Teater Jatim, Seperti Gelas di Bibir Meja

Rakhmat Giryadi *

Melihat perkembangan teater di Jatim, seperti melihat gelas di bibir meja, saat keramaian sebuah pesta. Kita dibuat was-was, tetapi kita sendiri malas meletakan gelas itu pada posisi yang aman. Dan memang teater Jatim, sedang berada dalam bibir meja, yang pada suatu saat bila tidak segera sadar ruang, maka gelas itu akan jatuh juga ke lantai dan pecah berkeping-keping. Continue reading “Teater Jatim, Seperti Gelas di Bibir Meja”

NOVEL POPULER DAN NOVEL SERIUS

Maman S. Mahayana *

Pertanyaan yang banyak muncul di kalangan guru sastra yang menyangkut novel populer adalah: kriteria apa yang menjadi ciri pembeda antara novel serius dan novel populer; bagaimana menangkap dan menentukan perbedaan-perbedaan kedua jenis novel itu Pertanyaan berikutnya menyangkut keraguan: apakah para siswa dibolehkan juga membaca novel-novel populer atau hanya novel serius saja? Pertanyaan terakhir berhu-bungan dengan kemungkinan bacaan itu berdampak negatif: apakah novel populer dapat mendatangkan pengaruh buruk bagi siswa atau tidak? Continue reading “NOVEL POPULER DAN NOVEL SERIUS”

Jalan Teater, Ketunggalan atau Keberagaman?

Halim HD *
Kompas, 09 Feb 2003

KENAPA teater tidak pernah surut dari kehidupan kaum muda, dan kenapa pula jalan itu yang menjadi pilihan bagi mereka untuk mencari dan menyatakan diri mereka? Hidup tampaknya bukan hanya untuk mencari pengisi sejengkal perut di antara kesulitan hidup dan jejalan iklan konsumtif yang selalu menggoda yang ada pada semua ruang. Namun, di situ pula saya menyaksikan, dengan rasa heran yang tak pernah selesai, luapan energi yang menggelegak yang tak pernah sirna dari kedalaman diri kaum muda yang menggabungkan energi mereka ke dalam berbagai grup teater: pencarian diri. Continue reading “Jalan Teater, Ketunggalan atau Keberagaman?”

Empat Citra Perempuan dalam Sastra Kita

Tjahjono Widarmanto
http://republika.co.id/

Perempuan kita yang pertama berasal dari dusun di pelosok Gunung Kidul, wilayah yang mendapat stigma sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia: Pariyem. Dia adalah tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem, perempuan Jawa yang merasa sangat beruntung dapat menjadi pembantu rumah tangga seorang priyayi. Continue reading “Empat Citra Perempuan dalam Sastra Kita”

Bahasa ยป