Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka

Adek Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

USAI Idul Fitri 2007 lalu Pemrov DKI Jakarta kembali merazia kaum urban baru, seakan menegaskan lagi “ketertutupan” Jakarta bagi mereka. Tetapi bagi kaum pengarang hal itu kini tidak penting-penting amat. Mau terbuka atau tertutup Jakarta bukan lagi yang memiliki fasilitas terlengkap dan oleh karena itu harus diserbu. Dunia telah berubah. Juga Tanah Air, berkat kemajuan teknologi informasi-komunikasi. Continue reading “Pengarang Indonesia dan Dunia yang Terbuka”

Dari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf Sakai

Fadlillah
http://www2.kompas.com/

ADA kehendak untuk melupakan masa lalu pada setiap orang atau bangsa ketika sejarah masa lalu begitu pahit dan tidak disukai. Kemudian kejadian itu akan berlanjut untuk menghadirkan cerita-cerita yang menghibur hati yang terluka, kekecewaan dan kepedihan, hal ini adalah fenomena tragedi patologi sosial. Hadirnya cerita untuk menghibur kekecewaan dan kepedihan adalah dikarenakan ada lara yang hendak dilipur. Continue reading “Dari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf Sakai”

H.B. Jassin tanpa Wahyu

M. Fadjroel Rachman
http://www.jawapos.com/

Membaca Hudan Hidayat, membaca Nabi Tanpa Wahyu (2008), adalah membaca sastra Indonesia muda yang jatuh bangun merintis jejak di dunia baru dalam aras nasional, regional, dan global. Hudan Hidayat (HH) tak lelah-lelah mencari jejak penulis baru, menciumi aroma pembeda, menelisik simpangan subtil, mencari kaitan pergaulan sastra Indonesia baru dan globalisasi dunia baru. Continue reading “H.B. Jassin tanpa Wahyu”

Bahasa ยป