Jalan Teater, Ketunggalan atau Keberagaman?*

Halim HD**
http://www.kompas.com/

KENAPA teater tidak pernah surut dari kehidupan kaum muda, dan kenapa pula jalan itu yang menjadi pilihan bagi mereka untuk mencari dan menyatakan diri mereka? Hidup tampaknya bukan hanya untuk mencari pengisi sejengkal perut di antara kesulitan hidup dan jejalan iklan konsumtif yang selalu menggoda yang ada pada semua ruang. Namun, di situ pula saya menyaksikan, dengan rasa heran yang tak pernah selesai, luapan energi yang menggelegak yang tak pernah sirna dari kedalaman diri kaum muda yang menggabungkan energi mereka ke dalam berbagai grup teater: pencarian diri. Maka, teater menjadi suatu kawah yang menggodok diri mereka ke dalam gabungan arus energi yang tak pernah henti, yang mereka salurkan pula ke dalam kehidupan kemasyarakatan dan dalam proses kebudayaan.

Secara individual dan secara psikologis, teater bisa menjadi suatu proses dari pematangan seseorang kepada pilihan hidupnya yang akan datang; dia menjadi rentangan waktu dalam proses pengujian bagi pencarian kepribadian, dan di dalamnya kita dapatkan berbagai usaha secara individual maupun sosial untuk menyatakan diri secara bersama-sama. Namun, di situ pulalah soalnya; masalah yang tak pernah bisa kita mungkiri bahwa setiap pribadi memiliki kehendak dan tujuan masing-masing. Adakah keunikan, kekhasan kepribadian akan makin berkembang atau sirna di dalam proses pengelompokan, seperti “nasionalisasi massa” (meminjam ungkapan George Mosse, Universitas Wisconsin, dalam bukunya The Nationalization of the Masses, Cornell University Press, 1975) yang gemuruh dan menggerus siapa saja di dalam suatu proses politik dalam penggalangan massa partai ketika kampanye atau pada berbagai ritus politik lainnya?

Dalam suatu keluarga yang ideal kita menemukan suatu proses yang sangat menarik, ketika kedua orangtua tidak lagi memiliki hak dan kewajiban untuk menentukan arah yang paling mendasar dan penting bagi kehidupan seorang anak di dalam pencarian diri mereka. Orangtua hanya sebagai “fasilitator” dalam proses arah yang akan dipilih oleh sang anak. Untuk itulah kebenaran terdapat dalam ungkapan yang bermakna luhur dari pujangga Lebanon, Kahlil Gibran: anakmu adalah panah yang lepas dari busurnya yang menembus kegelapan malam. Di situlah pencarian diri dan misteri kehidupan senantiasa dilakukan dan ditemui oleh setiap orang berdasarkan kapasitas masing-masing.

Erich Fromm, seorang sosialis-humanis di dalam uraiannya yang mendalam tentang hubungan manusiawi dalam bukunya yang sangat terkenal, The Art of Loving yang terbit empat dekade yang lampau mengungkapkan bahwa ada empat hal yang terpenting di dalam proses pengembangan kasih sayang, yang digambarkannya dengan contoh yang sangat menarik tentang hubungan antara orangtua dengan sang anak, yakni: “responsibility” (tanggung jawab), “care” (pemeliharaan), “knowledge” (pengetahuan), dan “respect” (rasa hormat). Adakah teater bisa dimaknai seperti itu pada proses dari setiap orang dalam pencarian dirinya di dalam kebersamaan? Ataukah dia hanya menjadi milik “sang pendiri”, “sang sesepuh”, “sang sutradara”, “sang penentu ideologis teater” yang bagaikan suatu rezim pada sebuah grup, yang pada akhirnya mengulang kembali lubang hitam sejarah berbagai grup yang pernah ada di bumi nusantara ini: raja-raja kecil, dengan sejumlah instruksi yang mesti dituruti. Dan lubang hitam itu makin terhunjam ke dalam kehidupan sosial ketika berbagai lembaga dan sarana demokratisasi tidak berjalan semestinya, dan teater tak mampu mengelakkan dirinya dari godaan untuk menolak kerakusan cara-cara kekuasaan.

