Empat Citra Perempuan dalam Sastra Kita

Tjahjono Widarmanto
http://republika.co.id/

Perempuan kita yang pertama berasal dari dusun di pelosok Gunung Kidul, wilayah yang mendapat stigma sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia: Pariyem. Dia adalah tokoh dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem, perempuan Jawa yang merasa sangat beruntung dapat menjadi pembantu rumah tangga seorang priyayi.

Keberuntungan Pariyem dirasakan bertambah-tambah, ketika tuan mudanya menaruh minat padanya. Maka, tatkala hamil karena tuan mudanya itu, dia tak merasa risau sedikit pun. Dengan pasrah dia pulang ke dusun dan melahirkan anaknya. Kemudian, dia kembali ke rumah majikannya, dengan membawa bayinya tanpa menuntut untuk dinikahi atau menuntut hak sebagai istri yang mungkin bisa membawanya pada perubahan nasib. Dia kembali pasrah pada posisinya sebagai pembantu.

Namun, kesumarahan Pariyem tak dimiliki perempuan dusun yang lain, yang dengan kesadarannya mencoba mengubah nasibnya melawan berbagai ketidakmungkinan. Dia adalah Nyai Ontosoroh, tokoh novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer. Perempuan ini sama-sama dilahirkan di desa yang kecil dan melarat, sama-sama menjadi gundik. Namun, nasib tak menjadikannya pasrah menjalani takdirnya. Berbekal ambisi dan dendam sekaligus sedikit diuntungkan dengan sikap politik etis tuannya, Nyai Ontosoroh berhasil mengubah nasibnya menjadi seorang pengusaha partikulir yang besar.

Perempuan kita yang ketiga adalah perempuan muda, cerdas, sarjana antrropologi, dilahirkan di tengah-tengah keluarga purnawirawan berpangkat Jenderal. Tentu saja cantik dan menarik. Dia adalah Marieneti Dianwidhi, tokoh novel Burung-burung Rantau karya YB Mangunwijaya. Perempuan kelas atas yang memilih bekerja sebagai relawati bagi anak-anak jalanan yang kumuh, miskin, dan jembel.

Pemikirannya yang cerdas, berorientasi global, berpendidikan ala Barat yang sangat moderen dan sekuler, tentu saja membuatnya mengenal emansipasi, feminisme, kesetaraan gender dan sejenisnya. Namun, semua itu tak menggeser pola pemikirannya yang masih sangat menjunjung tinggi keperawanan walau pada akhirnya Marieneti punya orientasi yang mengejutkan yaitu memilih untuk tidak menikah.

Perempuan kita yang keempat adalah seorang penari, yang tentu saja jelita dan belia, yang lahir dan tumbuh dalam pesona abad millenium. Sebagai penari, perempuan kita ini telah memiliki dan memasuki pergaulan internasional. Dia adalah Cok, tokoh dalam novel Saman karya Ayu Utami, perempuan muda yang secara radikal tak henti-hentinya mempertanyakan keperempuanannya. Bahkan pertanyaan-pertanyaannya tentang keperempuanannya menjadi semacam pemberontakan dan perlawanan terhadap takdirnya yang terlahir sebagai perempuan.

Cok menggugat dominasi patriarki dalam kehidupan perempuan, khususnya dalam seksualitas. Bagi Cok, realitas seksual yang lebih menguntungkan eksistensi lelaki merupakan representasi nyata dominasi patriarki dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tajam bahkan ekstrim, ia mempertanyakan tentang virginitas atau keperawanan seorang perempuan. Bagi Cok, keperawanan justru merupakan belenggu bagi perempuan. Lewat keperawananlah, kaum patriarki justru mempunyai peluang untuk ‘menguasai’ perempuan.

Dalam memperbincangkan seks, Cok begitu bebas tanpa beban, bebas-sebebasnya seperti menari di atas bukit sembari bertelanjang tanpa persoalan. Perselingkuhan dan persenggamaan pun tidak didudukkan dalam kerangka moralitas yang hitam putih.

Berbeda dengan Marieneti yang mengagungkan keperawanan sebagai sesuatu yang suci, Cok justru menggugat bahkan mengingkari pentingnya keperawanan bagi perempuan. Baginya, sungguh tidak adil mempersoalkan keperawanan sedang di sisi lain keperjakaan bukan sesuatu yang penting bagi lelaki. Ia juga mempertanyakan bahkan meragukan lembaga perkawinan. Perlawanan Cok sampai pada puncaknya: menjebol sendiri keperawanannya.

Keempat perempuan itu memang hanya muncul dalam teks sastra kita. Mereka hadir dalam batas imajiner. Namun, sebagai citra dan tafsir perempuan Indonesia, keempat-empatnya bisa hadir sebagai sebuah realitas. Paling tidak, citra keempat perempuan tersebut bisa hadir sebagai suatu simbol perempuan Indonesia dalam kehidupan nyata.

Citra Pariyem, Nyai Ontosoroh, Marieneti, dan Cok merupakan gambaran nyata persoalan-persoalan perempuan dan emansipasi. Cita-cita emansipasi, citra perempuan, citra para ibu, telah mengalami perkembangan dan terpengaruh dengan sangat hebat dengan variabel-variabel sosial dan politik. Sosok Pariyem dan Nyai Ontosoroh mungkin masih bisa muncul di benak Kartini, namun sosok Marieneti dan Cok, barangkali mustahil pernah dibayangkan oleh Kartini.

Cita-cita emansipasi, citra ibu, ternyata telah berayun dalam suatu wilayah, bahkan labirin yang absurd. Wilayah-wilayah yang amat dipengaruhi oleh kancah sosial ekonomi, modernisasi, industrialisasi, kehidupan global, kapitalisme, pluralisme, sekulerisme, bahkan ideologi yang saling tumpang tindih dan tarik menarik. Dan di titik yang saling silang sengkarut dan tarik menarik itu, Kartini akan menatap dan bertanya, “Bagaimanakah kelak wajahmu, perempuan-perempuan Indonesia?”

*) Penyair dan guru sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *