Saini KM, Puisi, dan Pertemuan Kecil

Soni Farid Maulana
pikiran-rakyat.com

SETELAH periode Kuntum Mekar (1950-1965), rubrik puisi di HU Pikiran Rakyat ada dalam periode Pertemuan Kecil (1976-1996), yang diasuh penyair Saini KM. Rubrik tersebut selain memuat sejumlah puisi karya para penyair dari generasi kemudian, juga memuat tulisan Saini KM mengenai kelebihan dan kelemahan puisi yang ditulis para penyair yang diasuhnya itu. Continue reading “Saini KM, Puisi, dan Pertemuan Kecil”

Sastra, Santri, dan Film Perempuan Berkalung Sorban

Aning Ayu Kusuma
http://www.republika.co.id/

Setelah sukses menggarap film Ayat-Ayat Cinta, sutradara muda Hanung Bramantyo akan melahirkan lagi sebuah film religi yang sangat kritis dan kontroversial, Perempuan Berkalung Sorban(PBS), yang diangkat dari novel Abidah El Khalieqy.

Sebagaimana pernah dikemukakan Maman S Mahayana dan Ahmadun YH, karya-karya sastra Abidah telah berhasil menyingkap cadar tradisi dunia pesantren, kultur Jawa, dan budaya Arab. Continue reading “Sastra, Santri, dan Film Perempuan Berkalung Sorban”

Kritikus Sastra Temukan Larik-larik Ajaib pada Karya Azwina

Yurnaldi
http://www.kompas.com/

Peluncuran dua buku puisi karya penyair Azwina Aziz Miraza; Tuhan, Aku Sendirian dan Di Setengahnya adalah Kita oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jumat (16/1) di Jakarta, menarik kalangan sastrawan, budayawan, dan dosen dan mahasiswa perguruan tinggi. Kritikus dan pakar sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, menemukan kata dan kalimat yang membangunan larik-larik ajaib. Continue reading “Kritikus Sastra Temukan Larik-larik Ajaib pada Karya Azwina”

KULTUR ETNIK DALAM KEINDONESIAAN

: KEGELISAHAN MELAYU DALAM HEMPASAN GELOMBANG

Maman S. Mahayana

Sastra sejatinya bukanlah sekadar menampilkan sebuah dunia rekaan, bukan pula semata-mata menghadirkan peristiwa-peristiwa imajinatif. Ia dapat diperlakukan sebagai potret sosial jika di dalamnya terungkap problem dan kegelisahan yang terjadi di dalam kehidupan kemasyakaratan. Dengan demikian, sastra dapat dipandang sebagai dokumen sosial; sebagai cermin masyarakat atau pantulan hasrat terpendam dan semangat individu atau komunitas yang (mungkin) menjadi harapan sastrawannya. Continue reading “KULTUR ETNIK DALAM KEINDONESIAAN”

Bahasa ยป