Lihatlah sekeliling kita yang kini masih memprihatinkan di dalam kehidupan grup teaternya: fanatisme kelompok, ketidakmatangan di dalam perbedaan pendapat, kontrol yang dominan dari para senior yang menjadi kaum feodal baru, dan berbagai problematik sosial dan psikologis yang ada di dalamnya, yang kesemuanya mencerminkan realitas tentang ketidakpahaman di dalam memaknai teater sebagai jalan dalam kehidupan sosial. Tapi, kondisi seperti itu tidak mengurangi gairah kaum muda untuk menapaki jalan, atau sekadar untuk menjadi anggota sebuah grup. Adakah hal ini sekadar luapan emosional akibat kebuntuan lembaga sosial yang tak mampu menyalurkan berbagai inspirasi, gagasan, cita-cita, dan harapan kaum muda.

Tampaknya, dorongan menapaki jalan teater atau sekadar memasuki sebuah grup bersama teman-teman lainnya untuk bermain teater, bukanlah sekadar soal kebuntuan berbagai institusi sosial yang ada di lingkungan kaum muda. Ada hal yang lebih dari itu yang tampaknya terus menggelitik dan menggoda dirinya untuk memasuki dan menapaki wilayah itu, walaupun sekadar sekejap: sebuah panggung yang dibayangkan akan menampilkan dirinya, dan di situlah dia hadir bersama suatu dunia. Bayangan atau sejenis harapan seperti itu senantiasa menggoda kaum muda yang seakan-akan dunia dalam genggamannya ketika dia berada di atas panggung, yang oleh banyak orang dianggap sebagai kegamangan. Tapi, kondisi psikologis dan eksistensial seperti itu bukanlah hanya milik semata-mata kaum muda saja; di kalangan kaum tua pun senantiasa bermunculan godaan akibat post-power syndrome, yang justru bagaikan ketoprak humor yang sama sekali tidak lucu yang dipenuhi oleh berbagai “fatwa moral” yang instruktif tentang heroisme dan ketaqlidan tatanan kehidupan berdasarkan versi mereka yang tak lagi mampu menciptakan dirinya sebagai panutan sosial, yang pada saat yang sama mengalami berbagai gugatan dari kaum muda.

Panggung teater dan panggung sosial menjadi ajang, dan pada setiap saat di mana saja selalu bermunculan “kudeta terselubung” pada ruang-ruang publik, dan bahkan telah memasuki ruang pribadi, di dalam tatanan rumah tangga. Keretakan hubungan itulah yang tampaknya membawa kaum muda untuk mencari wilayah dan ruang bagi dirinya, ketika lembaga pendidikan, berbagai lembaga sosial menjadi mampat dan buntu serta lembaga keluarga yang tidak lagi memberikan kehangatan. Tapi, risiko untuk memasuki dan menapaki wilayah atau jalan teater itu membawa mereka kepada ikatan baru yang juga tak sepenuhnya ideal sebagaimana mereka bayangkan. Di dalam ruang dan wilayah teater itu sendiri telah ter/di-bentuk sejenis kekuasaan oleh para pendahulunya, yang bahkan kerap lebih keras daripada yang ada di luar wilayah itu. Ironi kehidupan sosial senantiasa terjadi di mana-mana.

Dengan idealisasi dan memperbandingkan serta membayangkan suatu komunitas teater sebagai wilayah yang beragam, yang menampung berbagai keunikan, kekhasan, dan menghormati adanya suatu misteri yang terselubung dalam proses pencarian seseorang yang berada di dalam grup atau jalan teater sebagai harapan yang kita lambungkan pada dunia itu. Adakah jika kita menerapkan perspektif idealisasi itu suatu hal yang mustahil pada grup-grup teater kita? Kita menyaksikan banyak sosok telah lahir, dari waktu ke waktu, sebagai pribadi dari jenis dan bentuk seni pertunjukan yang memang selalu sarat dengan penyajian dan pergulatan berbagai masalah kehidupan. Dan darinya pula setiap orang diharapkan bisa ngangsu kawruh, menimba makna dan nilai-nilai kehidupan, dan nglakoni sebagai proses pencarian jati diri individual maupun sosial.

