Ihwal Regenerasi Sastra Riau (II)

Marhalim Zaini
riaupos.com

(Bagian Kedua/Habis)

Lalu di manakah Saidul Tombang menghilang? Sebenarnya ia tak benar-benar menghilang. Meski cuma sesekali muncul dengan cerpennya di Riau Pos, rupanya ia diam-diam menulis novel. Sebuah manuskrip 200-an halaman yang datang pada saya beberapa waktu silam (akhir 2007) adalah sebuah novel berjudul Lawa karya Saidul Tombang. Continue reading “Ihwal Regenerasi Sastra Riau (II)”

Konflik Ideologi Agama dan Politik dalam Novel Teguh Winarsho AS

Yosi M Giri *
kompas.com

Jika Solzhenitsyn–melalui karya-karyanya–menyuguhkan gambaran perubahan sosial (baca: masyarakat) di bawah cita-cita komunisme di Rusia sebagai sebuah penolakan terhadap gagasan historical optimism, maka seorang Prameodya Ananta Toer (Pendekar Pulau Buru) justru menyajikan historical truth, melalui Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang menggambarkan masyarakat dalam kurun sejarah tertentu beserta perubahan-perubahan sosialnya. Continue reading “Konflik Ideologi Agama dan Politik dalam Novel Teguh Winarsho AS”

Ketika Sastra Masih Kering Di Sekolah

Ria Febrina
http://www.padangekspres.co.id/

Awal mula berkenalan dengan sastra waktu itu masih di SLTP 2 Padang tahun 2001, seorang guru bertanya tentang Buya Hamka. Tak seorang pun yang bisa menjawab, termasuk saya. Kemudian, ia menerangkan bagaimana sosok Hamka, termasuk karya-karyanya yang sangat fenomenal. Setelah belajar, saya mengingat namanya dan mencari karya beliau di perpustakaan sekolah. Saya menemukan label sastra dalam novelnya yang agak tebal, 224 halaman. Penasaran dengan cerita panjang yang ditulis oleh Hamka, saya membaca hingga tuntas buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Continue reading “Ketika Sastra Masih Kering Di Sekolah”

Filsafat Organisme dan Kearifan Ekologis

Afthonul Afif
http://www.korantempo.com/

Setiap kali musim hujan tiba, hampir bisa dipastikan bencana alam pun melanda. Banjir dan tanah longsor di beberapa daerah menjadi penanda bagi datangnya musim hujan tahun ini. Saya sepenuhnya tidak yakin bencana yang telah menjadi rutinitas tahunan itu semata-mata fenomena alam tanpa campur tangan manusia. Saya memastikan bahwa ada yang salah dalam sikap mental kita dalam berinteraksi dengan alam sekitar. Kita harus berani jujur bahwa kita tak lagi memiliki kesadaran ekologis. Continue reading “Filsafat Organisme dan Kearifan Ekologis”

Bahasa ยป