Kritikus Sastra Temukan Larik-larik Ajaib pada Karya Azwina

Yurnaldi
http://www.kompas.com/

Peluncuran dua buku puisi karya penyair Azwina Aziz Miraza; Tuhan, Aku Sendirian dan Di Setengahnya adalah Kita oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI) bekerjasama dengan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jumat (16/1) di Jakarta, menarik kalangan sastrawan, budayawan, dan dosen dan mahasiswa perguruan tinggi. Kritikus dan pakar sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, menemukan kata dan kalimat yang membangunan larik-larik ajaib.

Bahkan, doktor lulusan Universitas Gadjah Mada Wahyu Wibowo yang kini pengajar dan lektor kepala di Universitas Nasional, mencermati gaya kepenyairan Azwina yang ontologis, sebuah fenomena menarik. Bengkel Sastra Ibukota (BSI), Azwina, puisi, dan era-1980-an adalah fenomena ketika dunia sastra Indonesia masih dihegemoni dua kutub: Taman Ismail Marzuki dan perguruan tinggi, katanya.

Peluncuran dan bedah buku puisi Azwina Aziz Miraza adalah untuk mengenang kepenyairannya. Azwina yang telah berpulang ke Rahmatullah, 8 September 2008. Azwina (48) tidak hanya meninggalkan tiga putri; Kiki, Riri, dan Puput, serta suami Hendry Ch Bangun. Tetapi juga meninggalkan banyak puisi yang belum sempat terpublikasi dan diterbitkan. S emasa hidup puisi-puisi dan cerpen Azwina sudah diterbitkan sedikitnya ke dalam 10 buku kumpulan puisi tunggal dan beberapa antologi penyair perempuan Indonesia.

Maman S Mahayana mengatakan, tema apa pun yang diangkat Azwina, dirasakan ada sesuatu yang sengaja dihadirkan, sekaligus juga sengaja disembunyikan. Di sana, ada ruh yang menjiwai segenap puisinya. Secara tematik setiap puisinya menyembulkan pesan dan makna tertentu, tetapi juga sekaligus menyembnyikan makna lain.

Jadi ada dua sisi yang seperti berlawanan , tetapi bukan sebagai kontradiksi. Kedua kutub yang saling berlawanan itu, justru sesungguhnya mengalir berkelindan. Di situlah keajaibannya. Ia membangun paradoks yang saling mengejar makna. Ia mungkin t ak cukup puas menawarkan metafora, maka di sana, tersedia pula sayap lain untuk menghadirkan kata-kata bersayap, jelasnya.

Hal lain yang juga terasa segar dalam puisi-puisi Azwina adalah semangatnya dalam melakukan eksploitasi bahasa. Usaha penciptaan metafora dan paradoks yang mencoba menghindar bentuk klise itu terasa tidak sekadar asal enak dibaca melalui permainan kesamaan bunyi akhir, tetapi ia justru memberi bobot pada tema-tema yang diusungnya. Di situ pula keajaiban yang lain muncul lagi.

Saya berhadapan dengan begitu banyak tema yang berhubungan dengan problem eksistensial ketika Tuhan berada entah di mana, tetapi terasa begitu dekat. Rangkaian tema spiritualitas perhubungan manusia dengan Tuhan dalam puisi-puisi Azwina agak berbeda dengan tema sejenis yang pernah diangkat penyair lain. Sebutlah kompleks kerinduan manusia den gan Tuhan yang dapat kita telusuri pada puisi-puisi Abdul Hadi WM, Amir Hamzah, Hamzah Fansuri sampai terus ke belakang memasuki puisi-puisi penyair sufi, jelas Maman.

Azwina menurut dia, kedekatannya dengan Tuhan justru digunakan sebagai spirit untuk memasuki problem sosial, dan bukan sebagai hasrat hendak menyatu dengan Tuhan: manunggaling kawula Gusti. T uhan tetap diperlakukan sebagai misteri yang menakjubkan. Tetapi tidak untuk melupakan tanggung jawabnya atas kehidupan di sekitar. J adi, kecintaannya pada Tuhan, bukan sebagai usaha untuk berjumpa dengan Dia, melainkan agar ada spirit menjejakkan kaki dalam kehidupan sosial.

Sedangkan Wahyu Wibowo melukiskan puisi Azwina benar-benar jatuh dari langit. Intuisi, persepsi, intelektualitas, diksi, dan argumentasi pada dirinya lebih diasahnya secara ontologis, yakni melalui perenungan dan pengalaman. Puisnya menyiratkan tiruan alam, jatuh dari langit batinnya.

Pencitraan yang dibangun Azwina melalui kesadaran ontologisnya itu, dilakukan terus menerus, sehingga dapat dipahami sebagai gaya kepenyairannya, ujarnya.

Kurnia Effendi yang juga menjadi narasumber, menilai idiom-idiom dalam puisi-puisi Azwina menarik. Padahal, ia mencipta puisi sekali jadi, bagai air mengalir.

Tidak ikut campur
Sebelumya, ketika memberikan sambutan, suami almarhumah, Hendry Ch Bangun, puisi-puisi Azwina yang belum diterbitkan banyak sekali. Sebagian besar puisinya di buku Tuhan, Aku Sendirian yang semula diterbitkan 12 Mei 2008 ini menggambarkan hal-hal spiritual yang dia alami dan dia rasa perlu tuangkan dengan rasa puitis estetis yang memang sudah dia miliki, sehingga layak menjadi sebuah karya sastra.

Ada pula yang sebenarnya sekadar gambaran, tetapi sengaja dimuat untuk memperjelas pengalaman batin yang dialaminya, katanya.

Memberi pengantar di buku Tuhan, Aku Sendirian diakui Hendry sebagai pertama kali, dari sekian buku yang dibuat Azwina.

Ketika masih pacaran, kami membuat buku yang berisi puisi kami berdua dengan judul Tango Kota Air yang kami jadikan kado pernikahan bulan Mei 1983. Setelah itu saya berhenti dan dia terus mencipta. Namun, saya membatasi dir i untuk tidak ikut campur, meski sekadar untuk konsultasi karena saya tahu diri, tidak memiliki bakat sebesar dia, cerita Hendry.

Janji Hendry untuk membuat buku kompilasi yang akan memuat puisi-puisi terbaiknya sejak remaja sampai kumpulan terakhir, sudah terwujud dengan terbitnya buku Di Setengahnya adalah Kita, yang diluncurkan bersamaan dengan buku Tuhan, Aku Sendirian.

Pada acara bedah buku, sejumlah sejawat dan teman almarhumah membacakan puisi dan komentar, antara lain Wowok Hesti Prabowo, Remi Novaris DM, Adek Alwi, Hamsad Rangkuti, Diah Hadaning, dan Darmadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *