Arswendo Atmowiloto: Menulis agar Percaya Diri

Sutejo
Ponorogo Pos

Kalau ada penulis yang merasa tidak mampu melakukan kegiatan apa pun se¬lain menulis, itulah Arswendo Atmowiloto. Sejak SMA, ia sudah mulai menulis untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Bentuk tulisannya adalah cerpen-cerpen remaja. Kemampuannya baru teruji ketika ia yang masih tinggal di sebuah kampung di Solo memenangi lomba cerpen yang diadakan salah satu koran terkemuka di Jakarta pada akhir 1960-an. Kemenangan ini dijadikannya pertanda bahwa menulis adalah jalan hidupnya. Continue reading “Arswendo Atmowiloto: Menulis agar Percaya Diri”

Pembaca-Penulis: Ruang Interpretasi Tanpa Henti

Tjahjono Widarmanto*
http://www.suarakarya-online.com/

Todorov pada abad ke-18 pernah berseru, bahwa sebuah teks adalah sebuah piknik. Seorang penulis mengkristalkan pikiran-pikiran di kepalanya, di otaknya, ke dalam wujudnya yang baru: ‘kata-kata’.

Melalui kata-kata itulah ditawarkannya pikirannya kepada pembaca yang datang dengan khazanah dalam kepala dan pikirannya. Continue reading “Pembaca-Penulis: Ruang Interpretasi Tanpa Henti”

KASUS POLITIK DALAM SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA

Maman S. Mahayana *
Surabaya Post, 24 Okt 1993

Pembicaraan mengenai sejarah kesusastraan Indonesia modern sebenarnya bukanlah sekadar berisi pemaparan mengenai sejumlah karya pengarang Indonesia berikut ulasan dan biodata pengarangnya, melainkan juga menyangkut berbagai hal yang melatarbelakanginya. Proses penciptaan, latar sosio-budaya, situasi sosial yang terjadi pada zamannya, peranan penerbit, reaksi masyarakat, dan hubungannya dengan politik pemerintah, merupakan masalah yang mestinya diungkapkan atau disinggung dalam pembicaraan sejarah kesusastraan. Continue reading “KASUS POLITIK DALAM SEJARAH KESUSASTRAAN INDONESIA”

Bersumpah untuk Bahasa

Ignas Kleden
majalah.tempointeraktif.com

ADA dua hal yang hingga saat ini masih mempersatukan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Yang satu adalah Pancasila sebagai dasar filsafat negara RI dan yang kedua bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kita tahu, Pancasila beberapa kali menghadapi cobaan, baik melalui jalan legal dalam perdebatan di Konstituante maupun melalui jalan ilegal dalam pemberontakan-pemberontakan daerah. Dalam Konstituante, muncul keinginan untuk memberi dasar negara yang lain berupa Islam dan sosial-ekonomi sebagai alternatif terhadap Pancasila. Continue reading “Bersumpah untuk Bahasa”

Bahasa »