Kritik

Arie MP Tamba
jurnalnasional.com

Sebagai seorang pembaca karya sastra, saya mempercayai apa yang dikatakan Jauss yang kemudian lebih dikenal sebagai paham teori resepsi, bahwa karya sastra bukanlah sebuah obyek yang berdiri sendirian dan menawarkan wajah yang sama kepada setiap pembaca dalam setiap periode. Sebab, lanjut Iser (temannya Jauss), setiap pembaca selalu berpartisipasi aktif dalam pembacaannya, sesuai cakrawala harapan atau pengetahuan kesusastraannya masing-masing. Continue reading “Kritik”

Epik dan Lirik yang Panjang Umur

Asarpin
lampungpost.com

Biasanya saya akan menjawab agak ragu: Dengan seluruh tubuhnya. Ototnya menarik denyut pikiran, bulu pada dagingnya mengernyitkan denyar rasa yang menukik di kedalaman, otaknya bekerja merangsang bibir, gigi, lidah menggiring darah. Darah pada jantungnya memompa mesin perasaan, paru-parunya menapaskan atau mengembuskan. Maka jadilah puisi. Dan kena sentuh puisi Iswadi, maka bahasa membatu dan selanjutnya ia tamat sebagai bahasa; ia menjelma sajak. Continue reading “Epik dan Lirik yang Panjang Umur”

Sastra Pun Berdiaspora

Ilham Khoiri, Budi Suwarna
kompas.com

Lama sudah sastra menempati ruang sakral milik kalangan elite sastrawan yang menulis bak empu menempa keris. Ketika teknologi informasi kian canggih dan medan sosial makin terbuka, kini dunia penulisan mencair dan mengalami “booming”. Semua orang seperti keranjingan menulis, komunitas sastra bermunculan, buku-buku terbit, dan internet diramaikan puisi atau cerpen. Continue reading “Sastra Pun Berdiaspora”

Chairil, si Penyair “binatang jalang”

Zul Afrita
padangekspres.co.id

Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu// Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh// cayaMu panas suci// Tuhanku// aku hilang bentuk/ remuk// Tuhanku // aku mengembara di negeri asing// Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. (Doa, Chairil Anwar). Meskipun telah tiada, namun Penyair “binatang jalang” itu tetap hidup bersama sajaknya. Continue reading “Chairil, si Penyair “binatang jalang””

Sastra Mutakhir Hingga Pantun Sunda

Yopie Setia Umbara *
newspaper.pikiran-rakyat.com

PALING tidak terdapat empat hal yang menggejala kuat muncul dalam sejumlah karya sastra Indonesia mutakhir. Pertama, pencarian identitas dalam kerumitan tarik-menarik antara pergulatan pribadi melawan pandangan kolektif. Kedua, upaya mencerna kembali aneka rupa trauma, mulai dari suksesi kekuasaan di masa lampau, bencana politis-kolonial, tragedi PKI, hingga bencana alam. Ketiga, fiksi yang memadukan unsur tradisional dengan gaya hidup kosmopolitan. Dan keempat yang juga terasa kuat dalam karya sastra Indonesia akhir-akhir ini adalah keprihatinan empatik atas nasib korban-korban bencana alam. Continue reading “Sastra Mutakhir Hingga Pantun Sunda”

Bahasa »