak kepada saya, melainkan kepada Tuhan, kepada gadis gila itu dan kepada diri Anda sendiri.” Continue reading “Bersalaman dengan Gadis Gila”

Puasa, Setan, dan Gempa

Emha Ainun Nadjib

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan. Continue reading “Puasa, Setan, dan Gempa”

Harga Diri Ayam

Emha Ainun Nadjib

AYAM memang hewan atau binatang, tetapi tak sekadar hewan atau binatang, ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam, penghuni kandang ayam pojok RT. Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung bukan anjing, bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang. Continue reading “Harga Diri Ayam”

Bahasa ยป