Namun, realitas kehidupan jelas-jelas tidak semulus harapan yang kita bayangkan; ironi senantiasa pula terdapat di dalam dunia teater. Ada pula begitu banyak orang yang dirinya diidentikkan dengan grup yang memandang dan cara mengembangkan grup atau komunitas lalu menjadi paranoia: mencurigai berbagai perbedaan dan pilihan yang muncul dan datang dari seorang anggota grup/komunitas. Hidupnya sangat obsesif dan posesif terhadap grup, hampir-hampir mendekati fanatisme sektarian yang menggembleng setiap anggota grupnya untuk taqlid dan hanya menurut kepada arah yang diberikan oleh “sang pemimpin”, yang kebetulan juga mendirikan grup yang bersangkutan. Pada kasus lainnya, pada grup yang sudah sirna, dan atau yang sedang tumbuh, terdapat “feodalisme” yang ditancapkan untuk memberikan “bobot” kepada posisi seseorang yang merasa dirinya sebagai “sesepuh”, “sang paling ahli”, yang selalu menganggap dirinya memiliki sentuhan akhir sebelum segala sesuatunya berhadapan di panggung masyarakat.

Dengan dalih itu pula suatu grup teater ingin dikangkangi sebagai milik dirinya, dan sekaligus pula melakukan sensor atas berbagai pemikiran dan arus bawah yang datang dari anggotanya. Tentu selalu ada ungkapan yang menggebu-gebu tentang “keterbukaan”, “partisipasi anggota”, “bebrayan” (hubungan antar-saudara), “solidaritas”, “komitmen”, “dialog”, “diskusi”, yang kesemuanya itu tak lebih dan tak kurang pula bagaikan penjelasan juru penerang departemen di zaman rezim Soeharto-Harmoko, yang kayak “anjing menggonggong”, kata esayis-penyair Afrizal Malna, yang terlampau sadar kepada posisi dirinya bahwa dia memiliki “otoritas” sebagai pendiri (juga biasanya sebagai sutradara, penulis naskah, tentu juga sebagai “sang pemimpin”!). Dirinya ditabalkan sebagai “akar tunggang” dan sekaligus “masa depan” yang akan dan harus diraihnya. Maka para anggota grup teater hanya sekadar jadi “pelengkap penderita” yang notabene juga sebenarnya adalah ikut mendirikan dan ikut pula membesarkan grup yang bersangkutan. Lalu pertanyaan kita: ke mana pula prinsip dan proses “biarkan bunga-bunga berkembang bersama warnanya masing-masing?”

Jadi, betapa ringkih dan rapuhnya jarak-makna yang terbentang antara “grup teater” dengan “jalan teater”, yang kini di hadapi oleh setiap orang yang akan dan sedang mencari serta memahami misteri dan keunikan hidup yang dimaknai oleh usaha pencariannya ke arah kebersamaan. Mungkin dia yang tak mendapatkan tempat pada grup, bisa juga memaknai atau bahkan menjalani “jalan teater” yang sesungguhnya, bahwa hidup itu sendiri suatu “lahan teater” yang terbuka selebar-lebarnya dan senantiasa menampung siapa saja, yang memiliki tangan yang terampil, kaki yang kukuh, pikiran yang jernih dan terbuka serta perasaan mendalam dan kehendak yang tak mudah goyah, yang mendorong metabolisme di dalam dirinya untuk mengucurkan keringat yang bisa membasahi bumi dan tanah yang dipijak olehnya. Di situ pula kita akan menyaksikan tumbuhnya rerumputan dan pepohonan kebudayaan dan kehidupan yang memiliki akar yang lebih kuat dan mendalam.

Dan, teater, sebagaimana selalu saya pahami dan maknai pada kehidupan dan pertumbuhannya senantiasa secara nyata tampak sebagai daur ulang dari berbagai jenis batu nisan yang dipahatkan bagi kehidupan yang akan datang. Di situ pula kita menyaksikan torehan makna dari tangan-tangan yang menggeletarkan energi yang terus meraba tak henti-hentinya di dalam pencarian dan pemahaman misteri serta keunikan hidup.

**) Networker Kebudayaan.
*) digunting dari Kompas, 09 Februari 2003.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*